Sejak Pandemi Covid-19, Panen Kopi di Kebun Getas Bawen Oleh PTPN IX Naik 700 Persen 

tribunnews 29-07-21 11:57 ekonomi

TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - PT Perkebunan Nusantara (PT PTPN) IX Jawa Tengah mengklaim panen kopi di Kebun Kopi Getas, Sub Unit Asinan Kempul, Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang tahun ini mengalami kenaikan. Manager Kebun Kopi Getas, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang Sigit Sujatmoko mengatakan pada musim panen kopi tahun ini terjadi kenaikan hasil panen mencapai 700 persen. "Meski pandemi Covid-19 panen kopi tahun ini juga mampu menyerap sekira 500 tenaga borongan pemetik biji kopi. Alhamdulillah produksi kami melimpah, pekerja tidak hanya warga dari Ungaran, tapi Temanggung, Magelang, dan Salatiga," terangnya kepada Tribunjateng.com, di Kebun Kopi Getas, Bawen, Kabupaten Semarang, Kamis (29/7/2021). Ia menambahkan, secara harga kopi di tengah kondisi pandemi Covid-19 tergolong stabil diangka Rp 25-30 ribu per kilogram kering. Kemudian, untuk penjualan dari seluruh hasil produksi kopi juga stabil permintaan selain pangsa pasar lokal juga global khusus dari Kebun Getas ekspore ke negara tujuan Italia. Seorang pekerja sedang memetik biji kopi dalam panen raya kopi di Kebun Kopi Getas, Bawen, Kabupaten Semarang, Kamis (29/7/2021). (TRIBUNJATENG.COM/M NAFIUL HARIS) "Seluruhnya kopi berjenis Robusta dengan total luas kebun sekira 341,45 hektare menghasilkan hampir 371 ton kopi. Untuk yang dipanen hari ini 20 hektare pada satu blok tahun lalu hanya 43 ton," katanya. Dia mengaku dalam proses petik kopi melibatkan warga lokal bersifat borongan dengan rata-rata sekira 500 orang buruh dan panen ini masih akan berlangsung sampai akhir September. Pihaknya mengungkapkan, untuk menjaga stamina pekerja karena situasi pandemi masing-masing juga diberikan bantuan suplemen dan vitamin. "Kami berharap mudah-mudahan membantu baik dari sisi ekonomi dan kesehatan ditengah situasi Covid-19. Kami berkomitmen menggandeng buruh-buruh lokal dan mayoritas perempuan," ujarnya. Seorang buruh petik kopi Miskotun (43) menyatakan telah bekerja sebagai tenaga borongan panen kopi selama hampir 9 tahun di PTPN IX. Wanita asal Desa Wonokerso, Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung itu mengaku bertahan sebagai buruh pemetik kopi karena tidak ada pekerjaan lain. "Saya ini ikut bekerja mulai proses pupuk, pangkas setelah panen. Untuk panen sendiri setiap satu kilogram kopi basah dihargai Rp 1.000 sehari rata-rata bisa dapat 100 kilogram," paparnya (ris)