BPBD Temanggung Pasang Tiga Alat Pendeteksi Longsor

magelangekspres 28-11-20 02:31 nasional

MAGELANGEKSPRES.COM,TEMANGGUNG Untuk mengantisipasi timbulnya korban dalam bencana tanah longsor, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Temanggung memasang 3 alat peringatan dini bencana atau Early Warning System (EWS). Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Temanggung, Dwi Sukarmei mengatakan, pemasangan alat ini agar sebelum terjadi bencana alam khususnya longsor bisa diketahui tanda-tandanya. Dengan demikian bisa meminimalisir adanya korban dalam kejadian bencana alam tersebut. Sebenaranya didaerah rawan bencana tanah longsor di wilayah Temanggung sudah dipasang alat tersebut, yang tiga ini baru dipasang di daerah yang cukup rawan bencana tanah longsor,katanya, Jumat (27/11). Ia mengatakan, dengan dipasangnya alat ini kedepan kerawanan bencana tanah longsor bisa diketahui sejak dini. Dengan demikian petugas dan masyarakat bisa mengantisipasinya lebih dini dan menentukan langkah akan diambil. Pemasangan alat ini memang sudah menjadi kebutuhan, sebab hampir sebagian besar wilayah Temanggung berada di daerah rawan bencana tanah longsor. 20 kecamatan yang ada di Temanggung memang rawan bencana tanah longsor, terutama di daerah pegunungan dan perbukitan,katanya. Baca Juga Rentan Terpapar Covid, Puluhan Wartawan Magelang Diswab Test Namun demikian, meskipun telah dipasang alat tersebut, pihaknya mendorong masyarakat untuk mengetahui dan mempelajari gejala terjadinya bencana alam, selain itu pihak desa dan kecamatan bisa lebih mandiri dalam penanganannya. Masyarakat harus bisa mengenali tanda-tanda akan terjadinya bencana alam, kami mendorong masyarakat untuk bisa lebih mandiri sehingga mitigasi bencana bisa berjalan dengan baik, pintanya. Dwi menuturkan, dalam beberpaa waktu terakhir ini pihaknya mengundang sejumlah perwakilan dari tingkat desa dan kecamatan untuk mendapatkan sosialisasi tentang kebencanaan menghadapi musim hujan ini, terutama bencana tanah longsor. Dengan kondisi geografis Temanggung berupa pegunungan maka rawan terjadi tanah longsor, terutama saat musim hujan. Ada 15 kecamatan dari 20 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang merupakan daerah rawan longsor. Beberapa hari lalu kami mengundang perwakilan masyarakat dari tiga desa dan tiga kecamatan rawan bencana, yakni Kecamatan Kledung, Tembarak, dan Pringsurat. Kegiatan ini kami lakukan secara bertahap sehingga tetap bisa menjaga protokol kesehatan, katanya. Adapun materi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, antara lain pengenalan aplikasi sistem informasi notifikasi kebencanaan (Sinotika) untuk mempercepat penanganan bencana, langkah-langkah laporan dalam Sinotika, dan penanganan bencana di daerah. Jangan sampai nanti desa tidak tahu mau lapor kemana jika terjadi suatu bencana,katanya. Dwi berharap melalui kegiatan tersebut pihak desa maupun kecamatan siap betul dalam penanganan bencana dengan melibatkan semua kalangan. Sehingga tidak harus menunggu dari tim SAR BPBD untuk melakukan penangaanan pertama pada bencana alam. Terutama untuk penanganan pertama, masyarakat harus bisa menguasai,ini sebagai langkah awal mengurangi korban bencana alam dan mengatasi bencana alam,tutupnya.(set)