Sistem Logistik Pangan Masih Belum Optimal

radarsemarang 16-10-17 13:30 nasional

SEMARANG Sistem logistik pangan Indonesia dinilai masih belum optimal. Padahal hal tersebut sangat berpengaruh pada ketahanan pangan. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah bersama stakeholder terkait berupaya mengatasi hal tersebut dengan melakukan pengendalian inflasi. Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi, KPwBI Provinsi Jateng, Rahmat Dwisaputra mengatakan, ketahanan pangan menjadi bagian dari permasalahan sosial ekonomi. Apabila tidak tertangani dengan baik akan semakin membebani tingkat kemiskinan masyarakat yang mana berdasarkan Data Kemiskinan Provinsi Jawa Tengah di bulan Maret 2017 menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin masih sebanyak 4,45 juta orang (13,01 persen). Persistensi tingkat kemiskinan di Jawa Tengah tersebut dikontribusikan oleh peranan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan yang jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan. Hal tersebut memberikan indikasi bahwa salah satu upaya mengurangi tingkat kemiskinan di Jawa Tengah melalui ketahanan pangan, ujarnya, kemarin. Stabilitas harga pangan menjadi salah satu faktor kunci keberhasilan dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional. Kestabilan harga pangan sangat ditentukan oleh sistem logistik yang bukan hanya berfungsi untuk penyimpanan dan distribusi hasil pertanian, tetapi juga berfungsi untuk mempertahankan kualitas hasil pertanian hingga sampai ke konsumen. Fakta yang ada saat ini menunjukkan sistem logistik pangan Indonesia masih belum optimal. Terlihat dari biaya logistik pada rantai pasok hortikultura berkisar 20-30 persen dari harga pokok penjualan, ujarnya. Hal tersebut disebabkan akibat tidak efisiennya aktivitas logistik yang terjadi pada rantai pasok pangan. Dalam menangani permasalahan tersebut, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah berpartisipasi aktif untuk memberikan solusi. Salah satunya dalam bentuk kerjasama Bank Indonesia dengan stakeholder terkait untuk melakukan pengendalian inflasi. Sebagai bentuk upaya menjaga suplai barang, pihaknya berinisiasi memberikan bantuan teknologi dengan memanfaatkan ozon untuk menjaga komoditas pasca panen baik dalam hal kualitas maupun kuantitas. Dengan memanfaatkan ozon, harga komoditas tidak terpuruk pada saat musim panen tiba yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani,ujarnya. Selain itu, diadakan juga Program Pengembangan UMKM dalam rangka pengendalian inflasi dan peningkatan kapasitas ekonomi secara berkesinambungan. Beberapa program ketahanan pangan yang diinisiasi Bank Indonesia di wilayah Jawa Tengah antara lain klaster sapi perah terintegrasi hortikultura di Kabupaten Magelang, klaster cabai terintegrasi sapi potong di Kabupaten Blora, klaster jagung terintegrasi peternakan di Kabupaten Grobogan, serta klaster bawang putih di Kabupaten Temanggung dan Magelang. (dna/zal)

Berita Terkait