Kondisi Tiga Gunung Pengaruhi Mata Air di Temanggung

magelangekspres 23-10-20 02:16 nasional

MAGELANGEKSPRES.COM,TEMANGGUNG Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Temanggung melihat kondisi alam dan lingkungan di lereng Gunung Sindoro, Sumbing serta Gunung Perahu sudah cukup parah. Kondisi ini sangat mempengaruhi ketersediaan mata air bersih di kabupaten penghasil tembakau ini. Sebagian besar kerusakan alam di ketiga gunung tersebut akibat ulah manusia, kata Kepala DLH Temanggung Entargo Yutri Wardono, kemarin. Sekarang katanya, akibat ulah manusia tersebut dampaknya juga sudah mulai dirasakan, tidak kurang dari ratusan mata air di sekitaran ketiga gunung tersebut sudah mati. Dampaknya memang tidak secara langsung dirasakan, nah sekarang ini dampaknya mulai terasa. Sumber mata air yang biasanya besar dan bisa mencukupi kebutuhan sudah tidak ada lagi. Jumlahnya tidak sedikit, terangnya. Menurutnya, dampak paling dirasakan yakni saat memasuki musim kemarau, tidak sedikit daerah di ketiga lereng gunung tersebut yang masyarakatnya mengalami kekurangan air bersih. Oleh karena itu, untuk menangulangi dan mengembalikan kondisi alam di ketiga gunung tersebut, pihaknya tengah menyiapkan program penanaman kembali. Program ini disebut dengan program sabuk gunung. Baca juga Tak Pakai Masker, 60 Orang yang Terjaring Operasi Yustisi Disanksi Sosial Program sabuk gunung ini dalam rangka konservasi lahan di Gunung Sumbing, Sindoro, Prau. Rencana kegiatannya di tahun 2021, melalui gerakan di masyarakat. Ini termasuk dalam rangka pelestarian alam, menghidupkan ratusan mata air yang telah surut (kering). Jadi merupakan program jangka panjang, agar hasilnya juga bisa dinikmati anak cucu, katanya. Melalui program ini akan dilakukan konservasi pada lahan-lahan kritis di punggung tiga gunung tersebut. Untuk penggarapan program ini Pemkab Temanggung akan menggelontorkan dana sebesar Rp9 miliar yang bersumber dari APBD. Menurut Entargo saat ini timnya sudah mulai bergerak dengan melakukan sosialisasi dan edukasi, termasuk pendekatan budaya kepada masyarakat, terutama yang tinggal di kawasan tiga gunung tersebut. Selanjutnya akan dilakukan penghijauan menggunakan tanaman keras, atau tanaman buah-buhan yang memiliki nilai ekonomi, sehingga masyarakat mendapatkan penghasilan tambahan. Dikatakan, nantinya ada satu desa yang akan menjadi pilot project atau desa binaan di setiap kecamatan, lalu pada tahap berikutnya desa tersebut akan mejadi percontohan (direplikasi) bagi desa-desa lain. Konservasi di lahan yang membentang di tiga gunung tersebut melingkupi 12 kecamatan mulai Selopampang, Tembarak, Tlogomulyo, Bulu, Parakan, Bansari, Ngadirejo, Wonoboyo, Tretep dan lain-lain. Penghijauan juga termasuk memanfaatkan lahan tidak produktif artinya yang selama ini tidak digarap akan ditanami. Penghijauannya dengan tanaman tahunan bukan tanaman musiman, seperti macadamia sehingga ada nilai ekonominya agar nanti masyarakat juga mendapat hasil, dalam waktu lima tahun sudah tumbuh. Kita tidak akan menghilangkan tanaman tembakau, hanya mensubtitusi tembakau tetap ada dan diversifikasi dengan tanaman lain supaya ekonomi tetap berjalan, katanya. Salah satu tanaman yang akan ditanam adalah macadamia, spesies tumbuhan dari familia protoceae. Kelebihan tanaman ini selain untuk konservasi juga bijinya yang seperti kacang almond memiliki rasa enak seperti mentega dan harganya bisa mencapai Rp70.000 per kilogram, bahkan bisa sampai ratusan ribu rupiah. Selain konservasi juga bisa menambah penghasilan masyarakat, dengan demikian ke depan kesejahteraan masyarakat bisa semakin meningkat, harap Entargo. (set)