Sukarelawan Al Khadziq Akui Terima Rp 1,3 Miliar

smcetak 09-01-19 00:00 umum

JAKARTA - Machbub, salah satu sukarelawan pemenangan M Al Khadziq yang maju sebagai calon Bupati Temanggung 2018, mengaku menerima Rp 1,3 miliar dari Hakim, staf mantan anggota Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih. Machbub menyatakan Hakim mengenalkan diri sebagai staf Eni. Selain itu, Machbub menyebut Eni kerap memimpin rapat bersama para sukarelawan suaminya. Pernah (terima uang), tapi bukan Bu Eni yang memberikan, cuma lewat staf yang saya tahu dari Mas Hakim Rp 1,3 miliar, ujar Machbub saat menjadi saksi dalam persidangan dengan terdakwa Eni Maulani Saragih, terkait suap proyek PLTU Riau-1 dari Johanes Budisutrisno Kotjo di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Selasa (8/1). Uang itu digunakan untuk tim sukarelawan yang tersebar di seluruh Temanggung. Machbub mengaku mendapat Rp 10 juta untuk operasional. Saksi lainnya bernama Jumadi juga mengaku mendapat bagian Rp 10 juta. Jumadi juga mengaku sebagai sukarelawan suami Eni. Dalam sidang, Eni juga juga disebut menerima Rp 250 juta dari Presiden Direktur PT Isargas Iswan Ibrahim untuk kepentingan suaminya. Uang itu diterima Eni dalam dua tahap. Iswan mengaku mengenal Eni sebelum menjadi anggota DPR. Beliau (Eni) minta bantuan untuk memenangkan pilkada suaminya, ucap Iswan Saat itu Iswan mengiyakan permintaan Eni, tetapi menurutnya tidak terlalu serius. Sebab, Iswan merasa Eni mampu mengeluarkan biaya sendiri. Nggak serius karena saya tahu beliau mampu. Kalau minta ke saya, ya saya pikir sekadar pembicaraan saja, kata Iswan. Namun rupanya setelah itu Iswan mendapat pesan WhatsApp dari Eni tentang permintaan bantuan itu. Iswan meminta Eni mengirim orang ke kantornya. Saya perintahkan ke staf keuangan saya untuk menemui Indra (orang suruhan Eni), kalau Indra datang ke kantor dan transfer sejumlah uang. Waktu itu Rp 200 juta, sebut Iswan. Setelah memenangi pilkada. Eni pun menggelar syukuran dan kembali meminta uang pada Iswan. Ada (permintaan uang) untuk syukuran, tidak pernah minta angka, akhirnya saya kasih Rp 50 juta, ucap Iswan. Dalam perkara ini, Eni didakwa menerima suap berkaitan dengan proyek PLTU Riau-1 dari Johanes Budisutrisno Kotjo. Eni didakwa menerima gratifikasi dengan total Rp 5,6 miliar dan 40 ribu dolar Singapura. Eni sebelumnya pernah membantah bila uang dari para pengusaha itu adalah gratifikasi. Dia menyebut uang-uang itu sebagai bantuan dari pengusaha untuk rakyat di Temanggung. Mereka punya rezeki dan mungkin bahasa saya bercanda, Eh zakatnya dong kirim-kirim buat bantu orang susah, kata Eni setelah persidangan, Rabu 26 Desember 2018. Mungkin orang mengaitkan pilkada, ya silakan saja, tetapi karena Temanggung itu kampung saya, kampung suami saya, imbuh Eni. (dtc-41)