Teguh Jadi Tersangka Pembakar Hutan Sindoro, Ini Penjelasan Polisi

krjogja 18-09-18 19:10 umum

TEMANGGUNG, KRJOGJA.com - Seorang petani, Teguh (43) warga Dusun Sibajag Rt 3 Rw 4 Desa Canggal Kecamatan Candiroto Temanggung ditangkap dan dijadikan tersangka perambah dan pembakar hutan lindung oleh Kepolisian Resort Temanggung. Baca Juga: Hutan Lereng Sindoro Terbakar Ia dijerat pasal berlapis yakni pasal 82 ayat 1 dan 2, pasal 83 ayat 1, UU no 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakkan Hutan, pasal 78 ayat 2, 3 dan 4 UU No 41 tahun 1999 tentang Kehutanan dengan ancaman pidana penjara 10 tahun dan denda Rp 5 miliar. Wakapolres Temanggung Kompol Sugiyatno mengatakan Kepolisian Resort Temanggung dan Polda Jateng melakukan oleh TKP di lokasi yang diduga sebagai awal mula api di gunung Sindoro. Api tersebut di petak 7b RPH Kwadungan BKPH Temanggung yang terletak di Dusun Sibajag Desa Canggal Kecamatan Candiroto. "Luasan yang terbakar di petak 7b 10,5 hektare dengan kerugian Rp 1,5 juta," katanya. Dikatakan di petak 7b tampak lokasi yang terbakar pada bagian tengah, disekitarnya terdapat indikasi aktifitas pembukaan lahan berupa pohon-pohon yang ditebang belum mengalami kebakaran. Sumber api dari tiga titik, yakni sebelah timur, sebelah tengah dan sebelah utara yang semuanya dekat dengan sungai kecil. Penyebabnya adalah tersulutnya barang-barang yang mudah terbakar seperti kayu ranting dan daun kering. Baca Juga: Kebakaran Sumbing dan Sindoro Meluas, BPBD Upayakan 'Water Bombing' Dia mengatakan kepolisian menemukan sejumlah barang di petak 7b tersebut yang setelah ditelusuri mengarah pada Teguh. Keterangan dari sejumlah saksi diantaranya istri tersangka Paini (44), tetangga tersangka Tuwuh (57), Asiono (65) dan Marsahit (69) semuanya mengarah pada Teguh. Barang bukti yang diamankan kepolisian adalah dua buah cangkul, dua buah mata kapak berikut satu gagang kapak yang terlepas dari mata kapak bekas terbakar, satu sabit, satu piring bertuliskan 'JUWAR', satu sendok bertuliskan 'NIA', selendang dan sepasang kaus tangan serta kayu akasia sejumah 30 ikat. Dikemukakan, Teguh dibantu Paini awal Agustus naik ke hutan Gunung Sindoro di petak 7b yang dikenal pula dengan Lempung Krakalan untuk membuka lahan dengan mencangkuli lahan, membersihkan alang-alang remuju dan rumput serta dijadikan satu tumpuk. Pada awal September keduanya membakar ilalang sambil terus mencangkuli lahan untuk lahan baru. "Hingga kemudian dilaporkan ada kebakaran hutan yang bermula dari petak 7b pada 7 September 2018. Petugas menangkap tersangka di rumahnya," katanya, sembari mengatakan pihaknya masih mengembangkan kasus tersebut untuk menemukan kemungkinan tersangka lain. Tersangka Teguh mengatakan bersama istrinya berencana membuka lahan baru di lereng Gunung Sindoro untuk ditanami terung Belanda dengan harapan bisa meningkatkan kesejahteraan keluarganya. " Saya tidak bermaksud membakar hutan, hanya ingin membuka lahan, tidak tahunya hutan juga terbakar," kata pria lulusan SD tersebut. Dia menyampaikan peralatan yang ditemukan kepolisian sebagian berada di hutan yang terbakar, sedangkan sebagaian lainnya diambil dari rumahnya. " Saya mengaku bersalah, kebakaran hutan itu juga terjadi beberapa hari setelah saya membakar lahan itu. Mungkin merembet," katanya. Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Temanggung Gito Wangaldi menyambut baik dengan penangkapan tersangka dan diharapkan tidak ada lagi pembakar hutan di wilayah Temanggung. (Osy)