Yuk Berburu Durian Lokal Ngropoh Temanggung, Paling Mahal Rp 85 Ribu Kelas Super

tribunnews 15-02-19 18:25 lain-lain

TRIBUNJATENG.COM, TEMANGGUNG - Tak hanya tembakau dan kopi, Kabupaten Temanggung, juga penghasil durian legit. Adalah Ngropoh, desa di Kecamatan Kranggan, sekitar 21,5 kilometer dari pusat kota, menjadi sentral durian di Kota Tembakau itu. Warga Kecamatan Bulu, Hananto Wibisono, berujar selalu menyempatkan diri berburu durian ke Ngropoh, tiap kali pulang kampung. Sehari-hari, ia memang lebih banyak berada di ibu kota, Jakarta. "Kalau pas musim durian, hampir selalu menyempatkan ke Ngropoh, bersama keluarga, kadang juga sama teman-teman," kata dia. Menurutnya, durian lokal Ngropoh punya banyak varian rasa. Ada yang manis legit, manis agak pahit, pahit, bahkan ada yang terasa sangat manis. "Kalau durian montong, rasanya kan ya begitu-gitu saja. Di sini lebih banyak varian rasa, dicoba satu-satu, biar tahu semua," tuturnya. Selain makan di tempat, tak jarang ia juga membawa pulang untuk oleh-oleh. Soal harga, menurutnya, juga cukup terjangkau. "Gak mahal-mahal amat, masih ramah di kantong," ujarnya. Seorang pengepul durian di Dusun Dukuh, Desa Ngropoh, Triyono, mengatakan, ia hanya menjual durian lokal dari desa setempat. Mulai dari durian lokal kualitas standar hingga super. "Semua durian sini, untuk kualitas premium kami istilahnya lokal super Ngropoh. Rasanya macam-macam, ada yang manis, ada manis agak pahit, cenderung pahit, ada juga yang rasanya manis banget, cocok untuk anak-anak," ucapnya. Dituturkan, harga per butir durian di Ngropoh juga cukup terjangkau. Rp 25 ribu hingga Rp 85 ribu untuk kelas super. "Gak mahal-mahal, tapi sudah bisa dapat durian rasa istimewa," tuturnya. Dikatakan lebih lanjut, sebagai pengepul, ia membeli durian langsung dari para petani di Ngropoh. Bahkan, ia mulai memesan durian dari para petani langganan sejak pohon durian berbunga. "Sistemnya kepercayaan. Jadi, saya belinya ke petani yang itu-itu juga, para petani pun kalau sudah percaya ke saya, jualnya ya ke saya saja," ucapnya. Diakui, ada sekitar 100 orang pengepul durian yang tersebar di seluruh wilayah Desa Ngropoh. Mereka pun, sudah punya langganan petani masing-masing. "Durian yang ada di saya ini berasal dari sekitar 50-100 pohon, milik beberapa petani. Kalau total populasi pohon durian di Ngropoh bisa mencapai 10 ribu batang," urainya. Rata-rata, pohon durian di Ngropoh, menurut Tri, berusia antara 10-80 tahun. Bahkan, ada beberapa pohon yang usianya diperkirakan mencapai 100 tahun. "Kan di sini murni pohon durian lokal, yang baru bisa berbuah saat pohon berusia minimal 10 tahun," ucapnya. Kendati populasi pohon yang ada mencapai sejumlah itu, panen durian tahun ini dinilai menurun cukup drastis. Menurut dia, ini lantaran pada tahun lalu musim kemarau cukup panjang, sehingga pohon durian yang rata-rata ada di kebun bertanah kering sangat kekurangan air. "Kemarau terlalu panjang, pohon kekurangan air jadi stres. Di sini sangat tergantung cuaca, hanya mengandalkan air hujan, sementara kalau mau diairi sendiri tidak memungkinkan," ujarnya. Menurutnya, dari total populasi, yang bisa menghasilkan buah cukup baik hanya sekitar 20 persen - 25 persen. "Kalau tahun kemarin, pada masa panen yang berbuah baik mencapai 50-75 persen. Jadi sekarang stocknya memang terbatas," kata dia. Karena terbatas, ia hanya melayani konsumen secara langsung. Pada musim panen tahun-tahun sebelumnya, ia juga melayani pembeli 'grosiran' untuk dijual kembali. "Sekarang buah minim, sehari paling banter bisa melayani 10 orang pembeli. Kalau kemarin-kemarin, banyak yang beli ke sini untuk dijual lagi," ucapnya. Ditambahkan, lantaran populasi pohon yang berbuah dengan kualitas baik cukup minim, tahun ini tak ada festival durian, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. "Kalau memaksakan menggelar festival, kasihan pengunjung nanti. Yang datang banyak, nanti malah tidak kebagian," imbuh Tri. Diperkirakan, pada 2019 ini musim panen durian di Ngropoh mencapai puncaknya pada awal sampai pertengahan Maret. "Akhir Maret 2019 nanti ketersediaan buah durian sudah menyusut drastis," pungkasnya. (Yayan Isro' Roziki)