SLI Hasilkan Panen Padi 7,7 Ton/Ha

smcetak 11-08-17 17:07 nasional

TEMANGGUNG Sekolah Lapang Iklim (SLI) tahap III yang digelar di Desa Soropadan, Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung, membuahkan hasil menggembirakan bagi dunia pertanian di Jawa Tengah. Pasalnya, panen padi meningkat dan saat ini mampu menghasilkan 7,7 ton per hektare. Deputi Bidang Klimatologi BMKG Mulyono Rahadi Prabowo mengatakan, SLI untuk memberikan bekal pemahaman keilmuan tentang iklim kepada petani. Harapannya petani bisa mengerti tentang iklim, cuaca, proses pembentukan awan dan hujan, neraca air lahan, peralatan pengamatan cuaca, informasi kalender BMKG, pranata mangsa, dan hama penyakit. Berdasarkan hasil ubinan, setelah melalui sekolah lapang iklim tahap III ada peningkatan menjadi 7,7 ton per hektare dari rata-rata enam ton per hektare. Ini pada masa tanam kedua yang biasanya memang produksi tidak setinggi pada tanam pertama, katanya di sela-sela penutupan SLI III di Soropadan, Sabtu (22/7). SLI tahap III di Desa Soropadan, Kecamatan Pringsurat yang diadakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bekerja sama dengan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Temanggung itu, diikuti 30 petani. Adapun pelaksanannya mulai pada 25 Maret 2017 22 Juli 2017. Prabowo berharap dengan adanya peningkatan produksi tersebut bisa diperluas lagi skala kegiatan dan peserta SLI tahap III dapat menyebarkan pengalaman kepada kelompok-kelompok tani lainnya. Lebih Maksimal Jika ada penyebaran informasi dari BMKG dapat lebih maksimal disebarluaskan dan dimanfaatkan, sehingga produksi padi bisa lebih meningkat. SLI merupakan program nasional yang digelar atas kerja sama lintas instansi dalam meningkatkan pemahaman penggunaan informasi iklim dari BMKG. SLI tahap III merupakan aplikasi lapangan, sehingga peserta tidak hanya menerima informasi iklim dari BMKG saja. Petani diharuskan melakukan penerapan kapan waktu mulai tanam dan bagaimana perlakuan selama masa tanam. Melalui sekolah lapang diharapkan mengatahui kapan mulai tanam, sehingga waktunya tepat karena pada saat tanam diperlukan air yang cukup, tetapi diharapkan pada saat mendekati panen, air sudah mulai berkurang. Kemudian pada waktu-waktu kapan curah hujan tinggi, kelembaban tinggi ini akan berpengaruh juga pada peningkatan hama tanaman, sehingga kami juga bekerja sama dengan Dinas Pertanian untuk memberikan masukan, kira-kira kalau terjadi serangan hama apa yang perlu dilakukan, katanya. Kepala BMKG Klas I Semarang, Tuban Wiyoso mengemukakan, dalam SLI pembelajaran dilakukan setiap 10 hari sekali dalam 10 kali pertemuan. Lalu dilanjutkan dengan kunjungan sekaligus praktik pengenalan alat di Stasiun Klimatologi Semarang pada 18 Juli 2017. Metode pembelajaran dilaksanakan dengan diskusi dan praktik langsung di lapangan. Setelah ini bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari agar didapat hasil pertanian secara maksimal, katanya. (K41-27)