Menelusuri Jejak Terduga Teroris yang Tewas di Tuban, Jatim

radarsemarang 10-04-17 08:05 teknologi

Empat dari enam terduga teroris yang ditembak mati petugas Polda Jatim dan Densus 88 Antiteror Mabes Polri saat terjadi baku tembak di perkebunan Desa Siwalan, Jenu, Tuban Jatim, Sabtu (8/4) lalu, tercatat sebagai warga Jateng. Mereka berasal dari Batang, Semarang dan Kendal. Berikut penelusurannya. LUTFI HANAFI, Batang MURINI, warga Desa Rejosari Barat RT 5 RW 2 Kecamatan Tersono, Kabupaten Batang tampak shock, dan masih tidak percaya anak keduanya, Endar Prasetyo, tewas dalam baku tembak di kebun jagung di Tuban. Ia masih terus-terusan menangis mengingat putra kesayangannya tersebut. Ia mengaku, sebelum dikabarkan tewas, putranya itu pamit pergi bekerja sebagai sopir. Dia pamit kerja Kamis (6/4) lalu. Saat itu, Endar tidak pesan apa-apa. Dia cuma bilang pamit mau nyetir sama rombongan ke Jawa Timur, ujar Murini sambil terisak saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di rumah anaknya, Minggu (9/4). Tak heran, ia langsung shock dan tidak percaya saat dikabari putranya itu tewas ditembak Tim Densus 88 Antiteror di Tuban karena diduga sebagai pelaku terorisme. Dia mengaku mendapat kabar tersebut dari aparat desa dan Polsek Tersono. Kemarin (Sabtu), Pak Carik (Sekretaris Desa) sama polisi datang, mengabarkan anak saya meninggal, ucap ibu empat anak ini dengan mata sembab. Murini sendiri masih tak percaya anaknya sebagai teroris. Sebab, selama ini perilakunya baik. Dan sehari-hari hanya bekerja sebagai sopir. Anak saya orangnya tidak aneh-aneh. Kerja jadi sopir juga tidak pernah pergi lama. Normal sehari dua hari pergi, kemudian pulang, jelasnya. Dikatakan, setelah lulus di SMA swasta di Batang, anaknya langsung bekerja menjadi sopir rental mobil. Setiap pergi juga tidak pernah lama, hanya sehari dua hari saja. Perilakunya di kampung juga tidak mencurigakan. Ia berharap, jenazah putranya itu segera dipulangkan, sehingga bisa segera dimakamkan. Setelah kepergian anaknya tersebut, praktis rumah yang ditinggali kini kosong. Sebab, selama ini Endar tinggal sendirian di rumah tersebut. Sedangkan ia tinggal bersama putra pertamanya yang juga tercatat sebagai korban, yakni Adi Handoko. Adi sendiri sudah meninggal dua tahun lalu akibat sakit. Anak saya yang pertama, Adi, sudah meninggal dua tahun lalu karena sakit. Mungkin KTP-nya masih dibawa adiknya terus, jelasnya. Terduga teroris lainnya, Yudistira Rostriprayogi, 19, warga Desa Cepokomulyo RT 01 RW 06 Kecamatan Gemuh, Kendal. Selama ini, Yudistira juga dikenal sebagai sosok yang ramah dan mudah bergaul. Para tetangganya pun tidak yang menyangka jika Yudistira diduga terlibat jaringan terorisme. Zulfa, istri Yudistira mengatakan, jika dirinya belum mendapatkan kabar yang pasti akan kematian suaminya. Ia mengaku tidak mengetahui kegiatan suaminya. Setahu saya, suami saya pamit untuk seminar di Malang, Jawa Timur, kata perempuan bercadar hitam ini. Yudistira dan istrinya selama ini tinggal bersama di rumah orang tuanya di Desa Cepokomulyo. Saat didatangi rumah tersebut tampak sepi. Belum dapat kabar apa-apa dari polisi atau pihak desa. Tapi tadi (kemarin, Red) sudah ada yang tanya temannya ibu, tapi kurang jelas juga, akunya. Dikatakan, suaminya berangkat sendiri sejak Kamis (6/4) lalu, dan komunikasi terakhir Jumat malam. Pamitnya akan ikut seminar di Malang selama sebulan, imbuh Zulfa. Yudistira dikenal warga sekitar sebagai guru mengaji di Pondok Pesantren Baitul Ihsan Batang. Sebagai ustad, ia juga kerap diundang oleh warga