Agung Eko Ingin Vihara 2500 Budhha Jayanti Jadi Pusat Spritual di Indonesia

tribunnews 16-01-21 01:10 nasional

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Agung Eko (66) seorang guru meditasi menginginkan Vihara 2500 Budhha Jayanti menjadi pusat spiritual di Indonesia. Pasalnya, Vihara 2500 Budhha Jayanti, Wun Umat Buddha membersihkan Vihara 2500 Budhha Jayanti, Wungkal Kasap, Pudak Payung, Banyumanik, Kota Semarang, Jumat (15/1/2021). (Tribun Jateng/Iwan Arifianto) gkal Kasap, Pudak Payung, Banyumanik, Kota Semarang, memiliki sejarah panjang yang menjadi tonggak bersejarah perkembangan agama Buddha di Indonesia. "Mudah-mudahan Vihara ini menjadi pusat spiritual di Indonesia," ujar dia kepada Tribunjateng.com, Jumat (15/1/2020). Di sisi lain, kata dia, Vihara 2500 Budhha Jayanti yang berada di ketinggian sekira 350 meter di atas permukaan laut dikelilingi alas Kasap yang pepohonannya tampak rapat. Terdapat juga aliran sungai Kaligarang yang suara gemerciknya mendukung proses meditasi secara fisik. "Untuk non fisik getarannya di sini sangat kuat," ungkap dia. Dia menjelaskan, berbagai unsur masyarakat berupaya untuk nguri-nguri Vihara tersebut. Mereka ingin menyelamatkan bekas Vihara sekaligus untuk mengantisipasi meningkatnya minat masyarakat untuk meditasi. "Kami pelan-pelan merenovasi tempat ini untuk hal tersebut," ujarnya. Dia menyebut, renovasi tahap awal telah membuat atap dan lantai vihara. Adapula patung Budhha setinggi sekira 30 sentimeter. Nantinya akan diganti patung Budhha setinggi 1 meter dari Temanggung. Kendati Vihara masih sederhana namun membuat lebih nyaman para umat lintas agama yang ingin meditasi di tempat tersebut. Rencana kedepan, sambung dia, akan memperbaiki jalan, membuat taman, bangunan Joglo, gudang dan rumah kecil untuk Bhikkhu menginap. "Seperti biasa kami melakukan dengan sabar dan tidak ngoyo. Kami melakukan renovasi mandiri didukung oleh para umat Buddhis," kata dia. Menurutnya, para Yogi, sebutan para orang yang suka meditasi sudah tertarik dengan suasana Vihara 2500 Budhha Jayanti, Wungkal Kasap. Sejauh ini, lanjut dia, berbagai umat Budhha seperti dari Pakintelan, Pudak Payung, Temanggung, dan Boyolali sudah pernah melakukan proses meditasi di tempat tersebut. Dari kelompok Gusdurian juga pernah bermeditasi bersama. "Kami berharap Vihara 2500 Budhha Jayanti menjadi tempat meditasi dari para Yogi lintas agama," terangnya. Di sisi lain, lebih dari setengah abad Vihara 2500 Buddha Jayanti meredup. Pengasuh Vihara Buddha Dipa Pakintelan, Samanera Dhammatejo Wahyudi mengatakan, paling tidak ada tiga harapan yang ingin disampaikan dari berfungsinya kembali Vihara 2500 Buddha Jayanti. Pertama umat Buddha sudah saatnya memalingkan muka atau memberikan perhatian pada persoalan bangsa atau ikut membangun ekonomi kerakyatan, pendidikan, dan lainnya. "Umat Buddha jangan hanya berkutat pada persoalan organisasi agama Buddha saja, sudah saatnya kita terpanggil ikut berkontribusi membangun bangsa Indonesia," jelasnya. Berikutnya, ia berharap umat Buddha semakin bersatu dan tidak terpecah belah. Ketiga, difungsikannya Vihara 2500 Budda Jayanti sebagai upaya melestarikan peninggalan leluhur agar jangan sampai kepaten obor. "Paling tidak ada tiga hal tersebut yang ingin kami sampaikan," katanya kepada