Bupati Temanggung Mundur Jadi Saksi

smcetak 03-01-19 03:50 umum

JAKARTA - Bupati Temanggung M Al Khadziq batal bersaksi untuk terdakwa korupsi Eni Maulani Saragih. Eni keberatan Khadziq yang juga suaminya bersaksi dalam persidangan. Padahal, sebelumnya Khadziq mengaku tidak keberatan disumpah sebagai saksi dalam sidang tersebut. Namun, Eni yang didakwa menerima suap dan gratifikasi terkait proyek PLTU Riau 1, mengajukan keberatan. Mantan anggota DPR dari Fraksi Golkar itu beralasan, Bupati Temanggung tersebut adalah suaminya. Kalau diizinkan, saya keberatan, Yang Mulia, karena saksi, Bapak M Al Khadziq, adalah suami saya, ujar Eni di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (2/1). Dalam KUHAP Pasal 168 dan 169, seseorang dapat mengundurkan diri menjadi saksi atau memberikan keterangan tanpa disumpah untuk keluarga/saudara/suami/istri yang didakwa dalam perbuatan pidana. Khadziq kemudian ditanya oleh hakim mengenai kesediaannya bersaksi. Karena suamiistri, disumpah atau hanya memberi keterangan? tanya hakim kepada Khadziq. Kalau disumpah, saya akan memberikan keterangan, jawab Khadziq. Khadziq mengaku sebelumnya sudah menjalani pemeriksaan di tingkat penyidikan. Dia juga menyampaikan bahwa keterangan yang disampaikannya kepada penyidik adalah benar. Sekarang, kalau diizinkan, saya tidak memberikan keterangan karena beban dalam hati, ujarnya. Walaupun Saudara mengundurkan diri, dulu Saudara pernah memberikan keterangan pada penyidik ya. Saudara penuntut umum dan Saudara penasihat hukum, karena ternyata dia sudah memberikan keterangan dan sudah disumpah, kita pending(tunda) dulu, kata hakim. Eni disebut menerima suap/gratifikasi senilai total Rp 5,6 miliar dan 40 ribu dolar Singapura. Uang itu disebut jaksa diserahkan Eni kepada Khadziq untuk keperluannya saat mencalonkan diri sebagai Bupati Temanggung dalam Pilkada Serentak 2018. Peran Ketua Fraksi Sementara itu, dalam sidang kemarin Eni Maulani menyebut nama Melchias Marcus Mekeng. Saat ini Mekeng menduduki jabatan Ketua Fraksi Partai Golkar di DPR. Hal itu berawal dari keterangan Nenie Afwani, anak buah Samin Tan yang merupakan pemilik PT Borneo Lumbung Energi & Metal. Perusahaan yang bergerak di bidang jasa pertambangan batu bara itu memiliki anak perusahaan, PTAsmin Kolaindo Tuhup (AKT), yang saat itu tengah bermasalah dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Dalam surat dakwaan terhadap Eni, PTAKT disebut memiliki permasalahan, yaitu pemutusan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B) Generasi 3 di Kalimantan Tengah dengan Kementerian ESDM. Eni disebut berperan menjembatani Samin dengan Kementerian ESDM. Hal itu diakui Nenie. Yang jelas, waktu itu kami memang ingin sekali berkomunikasi dengan ESDM karena kami dapat putusan penundaan, tapi tidak dijalankan. Kemudian Pak Samin Tan punya kenalan. Saya diperkenalkan dengan Bu Eni, ungkap Nenie saat bersaksi. Nenie juga membenarkan berita acara pemeriksaan (BAP) dirinya yang dibacakan jaksa mengenai peran Mekeng. Jaksa menyebut Nenie mengaku dikenalkan Samin kepada Eni dan Mekeng. Setelah itu, Samin dihadirkan sebagai saksi. Samin mengaku mengenal Mekeng sebagai kawan lama. Dia saat itu meminta dikenalkan kepada anggota DPR yang mengurusi pertambangan. Saya diminta ketemu beliau (Eni) di kantor Pak Mekeng. Kemudian dikenalkan dengan Bu Eni, jawab Samin. Eni belakangan dimintai tanggapan atas kesaksian itu. Dia mengaku tindakannya membantu PTAKT merupakan perintah Mekeng. Namun Eni tidak menyebut apakah ada aliran dana kepada Mekeng. Memang untuk membantu PTAKT, saya diperintah oleh ketua fraksi saya, Pak Mekeng, di Partai Golkar, ujarnya. Eni didakwa menerima suap berkaitan dengan proyek PLTU Riau-1 dari Johanes Budisutrisno Kotjo. Selain itu, dia didakwa menerima gratifikasi Rp 5,6 miliar dan 40 ribu dolar Singapura. Salah satu uang gratifikasi itu disebut jaksa KPK berasal dari kantong Samin sebesar Rp 5 miliar. Mekeng pernah dipanggil KPK dalam penyidikan. Dia mengaku hanya ditanya KPK tentang penunjukan Eni sebagai Wakil Ketua Komisi VII. Mekeng membantah menerima aliran dana. (D3-19)