Lesung yang Ditemukan di Randugunting Ternyata Bukan Sarkofagus, Melainkan . . .

tribunnews 14-02-19 19:13 nasional

TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Temuan batu berbentuk lesung di tepian sungai di sekitar situs Bantal Susun, Lembah Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu, akhirnya menemukan jawaban. Sebelumnya, warga sekitar sempat menduga batu berbentuk lesung ini sebagai sarkofagus atau atau peti batu. Namun lesung berukuran panjang luar 69 cm, lebar luar 56 cm, tinggi 40 cm, dan kedalaman cekungan 16 cm tersebut bukanlah seperti awal dugaan. Menurut Tri Subekso selaku Arkeolog dari Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikbudpora) Kabupaten Semarang, apabila dilihat dari kedalaman batunya, batu tersebut ternyata cenderung sebagai batu lumpang yang biasa ditemukan di areal Candi. "Apabila dilihat dari kedalaman batunya, batu tersebut ternyata cenderung sebagai batu lumpang yang biasa ditemukan di areal candi, bukan sarkofagus yang berasal dari masa megalithikum," ujarnya, Kamis (14/2/2019) pagi. Rekam E KTP Pemilih Pemula, Disdukcapil Kabupaten Semarang Jemput Bola ke SMK N 1 Tuntang Pernyataan tersebut disampaikannya setelah melakukan kajian tentang batu lesung. Ia menambahkan, untuk menemukan fungsinya, kita harus melihat pada sumber-sumber prasasti atau naskah kuna. Sebuah prasasti yang menyinggung tentang keberadaan lumpang dapat ditemukan pada Prasasti Rukam 829 Saka atau 907 Masehi yang berasal dari Parakan, Temanggung. Ia mengatakan, benda tersebut biasa digunakan dalam upacara penetapan sima. Penetapan sima sendiri merupakan upacara pemberian daerah perdikan oleh raja atau pejabat daerah. Peristiwa penting selalui disertai dengan upacara. Pada upacara tersebut terdapat bermacam-macam kegiatan seperti rangkaian upacara, benda-benda sajian, mantra-mantra, kutukan, atau tindakan pemimpin upacara dalam melaksanakan upacara yang berlangsung. "Benda ini biasa digunakan dalam upacara penetapan sima. Dikatakan bahwa pada saat pelaksanaan upacara penetapan sima yang dipimpin oleh sang makudur atau pendeta, hadirin baik para pejabat dan masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan, duduk mengelilingi obyek utama berupa sang hyang watu sima dan kulumpang," ujar Tri. "Selanjutnya berlangsunglah upacara sakral yang ditandai dengan pembacaan mantra, pengucapan sumpah kutuk kepada pelanggar ketetapan sima, dan penaburan abu. Dilakukan pula penyembelihan ayam yang dilandaskan pada sang hyang kulumpang, dan diakhiri dengan membantingkan telur ayam pada sang hyang watu sima," sambungnya terkait detail upacara penetapan sima. Tri menambahkan, benda berbentuk seperti lesung atau lumpang inilah yang diduga kuat mengacu pada penyebutan sang hyang kulumpang sebagaimana disebutkan dalam Prasasti Rukam. Apalagi, batu lumpang Randugunting ditemukan di areal situs patirthan kuna yang juga berdekatan dengan situs-situs periode Hindu Budha lainnya. Temuan ini berpotensi untuk menggambarkan kondisi kewilayahan di lembah Ungaran pada masa lalu. Melalui batu lumpang ini, diceritakan bahwa dahulunya kawasan Randugunting dan sekitarnya merupakan daerah sima, yaitu daerah perdikan yang diberikan raja kepada orang atau sekelompok orang yang telah berjasa atau anugerah raja untuk kepentingan suatu bangunan suci. Daerah sima tergolong istimewa karena dibebaskan dari sebagian besar pembayaran pajak. "Pada umumnya, penetapan sima diperingati dengan pendirian prasasti, namun tentu saja sangat sulit untuk menemukan prasasti tersebut di tengah permukiman padat penduduk dan bangunan industri seperti sekarang ini," pungkas Tri. (arh)