Menikmati Lautan Awan Berserak, Menapak Sudut Pemandangan Terindah dari Puncak Gunung Sumbing

tribunnews 13-09-18 12:30 umum

TRIBUNJATENG.COM -- Sudah lama tidak menapakkan kaki ke puncak-puncak gunung Indonesia. Sudah lama juga tidak merasakan desiran angin di ketinggian, denyut nafas berpacu kencang dan doa sepanjang jalan untuk menguatkan langkah. Memang sudah setahun lebih rasanya tidak menyapa alam pegunungan. Biasanya, peringatan HUT RI selalu kuhabiskan di alam, entah di lautan atau di ketinggian, dan kali ini dipilihkan gunung Sumbing, bareng sama teman-teman pendaki dan beberapa teman baru dari berbagai daerah. Gunung Sumbing memiliki ketinggian 3.371 mdpl dan merupakan gunung tertinggi ketiga di pulau Jawa, setelah gunung Semeru (3.676 mdpl) dan Gunung Selamet (3.428 mdpl). Terletak di tiga kabupaten, Temanggung, Magelang, dan Wonososbo. Karena itu, pendakian ke puncak Gunung Sumbing bisa melalui beberapa akses, yaitu jalur Garung di Wonosobo, jalur Mangli di Magelang, Jalur Cepit Parakan di Temanggung, jalur Bowongso di Wonosobo dan jalur Butuh Kaliangkrik di Magelang. Pastinya kami memilih jalur paling mudah dan paling indah, yang menurut review adalah jalur Butuh Kaliangkrik di Magelang. googletag.cmd.push(function() { googletag.display('div-Inside-MediumRectangle'); }); Rombongan kami ada yang dari Jakarta, Tangerang, Brebes dan saya dari Surabaya, maka dipilihlah meeting point di Yogyakarta. Total kami bertiga belas jumlahnya. Pagi hari di tanggal 17 Agustus 2018, kami tiba di Basecamp Symphony di Desa Butuh. Sarapan dan minum teh hangat sambil berkenalan satu sama lain. Tak lama, kami membongkar tas dan repacking, memilih dan memilah semua barang, perlengkapan pribadi dan kelompok yang harus dibawa dan apa yang bisa dititipkan di Basecamp. Kemudian membagi beban bawaan sesuai kemampuan masing-masing. Foto bersama di Gerbang bertuliskan Jalur Sejati Gunung Sumbing, dan ready to go.... var unruly = window.unruly || {};unruly.native = unruly.native || {};unruly.native.siteId = 1082418; Sejak dari Basecamp menuju Pos I, jalanan masih berupa batuan makadam, dengan salah satu sisinya berupa tangga yang tertata dari bebatuan. Langit sudah mulai terik, namun perjalanan menuju Pos I ini cukup panjang dan cukup terjal tanpa bonus. Menyeleraskan nafas dan tubuh, dan sambil tersenyum menyapa penduduk yang lewat dengan membawa tumpukan rumput untuk makanan ternak. Kisaran waktu 2 jam kami habiskan untuk pemanasan di rute pertama ini. Pada Jalur Sejati, Pos I atau Camp Si Rebut (2.122 mpdl) adalah satu-satunya sumber air yang ada di jalur pendakian ini, sehingga penuhilah kebutuhan air untuk minum dan memasak di sini. Konon ada sungai di jalur atas, namun cenderung kering dan tidak ada air ketika bukan musim hujan. Jalur dari Pos I ke Pos II tidak kalah panjangnya. Rute masih terus menanjak dengan dominasi bebatuan berpadu dengan akar kayu yang menjalar dari kiri kanan jalan. Butuh kisaran 2 jam juga untuk mencapai Pos II atau Camp Si Kretek. Pos II ke Pos III adalah jalur paling menyenangkan, karena rutenya memutar bukit dan banyak bonusnya,jalanan cenderung datar. Lumayan untuk tarik nafas panjang. Dan tibalah kita di Pos III atau Camp Symphony. Target kita adalah campng / mendirikan tenda di Pos IV, tapi hari sudah sore, dengan kondisi teman-teman cukup lelah. Menurut review, jalur Pos III menuju ke Pos IV merupakan jalur yang lumayan mantab beratnya, sehingga menjadi pertimbangan juga buat kami semua. Akhirnya kami memutuskan untuk camping di Pos III saja dan segera beristirahat. Konsekuensinya, esok pagi, kita harus bangun lebih pagi untuk bisa mengejar matahari