untuk mengisi ceramah pada pengajian umum. Keluarga Yudistira tergolong berpendidikan. Ayahnya, Tri Widodo, seorang guru SD di Desa Purworejo, Kecamatan Ringinsari. Sedangkan ibunya, Rusminah, membuka praktik sebagai bidan di rumahnya. Tri Widodo, mengatakan, anaknya merupakan lulusan dari pondok pesantren. Sejak SMP hingga SMA, Yudistira menghabiskan waktunya untuk belajar ngaji di pondok. Setelah lulus 2016, langsung menikah dengan Zulfa, 21. Saat SMP, anak saya mondok Pondok As-Salam Temanggung, kemudian SMA di pondok penghafal Alquran di Salatiga, kata Widodo. Setelah menikah, Yudistira bersama istrinya bekerja sebagai pengajar di Pondok Pesantren Baitul Ihsan Batang. Keduanya juga tinggal di lingkungan pondok pesantren tersebut. Pulang biasanya pada hari Jumat, dan kembali ke pondok Senin pagi, ujarnya. Ditambahkannya, Yudistira juga aktif mengisi ceramah agama di sejumlah tempat. Ajarannya juga lebih pada tata cara membaca Alquran dengan baik dan benar. Kesibukan lain, tutur Widodo, anaknya itu melakukan jual-beli laptop. Anak saya itu pendiam tapi aktif. Dia juga senang ikut acara seminar, jelasnya. Terduga teroris lainnya, Satria Aditama, 18, warga Jalan Taman Karonsih II/1130 RT 05 RW 04, Ngaliyan diketahui merupakan alumni SMK Negeri 4 Semarang. Putra bungsu pasangan Wagito dan Cici Murdiati tersebut baru lulus pada Mei 2016 lalu. Ia dikenal pemuda yang pintar dan taat agama. Ketua RT 05 RW 04, Chandra Satya Nugroho, mengaku terkejut mendengar adanya informasi yang menyebutkan tetangganya tersebut tertembak mati saat insiden baku tembak di Tuban. Menurut Chandra, Satria Aditama dikenal sebagai sosok yang baik dan tidak neko-neko. Mas Adit itu baik, anaknya pinter. Tipenya pendiam, tapi aktif kegiatan bakti sosial di masyarakat. Dia suka mengaji, ujarnya. Informasi yang diperolehnya, setelah lulus SMK, Adit pernah bekerja di daerah Tembalang. Chandra juga mengakui sudah 6 bulan terakhir anak bungsu pasangan Cici Murdiati dan almarhum Wagito ini sudah mulai terlihat mengalami perbedaan. Satria terlihat kurang aktif mengikuti pergaulan di masjid. Bahkan, selama 4 bulan terakhir Chandra tidak melihat keberadaan Satria. Belakangan ini sudah tidak melihat dia. Terakhir ketemu pas lewat ya masih menyapa monggo pak. Cuma lupa kapan. Sekarang di rumah hanya ada ibu dan kakaknya yang nomor 3 dan 4. Kalau Satria anak nomor lima atau anak terakhir. Bapaknya sudah meninggal kurang lebih dua tahun lalu, terangnya. Diakui, setelah mendapat kabar kejadian tersebut, ibunya langsung shock. Tadi saya berupaya menemui Bu Cici. Tapi hanya ketemu anaknya, Mbak Indah. Ia menyampaikan kalau ibunya masih sakit setelah adanya kejadian ini. Kemudian saya pulang lagi, sampai sekarang belum ketemu, katanya. Pasca kejadian baku tembak, Sabtu (8/4) kemarin, rumah orang tua Satria yang berpagar hitam sempat digeledah aparat kepolisian. Penggeledahan dilakukan Sabtu sekitar pukul 22.00 hingga Minggu (9/4) sekitar pukul 04.00. Polisi yang datang berpakaian preman. Saya sempat diminta mendampingi mengantarkan ke rumah Bu Cici, kata Chandra. Chandra mengakui, sampai sejauh ini belum mendapat kabar terkait pemulangan jenazah Satria. Namun demikian, pihaknya bersama warga menjamin akan menerima kepulangan jenazah warganya itu untuk dimakamkan. Saya bersama warga sini tetap menerima. Apa pun orang meninggal itu harus dimakamkan. Saya yakin, Adit itu hanya korban saja. Tapi sampai sekarang ini saya belum mendapat keterangan resmi dari yang berwajib, ujarnya. (dilengkapi m hariyanto dan budi setyawan/aro/ce1)