OPINI Hamidulloh Ibda : Urgensi Kurikulum Tani Perguruan Tinggi

tribunnews 27-09-21 08:34 nasional

Oleh Hamidulloh Ibda PJs Wakil Rektor I Institut Islam NU Temanggung. SAAT kecil, kita pasti ingat ketika orang tua dan guru-guru mengajak bermimpi lewat pertanyaan apa cita-cita kalian? Sebagian besar menjawab dokter, polisi, TNI, hakim, PNS, guru, dan profesi lainnya yang dianggap mentereng. Hampir tak ada yang menjawab dengan tegas saya ingin menjadi petani. Mengapa demikian? Ada beberapa penyebab dasar. Pertama, petani dianggap pekerjaan level bawah, kampungan, ndesa, bahkan hina. Parahnya lagi, para petani inferior dan justru tak mengajak anak-anaknya mencintai sawah, cangkul dan rumput. Padahal, anak-anaknya bisa kuliah adalah hasil dari pertanian. Namun ketika anak-anak mereka lulus dengan tegas berkata masak aku sarjana disuruh mencangkul. Bukankah ini fenomena menyakitkan? Kedua, doktrin petani pada hakikatnya bagus, yaitu mengajak anak-anaknya bekerja kantoran, bersepatu pantofel, dan mendapat pekerjaan lebih baik daripada menjadi petani. Namun dampak buruknya mereka ibarat kacang lupa kulitnya. Sebab, menjauhkan anak-anak dari sawah justru bukan sebuah solusi. Ketiga, kesalahan kurikulum dan materi pendidikan yang menempatkan petani sebagai pekerjaan kaum alit. Dari dulu hingga sekarang, buku-buku mengajarkan anak-anak untuk menjadi dokter dan profesi lain yang dianggap lebih bergengsi. Pada akhirnya, banyak generasi muda tak peduli lagi dengan sawah. Akibatnya, sawah dijual, lalu ditanami pabrik, dipupuk dengan sampah, dan disirami dengan limbah. Pemanasan global pun merajalela. Ini salah siapa? Fenomena lainnya, hampir semua sarjana ketika pulang desa sangat jarang yang mau memikul cangkul dan bercocok tanam di ladang. Mereka gengsi dan menganggap sebagai kaum terdidik tak laik turun ke sawah. Padahal realitasnya tidak demikian. Kebanyakan para sarjana itu justru menjadi pengangguran terdidik. Mereka bangga dengan toga namun miskin pengalaman dan jauh dari pekerjaan. Coba saja jika mereka tetap mencintai sawah. Ketika pulang membawa toga pasti tak akan menganggur karena mereka sudah punya kantor, yaitu sawah milik keluarganya. Namun, mengapa hal ini justru tak ada yang memperhatikan? Sengkarut Pertanian Harusnya kita membuka mata bahwa nemek moyang kita adalah petani dan pelaut. Negara kita agraris dan maritim yang jika diolah akan melahirkan kemandirian, kemerdekaan dan kedaulatan pangan. Cacatan Kementerian Agraria dan Tata Ruang (2020) menyebut di Indonesia terdapat 7.463.948 hektar lahan baku sawah. Luas baku lahan pertanian itu ternyata dari tahun ke tahun terjadi penurunan. Data BPS (2018) menyebut pada 2013 ada 7,75 juta hektare dan pada 2018 luas baku lahan pertanian menjadi 7,1 juta hektare. Impor beras juga menjadi masalah tahunan. Menurut data BPS (2021) dari 2000 hingga 2019 Indonesia selalu mengimpor beras. Pada Juli 2021 negara kita mengimpor 41,6 ribu ton beras dengan nilai mencapai US$ 18,5 juta yang setara Rp 266,4 miliar. Selain sengkarut riil di dunia pertanian, pada kenyataannya Indonesia belum bisa memproduksi sarjana terapan pada program studi, jurusan atau fakultas pertanian. Padahal hampir di tiap provinsi ada kampus yang membuka jurusan pertanian. Namun mengapa pertanian kita tak maju? Inovasi teknologi pertanian