Anaknya Jadi Bupati Banjarnegara, Ing Biauw Pejuang Kemerdekaan RI Mata-mata Sadap Info Belanda

tribunnews 19-02-21 17:51 nasional

TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA - Soegeng Boedhiarto alias Ing Biauw masih tampak gagah mengenakan seragam veteran. Meski tubuhnya sudah mulai rapuh. Keriput kulitnya sudah penuh. Ia bahkan harus dipapah dan menggunakan kursi roda untuk menunjang aktivitasnya. Baca juga: Kabareskrim Komjen Agus Andrianto, Jenderal Polisi yang Fasih Memarut Kelapa Baca juga: Nekatnya Warji Grobogan Semprotkan Air Cabai ke Mata Utomo Temanggung, Begal Berakhir di Penjara Baca juga: Sisi Lain Kabareskrim Komjen Pol Agus Andrianto: Asal Blora, Semua Saudara Laki-laki Bernama Agus Baca juga: Nasi Komando Makanan Ekstrem Paling Enak dalam Pendidikan Komando TNI Marinir Ekstra Keras Dari ciri fisiknya, orang akan langsung bisa menebak orang tua itu warga keturunan Tionghoa. Kulitnya putih bersih. Matanya sipit. Tapi nasionalismenya tak terbantahkan. Ia ikut berjuang memertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Jasanya yang besar untuk bangsa ini diakui negara. Hingga ia dicap sebagai pejuang. Ia berhasil menjalankan misi sebagai mata-mata. Gerakannya senyap, namun bisa lebih berbahaya dari serangan rudal. Tahun 1948, di usianya yang masih muda, 21 tahun, Soegeng memutuskan bergabung dengan Polisi Keamanan Tentara Rakyat dengan pangkat Sersan, sebelum berganti nama menjadi Corps Polisi Militer Djawa (CPMD). Ia bertugas di Pos Rahasia (RHS) yang bermarkas di Kalibagor Banyumas. Tugas Soegeng cukup strategis, namun sekaligus berisiko karena harus menjalankan peran sebagai seorang intelijen. Ia harus memata-matai gerak gerik tentara Belanda yang bermarkas di sekitar alun-alun Purwokerto. Ia wajib menyadap segala informasi dari pihak Belanda yang berkaitan dengan kepentingan bangsa Indonesia. Soegeng sangat diandalkan untuk menjalankan misi itu. Belanda tidak akan menaruh curiga terhadap lelaki bermata sipit sepertinya karena dianggap warga asing (China). Nyatanya ia mudah menjalin hubungan dengan para perwira dan serdadu Belanda tanpa harus dicurigai. Rumahnya yang bedekatan dengan markas Belanda di alun-alun Purwokerto membuatnya sering membaur dengan tentara Belanda. Kesempatan itu dimanfaatkan Soegeng untuk menyadap segala informasi yang dibutuhkan pemerintah Indonesia. Tak ayal, karena ulahnya, banyak informasi penting dari Belanda yang bocor. Setiap berita yang diterimanya dari pihak Belanda selalu ia teruskan ke komandan Pos Rahasia Serma Agus Rusdan. Satu di antara informasi penting yang rutin ia sampaikan ke pemerintah Indonesia adalah terkait rencana penyerangan tentara Belanda ke pertahanan Indonesia. Setelah Belanda hengkang, Soegeng menegaskan status kewarganegaraannya. Tanggal 15 Mei 1967, permohonannya untuk menjadi warga negara Indonesia (WNI) dikabulkan pemerintah melalui Surat Keputusan Presiden RI Soeharto. Sejak saat itu, ia baru menyandang status kewarganegaraan Indonesia yang sah di mata hukum. Meski nasionalismenya telah mengakar lama. 15 Agustus 1981, Soegeng memperoleh gelar kehormatan sebagai Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia (PKRI) oleh pemerintah Indonesia karena jasanya ikut mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ia juga menerima anugerah Bintang Veteran RI pada Hari Ulang Tahun Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) yang ke 47 di tahun 2004. Kini orang tua itu masih diberi umur panjang. Meski kesehatannya kian menurun karena usia. Di rumah dinas Bupati Banjarnegara, Soegeng tak menyiakan waktunya bersama putra kandungnya yang kini menjadi orang nomor satu di Banjarnegara, Budhi Sarwono. Penghargaan atas jasanya untuk negeri ini ternyata masih mengalir. Ia kembali mendapat apresiasi dari Polisi Militer Kodam (Pomdam) IV/Diponegoro. Danpomdam IV/Diponegoro, Kolonel Cpm. Salidin mengunjungi Soegeng Boedhiarto alias Ing Biauw, di rumah dinasnya, Kamis (18/2/2021). Kolonel Cpm. Salidin mengatakan, maksud kedatangannya tak lain sebagai wujud penghargaan kepada Soegeng Boedhiarto, veteran yang dianggap ikut mendirikan Polisi Militer (PM). Ini merupakan panggilan kami sebagai prajurit, dan sebagai junior, untuk menemui senior kami. Dan kami sangat bersyukur bisa bertemu langsung dengan Beliau. Ini merupakan kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri, kata Kolonel Cpm Salidin, Jumat (19/2/2021). Salidin mengatakan, Soegeng Boedhiarto merupakan saksi sejarah sekaligus saksi berdirinya Polisi Militer (PM). Sehingga ia layak diberi penghargaan. Soegeng memberikan pesan singkat namun mendalam kepada para prajurit yang mengunjunginya. Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) mesti dijaga. Negara ini berdiri di atas Kebinekaan. Kemajemukan bangsa menjadi alasan kuat untuk membentuk negara kesatuan. Soegeng sepertinya merasakan sendiri bagaimana perbedaan, baik Suku, Agama Ras dan antar Golongan (SARA) saat itu tak diributkan. Ia yang warga keturunan Tionghoa nyatanya dipercaya untuk bergabung di barisan tentara Indonesia. Begitupun pejuang lain yang memiliki bermacam latar belakang agama, etnik maupun golongan. Mereka mampu bersatu dan punya kepentingan sama untuk menghapus penjajahan. Beliau masih hafal beberapa nama pejuang masa itu. Dan beliau berpesan singkat namun sangat esensial, yakni jagalah keutuhan Republik Indonesia. Ini pesan khas pejuang, katanya Soegeng Boedhiarto menyambut rombongan dengan anggukan dan tatapan mata penuh makna. Anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Banyumas ini berharap PM terus berjuang memajukan bangsa ini. Jagalah keutuhan bangsa ini. jangan sampai saling menyisihkan satu sama lain. Kita harus bersatu padu menjunjung tinggi kebhinekaan. Sebab dulu mereka semua ikut berjuang demi kemerdekaan bangsa ini, ujar Ing Biauw. Kenangan Budhi Sarwono Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono mengatakan, ayahnya selalu mengajarkan untuk berjuang dan mencintai tanah air. Termasuk dengan membantu orang kecil. Meski ayah saya pendatang, dia sangat cinta Indonesia. Dari teman-teman seperjuangan dulu, kami tahu bahwa ayah kami pernah menjadi Polisi Tentara Angkatan Perang, katanya. Polisi Militer Kodam IV/Diponegoro atau (Pomdam IV/Diponegoro) mempunyai tugas pokok membina dan menyelenggarakan fungsi kepolisian militer di lingkungan Kodam IV/Diponegoro baik dalam penegakan hukum, disiplin dan tata tertib militer hingga penyelidikan kriminal di wilayah hukum Kodam IV/Diponegoro. (*)