Grebeg Makukuhan Sambut Ramadan

radarsemarang 15-05-18 10:09 otomotif

RADARSEMARANG.COM, TEMANGGUNG Masyarakat Desa Kedu Kecamatan Kedu menggelar jelajah wisata budaya religi dan grebeg Makukuhan Minggu kemarin (13/5). Tradisi ini untuk menyambut bulan Ramadan 1439 Hijriyah. Acara berlangsung meriah disaksikan puluhan ribu penonton. Jelajah wisata grebeg Makukuhan ditandai dengan kirab mengarak gunungan hasil tani. Isi gunungan merupakan simbol yang memiliki beberapa makna. Antara lain tembakau, padi jenis rojolele yang konon benihnya dibawa oleh Ki Ageng Makukuhan masuk ke wilayah Kedu saat menyebarkan agama Islam pada abad ke-18. Selain itu, diarak simbol ayam Kedu hitam dan putih, kucing Condromowo, serta perkutut hitam dan putih yang menjadi klangenan Ki Ageng semasa hidup. Kirab diawali pasukan pleton inti SMK Ganesha Kedu yang membawa bendera merah putih sebagai simbol rasa nasionalisme masyarakat terhadap bumi pertiwi. Di samping itu dimeriahkan drum band dan pawai perwakilan masyarakat dari masing-masing RT se-Desa Kedu yang menampilkan berbagai atraksi. Di antaranya replika harimau, ikan lele berduri, kambing, sapi dan lain sebagainya. Kirab dimulai dari halaman SMK Ganesha Kedu melewati jalan raya ke timur dan finis di panggung kehormatan komplek makam Ki Ageng Makukuhan. Berbagai gunungan yang dibawa kemudian diperebutkan oleh para pengunjungb setelah sebelumnya didoakan doa untuk keselamatan bersama. Camat Kedu Agus Sri Sudaryanto menjelaskan petilasan makam Ki ageng Makukuhan merupakan aset yang layak dikembangkan menjadi objek wisata religi seperti makam Walisongo. Kecamatan Kedu juga memiliki potensi budaya berupa wayang kedu dan berbagai kesenian tradisional serta ayam cemani . Oleh karena itu melalui jelajah wisata budaya dan grebeg Makukuhan diharapkan aset makam ki ageng Makukuhan bisa berkembang menjadi objek wisata religi unggulan, tandasnya. Suhardono salah seorang pengunjung dari Jogjakarta menuturkan dirinya bersama keluarga menyempatkan diri untuk menyaksikan grebeg Makukuhan sambil berwisata. Ia merasa terkesan dengan penyelenggaraan grebeg Makukuhan. Diharapkan acara tersebut bisa dikembangkan di masa-masa mendatang sebagai wahana untuk melestarikan budaya warisan nenek moyang yang adiluhung bernuansa religi. (lis)