juga stagnan, dan masih kalah dengan negara yang tak sesubur dan seluas Indonesia. Fenomena ini tentu harus dihentikan. Sebagai negara agraris sangat ironis jika selalu mengimpor beras. Selain faktor ekonomi politik, spirit cinta pada pertanian harus digelorakan untuk investasi SDM unggul di bidang pertanian yang pro petani. Jika pemuda sudah tak mencintai sawah, bisa jadi ke depan semua kebutuhan beras, jagung, ubi, sayuran akan impor semua. Kita akan digilas negara yang sempit lahan, namun maju teknologi industrinya. Kurikulum Pertanian Pendidikan harus ambil peran. Selain fakultas pertanian, harusnya ada kurikulum yang bisa menumbuhkan cinta sawah dan cangkul. Sebab, dengan jumlah fakultas pertanian yang melimpah ternyata pertanian kita masih belum populis dan terbelakang. Desain kurikulum pertanian tentu selaras dengan kebijakan Merdeka Belajar - Kampus Merdeka (MBKM). Kurikulum pertanian dapat didesain dengan beberapa formula. Pertama, menjadikan pertanian, tani, teknologi industri pertanian, teknik pertanian, agrobisnis, agroindustri, agronomi pertanian sebagai mata kuliah wajib nasional. Selain mata kuliah Pancasila, Kewarganeraan, Bahasa Indonesia, dan Pendidikan Agama, mata kuliah itu jelas memiliki capaian pembelajaran menanamkan cinta, kompetensi dan skills terapan dalam pertanian. Kedua, kebebasan mahasiswa memilih mata kuliah di luar jurusan yang diarahkan kepada pertanian. Hal ini penting karena desain MBKM jelas mendukung kemerdekaan mahasiswa menentukan porsi kuliah 3 semester di jurusan lain. Mengolah Sawah Ketiga, magang industri harus diarahkan di sawah, ladang, dan kebun. Mahasiswa bisa bercocok tanam, memupuk dan praktik mengolah sawah tanpa bertele-tele mendiskusikan cangkul tapi tak pernah mencangkul. Magang industri tujuannya agar kampus memiliki link and math dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) harus diarahkan dengan gerakan kembali ke sawah. Pemahaman industri tak sekadar pabrik dan kantor, namun sawah adalah industri agraris yang riil dimiliki Indonesia. Keempat, memperbanyak penelitian dan pengabdian kepada masyarakat pada kegiatan riset tani, tanaman, hama, pupuk dan sejenisnya. Hal ini tentu dibutuhkan petani karena jelas pupuk organik, kompos, kotoran ternak lebih murah, aman dari zat kimia. Harusnya potensi ini dilirik dan dikembangkan perguruan tinggi. Kelima, memaksimalkan agropreneurship (kewirausahaan pertanian). Era revolusi industri 4.0 harus melahirkan inovasi di dunia pertanian yang harusnya hadir dari mahasiswa. Meski petani sudah memiliki pendidikan pertanian secara empiris, namun inovasi abad 21 sangat dibutuhkan. Dengan demikian, generasi muda kita tak takut lagi jika turun ke sawah. Mereka bangga menjadi petani, pandai mencangkul, memproduksi pupuk secara mandiri, dan akhirnya menjadi pengekspor beras. Puncaknya adalah kedaulatan pangan, merdeka dari impor dan penjajahan ekonomi. Lalu, kapan mahasiswa berani mencangkul sawah? (*) Baca juga: Perahu Nelayan Ditabrak Kapal Kargo, 2 Orang Dinyatakan Hilang Baca juga: Hotline Semarang : Pedagang Dilarang Tambah Bangunan dan Memaku di Bangunan Pasar Johar Cagar Budaya Baca juga: Pengamat: Saya Kira Puan Maharani Lah Capres dari PDIP, Bukan Ganjar Baca juga: Hendak Selfie, Seorang PNS Tercebur Ke Laut Hilang 2 Hari Kemudian Ditemukan Tewas