Dinkes Salatiga Temukan Puluhan Anak Terindikasi Campak

tribunnews 09-08-17 18:42 nasional

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Deni Setiawan TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Salatiga Siti Zuraidah tidak menampik apabila hingga Triwulan II Tahun 2017 ini, kasus campak klinis di Kota Salatiga dapat dikatakan cukup tinggi. Kasus campak klinis ketika dianalisis secara medis, hasilnya belum tentu campak loh. Itu yang perlu dipahami bersama. Secara teori, campak klinis adalah diagnosis campak berdasarkan beberapa gejala klinis seperti demam, batuk, pilek, maupun mata memerah, kata Zuraidah kepada Tribun Jateng, Rabu (9/8/2017). Meskipun demikian, hal tersebut belum berarti merupakan campak. Dia menambahkan, campak klinis dapat dipastikan atau terkonfirmasi apabila sudah melewati pemeriksaan atau uji laboratorium. Meskipun juga, ada kemungkinan pasien bersangkutan bisa terkena campak atau rubella, atau justru sebaliknya. Baca: Duh, Kualitas Garam Yodium dari Brebes Masih di Bawah Standar Nasional Indonesia Jadi, pada prinsipnya, semua diagnosis awal harus diuji secara medis terlebih dahulu. Di Triwulan I Tahun 2017, di Salatiga ada 33 anak yang diagnosis terkena penyakit suspek campak klinis. Kemudian meningkat menjadi 70 kasus di Triwulan II Tahun 2017 atau mulai minggu I hingga minggu ke 30 (Juli 2017) ini, jelasnya. Zuraidah menyampaikan, berkait hal tersebut, pihaknya mengklaim telah melaporkannya serta mengirim sampel darah terhadap puluhan anak ke Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKL PP) DIY Yogyakarta. Tujuannya untuk memperoleh kepastian atas dugaan campak klinis itu. Baca: Gandeng Grab, Taksi New Atlas Sekarang Bisa Dipesan Via Online Secara umum, Salatiga masih berkategori rendah dalam kasus tersebut. Yang tinggi di Jawa Tengah di antaranya ada di Kabupaten Sukoharjo yang mencapai lebih dari 350 kasus, lalu Banjarnegara (321 kasus), Temanggung (176 kasus), Blora (167 kasus), Pemalang (154 kasus), Cilacap (120 kasus), serta Wonosobo (117 kasus). Lainnya termasuk Salatiga masih di bawah angka 100 kasus, terangnya. Karena itu, lanjut Kasi Survailans Karantina Kesehatan dan Imunisasi (SKKI) DKK Salatiga Tasfiyah Sri Prihati, menjadi sangat penting bagi anak-anak hingga usia 15 tahun untuk berimunisasi. Baca: Mendikbud Muhadjir Effendy Mengaku Puas Setelah Keliling Tempat Ini Tujuannya untuk memberikan kekebalan atau herdimunity sekaligus memutus mata rantai penularan campak rubella. Karena itu pula, di program pencanangan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, kami di DKK akan berupaya lebih optimal lagi dalam mengedukasi serta menyosialisasikan tentang pentingnya imunisasi campak rubella tersebut. Tak terkecuali menggandeng dinas-dinas terkait, seperti Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Salatiga, terang Tasfiyah. (*)

Berita Terkait