Tribunjateng.com. Wahyudi menuturkan, berdirinya Vihara 2500 Buddha Jayanti bermula saat munculnya Bhikkhu putra pertama Indonesia bernama Ashin Jinarakkhitha. Bhikkhu Ashin Jinarakkhitha diupasampada (ditahbis) di Myanmar pada awal tahun 1954, lalu kembali ke Indonesia tahun 1955. Setiba di Indonesia, Ashin Jinarakkhitha tinggal di beberapa kleteng di pulau Jawa. Ketika Ashin Jinarakkhitha di Semarang, ada seorang pengusaha perkebunan di Semarang, Goei Thwan Ling simpati pada perjuangan Ashin Jinarakkhitha. Pengusaha tersebut lalu meminjamkan bangunan villa di Pudakpayung untuk digunakan sebagai Vihara sementara bernama Buddha Gaya. Sekarang, vihara ini dikenal dengan nama Vihara Watu Gong. Selanjutnya di peringatan Waisak nasional pada Mei 1956 di Candi Borobudur. Pengusaha tersebut menghibahkan tanah di bukit Wungkal Kasap untuk mengembangkan agama Buddha. Hal ini lalu ditindak lanjuti dengan mendirikan Vihara yang juga berfungsi sebagai sima atau tempat khusus penahbisan bhikkhu. Pembangunan vihara ini dilakukan oleh warga Desa Pakintelan. Pada saat itu, hampir 90 persen warga Desa Pakintelan adalah pemeluk Buddha. Pembangunan dilakukan pada tahun 1957 sampai 1959. Selama tiga tahun itu mereka terlibat sebagai pekerja utama pembangunan Vihara 2500 Buddha Jayanti. Saat itu pasir dan batu diambil dari sungai Kaligarang, dinding bangunan kombinasi dari batu dan papan dengan atap seng. Selepas bangunan vihara berdiri, vihara tersebut diresmikan menjelang Tri Suci Waisak 1959. "Nama Vihara 2500 Buddha Jayanti berkaitan dengan peringatan 2500 tahun berdirinya Buddha yang akan diperingati pada saat peresmian Vihara," katanya. Menurut Wahyudi, upacara peresmian juga bersejarah sebab dihadiri oleh 14 bhikkhu dari luar negeri seperti dari Sri Lanka, Thailand, Vietnam, Myanmar, dan Jepang. Pada peresmian vihara, terjadi tiga peristiwa penting yang menjadi tonggak bersejarah perkembangan agama Buddha di Indonesia. Tiga peristiwa itu yakni berdirinya vihara pertama di Indonesia sesudah agama Buddha surut seiring runtuhnya Majapahit. Kedua upacara penetapan Sima atau tanda vihara sebagai tempat upasampada (penahbisan) bhikkhu baru. Ketiga upacara upasampada bhikkhu baru putra Indonesia sendiri untuk pertama kali di tanah air sesudah rubuhnya Majapahit. Bhikkhu baru itu bernama Jinaputta yang pada tanggal 15 Januari 1965 berkesempatan menjadi satu-satunya bhikkhu yang pernah berjumpa Presiden Sukarno. "Itulah alasan kami terus berupaya nguri-uri Vihara 2500 Buddha Jayanti," ujarnya. Dia menambahkan, pemugaran yang dilakukan umat Buddha di Vihara 2500 Buddha Jayanti bersifat hanya merawat peninggalan leluhur. Tidak ada maksud dari umat Buddha Desa Pakintelan untuk menguasai atau memiliki hak atas tanah bekas Vihara 2500 Buddha Jayanti. Pasalnya sejak ditinggalkan hingga hari ini, kegiatan bernafaskan agama Buddha baru dilakukan kembali justru oleh umat Buddha Desa Pakintelan. Hal ini juga didukung umat beragama lain untuk melakukan pemugaran. Bukan karena situs milik umat Buddha itu penting bagi umat Buddha sendiri saja. Namun bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, bekas Vihara 2500 Buddha Jayanti adalah salah satu lambang kebhinekaan Indonesia. "Sebab inilah vihara pertama yang dibangun ratusan tahun sesudah runtuhnya Majapahit," tandasnya. (*)