Ini Dampak Psikologi atas Perundungan Terhadap Anak-Anak

magelangekspres 26-10-21 12:45 nasional

TEMANGGUNG, MAGELANGEKSPRES.COM Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Temanggung, Agus Sujarwo meminta agar siswa khususnya siswa SMP peserta Program Roots Indonesia, bisa menjadi agen-agen perubahan. Tidak hanya di sekolah tetapi agen perubahan di lingkungan anak-anak tinggal agar anak-anak menjadi agen perubahan penguatan karakter di negara Republik Indonesia. Tidak hanya itu, Agus juga meminta terus mengajak teman-teman yang lain agar menjauhi yang namanya perundungan. Pasalnya perundungan akan berdampak pada psikologi anak atau siswa. Permintan tersebut disampaikan, pada penutupan program roots Indonesia untuk pencegahan perundungan dan kekerasan terhadap siswa dan kegiaran roots day di SMPN 2 Temanggung, Senin (25/10). Dengan tegas Agus juga berpesan, para siswa khususnya peserta Program Roots Indonesia untuk pencegahan perundungan dan kekerasan agar berani melaporkan perbuatan perundungan kepada guru atau kepala sekolah. Jangan takut menyampaikan kepada guru, kepala sekolah atau teman lain agar perundungan di sekolah tidak terjadi. Jangan takut untuk memberikan eduksi kepada teman-teman sekiranya melihat terjadi proses perundungan, pintanya. Agus berharap mudah-mudahan apa yang diterima anak-anak di dalam kegiatan antiperundungan ini tidak hanya berhenti di sini, tetapi terus dikembangkan, terus mengajak teman-teman yang lain agar menjauhi yang namanya perundungan.Kami titip supaya anak-anak bisa berkembang, baik kepribadiannya, karakternya, dan prestasinya, pesannya. Program Roots Indonesia untuk pencegahan perundungan dan kekerasan di Kabupaten Temanggung dilaksankan di SMPN 2 Temanggung, SMPN 1 Jumo, SMPN 1 Tlogomulyo, SMP Krisna Citra Parakan, dan SMP PGRI Candiroto. Sejumlah sekolah tersebut menjadi sekolah penggerak pertama tingkat Kabupaten Temanggung, salah satu program dari kegiatan tersebut adalah bantuan perintah antiperundungan. Kepala SMPN 2 Temanggung Pasir mengatakan kegiatan ini dilaksanakan selama 1 bulan dalam 10 kali pertemuan dengan dibimbing oleh fasilitator daerah dari para guru yang sudah mendapatkan pelatihan dari fasilitator tingkat nasional. Pasir menyebutkan enam profil pelajar Pancasila, yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis dan kreatif. Pasir berharap, dari kegiatan ini terbentuk profil pelajar Pancasila. Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. (set)