Belum Bebas Malaria, Pemkab Purworejo Targetkan Elimininasi Tahun Depan

magelangekspres 21-10-20 01:51 nasional

MAGELANGEKSPRES.COM,PURWOREJO Kabupaten Purworejo menjadi salah satu wilayah yang belum bebas penyakit malaria. Bersama dengan Kabupaten Banjarnegara, Purworejo belum dapat eliminasi kasus malaria. Dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah, sudah 33 daerah yang bebas penyakit tersebut. Purworejo dan Banjarnegara menjadi dua dari kabupatan/kota di Jawa Tengah yang belum tereliminasi dengan malaria. Ini tidak kalah membahayakannya jika kita lupa bahwa posisi kita masih rentan. Jika satu tahun lagi tidak ada kasus malaria indigenous (malaria setempat), maka tahun 2021 Insya Allah eliminasi, kata Pjs Bupati Purworejo Ir Yuni Astuti MA. Hal itu dikatakannya saat menghadiri rapat koordinasi persiapan eliminasi malaria Kabupaten Purworejo di Sanjaya Hotel Purworejo, Selasa (20/10). Rakor dihadiri Kasi Pencegahan Subdit Malaria Kemenkes RI dr Desriana E Ginting MARS, Perwakilan WHO Jana Fitria Kartikasari SKM MKes, pejabat DKK Provinsi Jawa Tengah Tri Dewi Kristini SKM MEpid dan Kadinkes Purworejo dr Sudarmi MM. Rakor diikuti para Kepala UPT Puskesmas se Kabupaten Purworejo. Pjs Yuni menambahkan, saat ini Pemkab sedang fokus untuk mengendalikan Covid-19 di Kabupaten Purworejo. Namun pihaknya juga tidak akan melupakan penanganan malaria, yang potensinya masih cukup besar. Kita sangat fokus untuk pengendalian Covid-19 tetapi jangan lupa penanganan kasus malaria. Malaria di Purworejo itu laten, karena kita punya bukit menoreh sebagai tempat bersemayam nyamuk anopheles, terangnya. Baca Juga Satu Pegawai Terkonfirmasi Covid-19, Dindukcapil Temanggung Batasi Layanan hanya 30 Orang Pada kesempatan itu, dirinya juga berpesan agar Puskesmas sebagai garda terdepan dalam pelayanan kesehatan masyarakat dapat menjankan tiga fungsinya dengan baik. Baik sebagai tempat pelayanan kesehatan, surveilans maupun sebagai penyuluh. Jadi selain melayani kesehatan, fungsi surveilans dan penyuluh juga harus menjadi perhatian teman-teman di Puskesmas. Karena itu adalah upaya preventif. Jadi akan jauh lebih murah penanganan kesehatan masyarakat itu jika kita juga aware atau sadar terhadap fungsi penyuluhan dan surveilans, imbuhnya. Sementara itu Sudarmi menjelaskan, kasus malaria indigenous terakhir terjadi pada bulan November 2018. Sejak saat itu tidak ada lagi kasus malaria indigenous, namun yang terjadi adalah kasus malaria impor atau yang berasal dari luar. Kalau tiga tahun berturut-turut kita tidak ada kasus malaria indigenous, pada tahun 2021 akhir kita sudah bisa eliminasi malaria dan akan terus kita pertahankan, kata Sudarmi. Untuk mencapai eliminasi itu, lanjut Sudarmi, beberapa hal perlu dilakukan. Salah satunya melakukan optimalisasi surveilans migrasi dengan pemberdayaan masyarakat. Hadirnya proyek strategis YIA, Bendungan Bener dan BOB dapat dijadikan motivasi bagi masyarakat untuk terus berbenah, salah satunya dengan mengeliminasi malaria. Masyarakat sekarang sudah pada aware terhadap malaria, sudah bagus. Mari kita bersama-sama menjaga Purworejo supaya bisa bebas atau eliminasi malaria dan mempertahankannya. Juga semoga pasien kasus terkonfirmasi Covid-19 di Purworejo dapat segera sembuh, pungkas Sudarmi. (luk)