Hasil Panen Petai di Jawa Tengah Terganggu Cuaca Ekstrem

tribunnews 26-09-21 13:43 nasional

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kondisi iklim yang ekstrem berdampak buruk bagi hasil panen petai di Jawa Tengah. Hujan yang turun terus pada tahun ini menyebabkan panen petai merosot drastis. Situasi ini tak luput dirasakan Muhamad Basori, petani petai di Desa Ngaliyan, Kecamatan Bejen, Temanggung. "Panen raya petai banyak itu biasanya saat kemarau panjang. Jadi kalau kemarau panjang, bisa berbuah sampai 90 persen. Tahun ini kan kemaraunya nyaris tidak ada," ungkap Muhamad Basori, Sabtu (25/9/2021) sore. Muhamad Basori menjelaskan penurunan panen itu dilihat dari berkurangnya produktivitas pohon petai miliknya. Tahun ini dari 50 pohon petai yang ia miliki, hanya 3 pohon yang berbuah. Dari sisi penghasilan, panen kali ini hanya mendapatkan Rp 1 juta setelah per ikatnya ia jual Rp 15 ribu. Dia menjelaskan, rentang waktu memanen petai sekitar 3 bulan lamanya. Biasanya Basori menjual petai hasil panen ke tetangga yang bekerja sebagai pedagang atau pengepul hasil pertanian. "Jadi kalau (memanen) petai itu sekitar 3 bulan. Biasanya sebagian ada yang masih muda, terus sebagian lagi sudah tua. Jadi waktu memanen petai sekitar 3 bulan itu," papar dia. Kusmiyati, salah satu pengepul di Pasar Ace Lemah Mendak, Mijen, Kota Semarang, mendapatkan stok petai dari petani luar kota. Petai tersebut dia beli di Wonosobo dan Banjarnegara. Kusmiyati juga mendapatkannya di Biting, Kecamatan Boja, Kendak. Rata-rata dia mendapat kiriman 50-100 ikat per hari. "Biasanya petani yang setor ke sini. Kebanyakan dari Biting, kemudian Wonosobo dan Banjarnegara," jelasnya. Rata-rata pembelinya adalah para pemilik usaha, bukan konsumen terakhir. Di antaranya pedagang warung makan dari Semarang. Kusmiyati menjualnya dengan harga Rp 35 ribu-Rp 40 ribu per ikat. (*)