Menangkal Radikalisme melalui Gerakan Literasi Sekolah

radarsemarang 09-06-18 16:00 properti

RADARSEMARANG.COM GERAKAN literasi sekolah bukanlah suatu terobosan dalam dunia pendidikan di negara tercinta ini yang tiada bermakna dan tanpa ada faedahnya serta tanpa tujuan mulia. Faktanya, sebagian besar orang Indonesia, tidak suka membaca. Ini tidak bisa kita elak lagi. Lihat saja apa yang orang-orang lakukan pada saat menunggu atau antre di manapun dan oleh siapapun. Mulai dari masyarakat kelas bawah sampai kaum elitetidak terkecuali siswa SMA/SMKbisa dihitung dengan jari, jika kita menemukan pemandangan orang yang sedang membaca. Mereka justru disibukkan dengan obrolan atau asyik bersosial media melalui gadget. Salah satu tujuan gerakan literasi sekolah adalah menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik. Nah, sekarang muncul lagi isuisu terorisme, terkait paham radikal. Anak-anak muda mudah terpengaruh. Ada apa sebenarnya dengan pendidikan kita? Sebenarnya sama sekali tidak ada yang salah dengan pendidikan kita. Kurikulum yang telah diramu dengan sedemikian rupa, telah mencakup pendidikan budi pekerti, pendidikan karakter, juga pendidikan agama. Jadi, apa yang salah? Dalam kasus ini, tidak ada gunanya jika kita mencari kambing hitamnya. Apalagi mengkambinghitamkan dunia pendidikan. Upaya pencegahan itulah yang menjadi sangat krusial. Salah satu upayanya melalui gerakan literasi sekolah. Gerakan literasi sekolah diimplementasikan melalui kegiatan membaca selama 15 menit, sebelum pelajaran dimulai. Jangan pernah beranggapan bahwa gerakan ini sepele dan hanya membuang waktu percuma. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015, membaca buku non teks pelajaran, merupakan salah satu cara untuk menumbuhkan budi pekerti. Karena buku-buku tersebut, merupakan sarana efektif untuk mengajarkan nilai moral tanpa menggurui. Mengapa hanya 15 menit? Kegiatan membaca dalam waktu pendeknamun sering dan berkalaterbukti lebih efektif daripada membaca lebih lama. Kegiatan yang dilakukan secara ajeg dan sering, justru mampu menumbuhkan kebiasaan membaca. Untuk itu, mari kita coba kegiatan membaca 15 menit secara ajeg ini sebagai salah satu upaya untuk menangkal radikalisme yang masih ada dan akan terus ada di Tanah Air ini. Upaya kita hanya bisa mengurangi dan menangkal agar tidak tumbuh subur di kalangan pemuda. Maka, akan menjadi sangat efektif jika upaya penangkalan radikalisme, dimulai sejak anak usia sekolah (usia SMA/SMK). Jangan sampai otak mereka dikuras, dikosongkan, lantas diisi dengan doktrin-doktrin radikalisme. Bagaimana gerakan literasi sekolah dapat dijadikan langkah efektif untuk menangkal radikalisme siswa? Menyediakan buku-buku nonpelajaran yang ringan untuk dibaca, pengetahuan, dan pesan moral yang bermakna. Tentu bacaan-bacaan yang demikian, telah diseleksi secara tuntas oleh guru dan dinyatakan aman untuk dibaca siswa. Misalnya, dengan menyediakan buku-buku yang mengajarkan cinta damai, dalam kaitannya dengan agama dan bermasyarakat. Meski gerakan literasi tidak menuntut adanya tugas yang bersifat rutin. Hanya saja, langkah efektifnya dalam rangka menangkal paham radikalisme, perlu tindak lanjut kegiatan. Semisal, siswa diminta untuk bercerita dengan bahasa mereka sendiri. Dengan demikian, guru bisa menilai pemahaman mereka tentang konten buku serta sejauh mana mereka dapat menerima pesan tersebut. Lantas, secara berkala, digelar diskusi yang dipandu oleh siswa sendiri dan guru sebagai narasumber untuk memberikan pencerahan dari perdebatan tentang isu-isu terkini. Selanjutnya, dilakukan bedah buku yang sarat pesan moral serta pengetahuan tentang keagamaan yang damai dengan mengadirkan narasumber di bidangnya. Pada kegiatan ini, berilah siswa ruang untuk bertanya jawab, karena pertanyaan dan pendapat siswa akan sangat menggelitik dan sebagai tolok ukur pemahaman keagamaan mereka. (*/isk) Guru SMK N 2 Temanggung