Petut Wibowo: Ini Panggilan Hati, Bukan Tempat Cari Uang

jawapos 24-01-21 12:09 lain-lain

JawaPos.com Saya tidak pernah mikirin nominalnya (gaji, Red). Karena ini panggilan hati, ujar Petut Wibowo, anggota tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) Kementerian Sosial (Kemensos) Kamis (21/1). Saat berbincang, Wibie, sapaan Petut Wibowo, tengah bermain sepak bola bersama anak-anak pengungsi di shelter terintegritas Stadion Manakarra Mamuju, Sulawesi Barat. Dia memang sedang bertugas di sana untuk membantu membangkitkan kembali psikososial para korban gempa Mamuju. Nyatanya, dia juga mengerjakan segala macam bidang. Maklum, Wibie merasa tak bisa tinggal diam melihat warga ditimpa musibah. Tapi, tetap, tugas utama saya membantu mereka bangkit lagi, tuturnya. Baca juga: Selalu Siaga, Tidur pun Taruh HP di Dekat Telinga Wibie mengaku, upaya healing bagi korban bencana memang tidak mudah. Terlebih untuk mereka yang dewasa. Sebab, terkadang mereka cenderung menutupi perasaannya. Berupaya tegar di depan anak-anaknya. Kalau anak-anak biasanya lebih cepat berkomunikasi. Ada banyak cara untuk mapping emosi mereka, ungkap warga Temanggung, Jawa Tengah, tersebut. Misalnya, melalui media gambar, menulis, hingga game-game seru. Untuk media gambar, psikologis anak bisa dilihat dari warna-warna yang dia pilih. Bisa juga lewat goresan-goresan gambar yang dibuat. Ketika anak cenderung menggunakan warna gelap untuk sebuah gambar bahagia, itu bisa jadi tanda. Oh, anak ini berada dalam kondisi tidak nyaman, jelasnya. Entah dari segi makanan, tempat tinggal, bahkan perasaan. Itu yang akan digali lebih lanjut. Karena dalam kondisi kebencanaan kan hak-hak anak kadang tidak terpenuhi seutuhnya ya, sambungnya. Di situlah LDP hadir untuk membantu mereka. Baca juga: KPK Cecar Sekjen Kemensos Soal Tahapan Pengadaan Bansos Beda lagi dengan yang dewasa. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah pendekatan jalur agama. Misalnya, menyisipkan ceramah agama untuk masing-masing kepercayaan. Selain itu, biasanya kami ajak ngobrol. Itu pun harus dengan sangat hati-hati agar mereka bisa terbuka, katanya. Tapi, tak jarang cara itu sulit dilakukan. Sebab, bahasa kerap kali jadi penghalang. Dari pengalamannya menjadi relawan, masih banyak warga yang kadang tak begitu lancar berbahasa Indonesia. Termasuk, beberapa pengungsi gempa Sulawesi Barat. Untungnya, Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kemensos tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dengan begitu, bila ada kendala bahasa mereka bisa jadi penerjemah. Karena itu, meski bencananya sama, penanganannya pasti beda-beda. Bergantung karateristik daerah, jelas pria yang pernah menjadi jurnalis tersebut. Selama 14 tahun menjadi penggiat kemanusiaan, banyak asam manis yang dirasakannya. Di awal, bahkan kegiatannya tersebut sempat ditentang keluarga. Menurut dia, hal itu wajar. Sebab, setiap keluarga pasti perhatian dengan anggota keluarganya. Ya ditanya, emang oleh e piro? (gajinya berapa, Red). Tapi, saya jelaskan pelan-pelan dan tekankan, ini bukan tempat saya cari uang, ungkapnya. Ya, selama menjadi relawan, Wibie selalu memiliki pekerjaan lain. Dia tidak menggantungkan hidup dari dunia relawan tersebut. Ini panggilan hati, Mbak, tuturnya. Dia mengakui, ketetapan hatinya untuk terus membantu kian mengakar ketika dirinya terlibat dalam proses evakuasi korban banjir dan longsor Cijeruk-Banjarnegara. Di salah satu rumah, dia berhasil menolong seorang ibu yang tengah berlindung di bawah kasur. Siapa sangka, sang ibu sedang menggendong anaknya sambil berupaya melindungi si buah hati dari longsor. Dan ternyata, anaknya sedang menyusu. Di situ dia tersadar, betapa besar perjuangan seorang ibu untuk menyelamatkan anaknya, bahkan saat musibah mengancam nyawa. Ini yang harus saya bantu, katanya. Saksikan video menarik berikut ini: