Petani alpukat di Kudus dilatih membuat pestisida organik

antarajateng 10-08-22 10:30 ekonomi

Kudus (ANTARA) - Petani alpukat di Desa Ternadi, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mendapatkan edukasi dan bimbingan teknik pembuatan dan penggunaan biopestisida atau obat alami pembasmi hama dari Balai Penelitian Lingkungan Pertanian, Selasa. Kegiatan yang digelar di Balai Desa Ternadi tersebut, merupakan hasil kerja sama antara Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Kawasan Muria dengan Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) Kementerian Pertanian RI di Pati. Menurut Kepala Balingtan Kementerian Pertanian Pati Wahida Annisa Yusuf di Kudus, pelatihan pembuatan biopestisida ini menggunakan bahan baku lokal, sehingga petani tidak perlu mendatangkannya dari daerah lain. Dengan penggunaan pestisida alami, diharapkan buahnya juga lebih menyehatkan karena meniadakan bahan kimia. "Sudah saatnya para petani juga ikut mementingkan kesehatan hasil buah panennya. Sehingga tidak melulu tentang kuantitas panen, melainkan kualitas buah panennya," ujarnya. Salah satunya, kata dia, dengan menggunakan biopestisida sebagai alternatif paling aman untuk mewujudkan pertanian organik, karena pestisida organik ini nyaris tidak menimbulkan dampak bagi konsumen maupun lingkungan. Ia mengakui penggunaan pestisida sintetik memang hasilnya bisa diketahui secara cepat, namun dengan biopestisida dalam jangka panjang akan sangat baik untuk tanaman maupun petani. Untuk itulah, kata dia, pihaknya rutin menyosialisasikan pentingnya penggunaan obat alami pembasmi hama, dengan memberikan pelatihan dan pendampingan terkait cara pembuatan biopestisida yang murah dengan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar. Bahan-bahan yang bisa digunakan untuk membuat biopestisida, yakni dari daun gamal, biji atau daun nimba, biji atau daun mahoni, kunyit, urin sapi, asap cair dan air. "Ketika masyarakat mendapatkan edukasi dan kemampuan membuat sendiri biopestisida, lambat laun pengguna biopestisida akan semakin banyak karena petani akan beralih secara perlahan begitu melihat petani lain berhasil," ujarnya. Sementara itu, Ketua Forum DAS Muria Hendy Hendro menyatakan komitmennya untuk merehabilitasi lahan dan juga melakukan konservasi bibit buah unggul khas kawasan aliran Sungai Muria. "Kami juga melakukan perjanjian kerja sama dengan Balingtan terkait pengelolaan, rehabilitasi dan konservasi untuk lahan, tanah, air, dan plasma nutfah," ujarnya. Baca juga: Petani Temanggung panen perdana buah alpukat Baca juga: Dua Mahasiswa Ini Olah Alpukat Jadi Permen Antioksidan Baca juga: Makan alpukat setiap hari bagus untuk usus