115 Hari Jalan Kaki dari Aceh karena Ditipu, Pemuda Semarang Gemetar Lihat Harimau di Jalan

tribunnews 20-10-21 15:04 umum

TRIBUNJATENG.COM, CIANJUR - Muhamad Dimas Ramadan (27) memtuskan untuk segera pulang. Sebenarnya ia dipersilakan istirahat lebih dahulu. Namun warga Semarang ini sudah tak sabar bertemu keluarga. Dimas yang berjalan kaki dari Banda Aceh menuturkan berbagai hal yang harus dihadapi selama perjalanan. Baca juga: Update Rencana Pembangunan Tol Yogya-Bawen, Dilengkapi Terowongan antara Ambarawa dan Temanggung Baca juga: Polisi Bantah Pengakuan Danu soal Kejadian Paca Pembunuhan Tuti dan Amalia, Ungkap Fakta Asli Ia diantaranya mengalami pengalaman mengerikan saat menyusuri hutan Jambi menuju Lampung. Diberitakan sebelumnya Dimas terlantar karena upah kuli bangunan selama dua bulan lebih di Banda Aceh dibawa kabur oleh sang mandor. Alhasil Dimas tak punya uang untuk pulang. Ia pun memutuskan untuk berjalan kaki dari Banda Aceh menuju kampung halamannya di Semarang. Tiba di Cianjur ia pun sempat terlunta-lunta selama tiga hari. Sampai ada seorang polisi baik hati mengantarnya ke Dinas Sosial Kabupaten Cianjur. Di kantor Dinas Sosial Kabupaten Cianjur Dimas menceritakan pengalaman paling menyeramkan saat melintasi hutan Jambi hingga Lampung. "Paling menyeramkan itu, rumah penduduknya masih jarang, kebanyakan hutan, hewan liar seperti babi hutan sering melintas di jalan," ujar Dimas. Dimas khawatir saat melintas hutan bertemu dengan hewan buas seperti harimau Sumatera. "Iya betul yang paling saya takutkan hewan buas, tak sempat berhadapan namun melihat pernah," katanya. Dimas mengatakan, sampai Cianjur ia menghitung sudah 115 hari menempuh perjalanan darat. 115 Hari Berjalan Kaki Diberitakan sebelumnya, Dinas Sosial Cianjur menerima satu orang warga Semarang yang telantar dan mengaku sudah 115 hari berangkat dari Banda Aceh hendak ke Semarang dengan berjalan kaki. Warga Semarang bernama Muhamad Dimas Ramadan (27) ini sudah sampai di Cianjur dan sudah tinggal selama tiga hari. Ia mengaku sempat tinggal di beberapa kota dan mengamen untuk bertahan hidup. Pemuda yang mengenakan topi ini menjelaskan jika ia menjadi korban dari mandor bangunan yang membawa kabur upahnya. Dimas mengatakan ia bekerja menjadi kuli bangunan selama dua bulan lebih di Banda Aceh dengan janji upah Rp 150 ribu perharinya. "Awal saya nekat jalan kaki karena tak punya uang, mandor kuli bangunan di Aceh bawa kabur upah 18 orang pekerja di antaranya upah untuk saya," ujar Dimas di rumah singgah Dinas Sosial, Selasa (19/10/2021). Dimas mengatakan, kebanyakan pekerja berasal dari Banda Aceh sehingga ia sendiri kebingungan untuk pulang. Di setiap kota ia selalu tinggal beberapa hari di pasar atau terminal untuk mengamen. Ia menceritakan perjalanan paling berat dari Jambi ke Lampung karena banyak hutan yang harus dilewati. Difasilitasi Dinsos Cianjur Saat menyeberang ke Bakauheni ia diberi surat agar bisa gratis naik kapal Ferry untuk menyeberang ke Merak Banten. "Baru di Cianjur ini saya ketemu polisi dan diantar ke Dinas Sosial, saya ingin pulang meski ditawari untuk tinggal beberapa hari di rumah singgah Cianjur," kata Dimas. Dimas mengatakan ia merupakan anak pertama dari tujuh bersaudara. Ia berangkat ke Banda Aceh berniat untuk bekerja menjadi kuli bangunan di sana. Kepala Dinas Sosial Kabupaten Cianjur, Asep Suparman, mengaku prihatin dengan pengalaman yang dialami Dimas. Ia mengatakan akan memfasilitasi kepulangan Dimas dengan membuat surat kemudahan transportasi dengan ditembuskan kepada Dinas Perhubungan. "Kami turut prihatin dan sudah membuat surat kemudahan untuk transportasi kepulangan sampai alamat Dimas ini, sudah diminta beristirahat dulu namun yang bersangkutan tetap ingin pulang," kata Asep. (*) Artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dengan judul Warga Semarang yang Berjalan 115 Hari dari Aceh, Gemetar Saat Lihat Harimau dan Babi Hutan di Jalan