Petugas Forensik Dipolisikan Oleh Suami yang Tidak Diterima Jenazah Istrinya Dimandikan

tribunnews 20-02-21 16:38 umum

TRIBUNJATENG.COM, MEDAN - Empat petugas forensik RSUD Djasemen Saragih Kota Pematangsiantar dilaporkan ke polisi atas kasus penistaan agama. Mereka dipolisikan oleh Fauzi Munthe, warga Serbelawan, Kecamatan Dolok Batu Nanggar, Kabupaten Simalungun. Ia tidak terima saat jenazah istrinya, Zakiah (50) dimandikan oleh 4 pria petugas forensik tersebut. Baca juga: Ada Lubang Besar di Lantai Rumah Supadiyo Parakan Temanggung, Ternyata Ini yang Terjadi Baca juga: Ini Tanggal Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Blora, Lokasinya Belum Ditentukan Baca juga: Tidak Sampai Dua Bulan, 39 Peristiwa Longsor Terjadi di Banjarnegara Baca juga: Menag Berharap HIPSI Jateng Berkolaborasi dengan Pesantren Kembangkan Ekonomi Keumatan Kasus tersebut berawal saat Zakiah masuk rumah sakit dan meninggal dunia pada Minggu, 20 September 2020. Saat itu jenazah Zakiah dimandikan oleh DAAY, ESPS, RS, dan REP. Dua di antara mereka berstatus sebagai perawat. Prosedur penanganan jenazah tersebut dianggap tak sesuai dengan syariat Islam fardu kifayah. Yakni jenazah wanita dimandikan pria yang bukan muhrim di ruang instalasi jenazah forensik RSUD Djasemen Saragih. Selain itu, pada 24 Juni 2020, telah diatur prosedur penanganan jenazah Covid-19 khususnya untuk umat Islam yang telah disepakati oleh MUI Kota Pematangsiantar, pihak RSUD Djasamen Saragih, dan Satgas Covid-19. Laporan dilakukan Fauzi di Polres Pematangsiantar. Kasat Reskrim Polres Pematangsiantar AKP Edi Sukamto mengatakan jika empat pria tersebut memandikan jenazah wanita yang bukan muhrim. Ia mengatakan, saat penyelidikan, polisi memina keterangan pengurus MUI Pematangsiantar, Direktur RSUD Djasamen Saragih, dan mendatangkan saksi ahli. Itu keterangan saksi ahli dan keterangan MUI yang kita pegang. Sudah kita panggil MUI, bahwasanya MUI menerangkan perbuatan mengenai penistaan agama, kata Sukamto saat dihubungi lewat sambungan telepon, Jumat (19/2/2021). Ia menjelaskan kasus tersebut telah diserahkan ke Kejaksaan Negeri Siantar setelah berkas dinyatakan lengkap oleh jaksa. Kasus tersebut akan segera dilimpahkan ke pengadilan untuk disidangkan. Kita hanya mengajukan, jadi itu semua petunjuk jaksa. Ya sudah kita sampaikan, ucapnya. Tak ditahan karena tenaganya masih dibutuhkan. Empat petugas forensik ditetapkan sebagai tahana kota sejak Kamis (18/2/2021) hingga 20 hari ke depan. Penyidik kepolisian tidak melakukan penahanan karena empat tersangka tersebut dibutuhkan sebagai petugas medis di ruang instalasi jenazah forensik. Kasi Pidum Kejari Siantar, M Chadafi mengatakan para tersangkan adalah tenaga khusus untuk menangani jenazah di masa pandemi Covid-19. "Kita khawatir kalau dilakukan penahanan di rumah tahanan akan mengganggu proses berjalannya kegiatan forensik. Di antara memandikan jenazah dan sebagainya. Kita gak mau gara-gara ini kegiatan itu terhenti apalagi sekarang kondisi pandemi," kata Chadafi di kantor Kejari Pematangsiantar. Kasus empat petugas forensik tersebut menjadi perhatian rekan sejawat. Pengurus puluhan anggota Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) turut hadir mendampingi para tersangka sebagai bentuk solidaritas. PPNI juga memberikan pendampingan hukum kepada para tersangka selama proses hukum berjalan. "Kami sebagai kuasa hukum PPNI siap memberikan bantuan hukum hingga proses persidangan," kata Pengacara dari Badan Bantuan Hukum PPNI, Muhammad Siban. Baca juga: Pengacara Korban Pertanyakan Kuasa Hukum ZM Ketahui Korban & Saksi Berikan Keterangan Palsu Baca juga: Pengacara Korban Pertanyakan Kuasa Hukum ZM Ketahui Korban & Saksi Berikan Keterangan Palsu Baca juga: Meski Belum Ada Rencana, DPRD Provinsi Jateng Siap Lakukan Refocusing Anggaran Sementara itu Ketua DPW PPNI Sumut, Mahsur Al Hazkiyani mengimbau perawat di Kota Pematangsiantar tetap bekerja profesional untuk membaktikan diri tanpa membeda bedakan suku agama, golongan dan jenis kelamin. Ia menyebut ada 1817 perawat di Kota Pematangsiantar dan 750 orang di Kabupaten Simalungun. Kami minta perawatan untuk tetap tenang jangan terprovokasi, tetap bekerja profesional dan tetap menjaga kerukunan umat beragama, pungkasnya. (*) Artikel ini telah tayang di kompas.com dengan judul : Tak Terima Jenazah Istrinya Dimandikan Pria, Seorang Suami Laporkan 4 Petugas Forensik atas Kasus Penistaan Agama