terbit. Karena masih harus melewati Pos IV dan lanjut menuju Puncak Sejati. Menghirup nafas panjang di Pos III sambil menikmati lautan awan yang sudah mulai menyelimuti sekeliling. Banyak tenda didirikan di sekitaran kami. Setelah mendirikan tenda, kami segera mengganti baju yang basah kena keringat selama perjalanan, untuk menghindari masuk angin. Setelah ganti baju kering ditambah jaket hangat persiapan malam, mulailah berkreasi dengan bahan masakan yang kami bawa. Pak Beny dan saya mulai menyiapkan sajian minuman hangat. Bu Herni mulai menyiapkan makanan berat dan sehat. Taraaaa... jadilah kita makan malam dengan sup ayam berisi sayuran segar, plus sarden, tahu tempe goreng dan ada ote-ote (bala-bala/bakwan). Semuanya fresh dimasak di gunung. Istimewa bukan. Tidak lama, pukul 8 malam kami sudah mulai menyiapkan diri untuk istirahat. Nge-charge energi di badan, agar fit saat bangun esok pagi. Pukul 2 dini hari, kami sudah dibangunkan. Mas Bram sudah menyiapkan minuman hangat berupa sereal untuk mengisi energi pagi ini sebelum melanjutkan perjalanan. Kisaran pukul 3 dini hari kami memulai pendakian kembali. Memastikan senter sudah dibawa dan bebarapa bekal selama perjalanan, terutama air. Tenda dan seluruh perlengkapan memasak kami biarkan di Pos III saja. Lumayan mengurangi beban selama perjalanan. Merasakan perjalanan menuju pos IV merupakan sensasi paling berat. Dengan banyak bebatuan besar di kiri-kanan jalan dan tanjakan cukup tajam. Harus mengolah nafas lebih baik lagi, sementara oksigen di ketinggian semakin menipis. Kerja sama antar team sangat dibutuhkan. Berkejaran dengan matahari, kami masih terus menapak sampai akhirnya tiba di Pos IV. Semburat oranye yang mengenai savana rumput kering di Pos IV menjadi momen yangsangat cantik sekali. Menurut review, sudut best viewGunung Sumbing adalah Pos IV ini. Jadi sedikit berlama-lama untuk istirahat dan foto-foto. Ada sedikit rasa enggan untuk melanjutkan menuju Puncak, namun selalu Si Bram menjadi salah satu kompor yang menjadi penyemangat untuk mengintip keindahan dari Puncak. Perjuangan mendaki melewati savana terjal dengan dominasi jalur berupa pasir. Saat inilah, kami mulai terpencar, ada yang sudah jauh di depan, ada yang masih jauh di belakang. Kami menyesuaikan kemampuan masing-masing, meskipun dijaga untuk selalu dalam kelompok. Sebelum sampai di Puncak sejati, ada puncak kecil dengan nama Puncak Selo Konten. Sampai di sana, pemandangan sudah sangat indah, dengan 3 gunung terpampang di depan. Tidak jauh dari sana, tampak menjulang Puncak Sejati. Perjuangan terakhir, menguatkan nafas dan langkah untuk tiba di Puncak Sejati Gunung Sumbing 3.371 mdpl. Akhirnya kisaran pukul delapan pagi di tanggal 18 Agustus 2018, kami tiba di Puncak. Rasa bahagia dan haru selalu menyelimuti saat tiba di Puncak. Dari sinilah, 360 derajat kita akan melihat pemandangan alam yang luar biasa. Puncak-puncak gunung tampak menghiasi lautan awan di depan mata kita. Gunung Merbabu, Sindoro, Prau, Slamet, lawu, Ungaran, Telomoyo, hingga Andong. Salah satu hal istimewa yang dibawa Bram muncak adalah semangka. Satu buah utuh disiapkan diransel kecil, dan setibanya di puncak, selalu dibagi rata untuk kami semua. Segarnya luar biasa. Selanjutnya, Bram akan menyiapkan kompor dan membuatkan kopi. Ngopi paling nikmat adalah di puncak gunung, sambil ngobrol, sambil menikmati pemandangan yang luar biasa indahnya. Alam ini adalah guru yang paling berharga, kita bisa banyak belajar darinya. Dan di puncak gunung inilah, membuat kami selalu merasa kecil di hadapan-Nya dan selalu merasa bersyukur dengan apa yang ada. (*) FIFIN MAIDARINA Citizen Journalism