Tembakaunya Gagal Panen dan Rugi Sampai 600 Juta, Petani Kendal Duga Itu Akibat Debu Proyek Tol

tribunnews 25-08-17 13:11 nasional

Laporan wartawan Tribun Jateng, Dhian Adi Putranto TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Warsi, Petani tembakau asal dusun Wungurejo desa Ringinarum, Kendal mengkerutkan dahi. Pasalnya tembakau yang sudah siap umurnya untuk dipanen namun gagal untuk dipanen. Tanamannya tidak dapat tumbuh sempurna. Tembakaunya tumbuh menjadi kerdil, daunnya pun menggulung. googletag.cmd.push(function() { googletag.display('div-Inside-MediumRectangle'); }); "Biasanya sampai segini tingginya," paparnya kepada Tribun Jateng sambil menunjukan tinggi tanaman tembakau sekitar 100 cm dengan tangannya. Hampir semuaa tanaman tembakaunya tidak dapat ia panen. Ia mencoba mengais-ngais dedaunan yang masih dapatdigunakan. "Ya Rugi, daunnya tidak dapat dipakai semua," katanya. Begitu halnya dengan Sugito. Parahnya, tanaman tembakau Sugito gagal panen semua. Bahkan ada yang sudah mati sebelum sempat tumbuh. Ia menjelaskan itu terjadi karean debu pembangunan tol Semarang-Batang. Tanaman Warsi dan Sugito tertutup oleh debu pembangunan sehingga tidak dapat tumbuh sempurna. Ladang Sugito berjarak tidak lebih dari 25 meter dari proyek jalan tol yang panjangnya sampai 74 km itu. Sugito pun menunjukan kepada Tribun Jateng betapa tebalnya debu yang menempel di daun tembakaunya. "Total ladang milik petani Wungurejo yang gagal panen sekitar 10 Hektar. Ini penyebabnya debu dari proyek pembangunan jalan tol," jelasnya kepada Tribun Jateng. Sugito pun menyebutkan total kerugian yang dialami oleh petani mencapai 600 juta. "Kemarin Pedagang asal Temanggung saja kesini langsung menolak tanaman tembakau kami, berapa pun harganya dia tetap tidak mau membeli tembakau kami," paparnya. Ia pun pernah berusaha untuk melakukan penyiraman kepada tanaman tembakaunya untuk menghilangkan debu yang menempel, namun itu sia-sia. Karena aktifitas pembangunan proyek jalan tol tersebut bekerja sampai malam. "Ya kalau sehabis disiram, debunya nempel lagi. Soalnya pembangunannya kadang sampai jam 11 atau jam 12 malam, magrib pun juga tidak berhenti berkerja," paparnya. Ia berharap agar pemerintah memperhatikan nasib pertani tembakau yang terkena dampak debu pembangunan jalan tol, karena ini merupakan mata pencaharian mereka. Sehingga ini dapat merugikan mereka. "Ada petani yang sampai berganti dari menanam tembakau, diganti tanaman jagung. Namun Jagungnya pun tidak dapat tumbuh sempurna. Jadi bisa rugi dua kali petani itu," pungkasnya. (*)