SDM dan bahan baku jadi kendala pada industri tekstil

antarajateng 24-09-20 18:45 ekonomi

Solo (ANTARA) - Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menyatakan ketersediaan sumber daya manusia (SDM) dan bahan baku menjadi kendala pada produksi industri tekstil selama pandemi COVID-19. "Saat awal pandemi kan banyak industri yang mengurangi operasionalnya, secara internal ketika ada pembatasan, perusahaan juga diminta membatasi aktivitas. Bahkan ada beberapa yang menutup kantornya, sehingga pekerja harus dirumahkan dan karyawan akhirnya cari pekerjaan baru," kata pengurus API Jawa Tengah Lilik Setiawan di Solo, Kamis. Ia mengatakan sebagian pekerja juga kembali ke daerah asal sehingga kondisi tersebut berdampak pada perusahaan yang kesulitan untuk memperoleh SDM. Sedangkan dari sisi eksternal, dikatakannya, sampai saat ini industri dalam negeri masih sangat bergantung pada komponen impor. Bahkan, komponen impor yang dibutuhkan masih mencapai 90 persen. "Pada saat ini, semua Negara yang dulunya mengekspor bahan baku tekstil saat ini mengurangi volume ekspornya karena mereka juga harus memenuhi kebutuhan dalam negeri mereka dulu," katanya. Baca juga: Warga Soropadan Temanggung keluhkan limbah pabrik tekstil cemari Sungai Elo Mengenai bahan baku sendiri, pihaknya berharap agar segera dilakukan swadaya dalam negeri sehingga tidak perlu lagi mendatangkan dari Negara lain. "Sebetulnya sejak tahun 2006 sudah saya katakan pentingnya swadaya industri dasar khususnya serat, apalagi tekstil merupakan penyumbang devisa terbesar di luar migas. Celakanya kita 'nggak' punya industri bahan baku, bahan baku hanya dua yaitu serat alam yang mayoritas kapas dan serat buatan. Khususnya serat buatan, kita tidak punya," katanya. Berdasarkan data, dikatakannya, nilai ekspor tekstil dan produk tekstil selama tahun 2019 secara nasional mencapai 12,18 miliar dolar AS, sehingga sektor ini menjadi penghasil devisa terbesar selain migas dan menjadi sektor penyerap tenaga kerja yang cukup besar. "Sektor ini juga menjadi jejaring pengaman sosial bagi pemerintah, karena kalau industrinya sampai kolaps maka banyak lapangan pekerjaan yang tutup, (pemerintah) harus mencari lapangan pekerjaan pengganti yang itu tidak mudah dilakukan. Oleh karena itu, kendala SDM dan bahan baku ini harus segera diberikan solusi," katanya. Baca juga: Disperindag Jateng: PHK bukan karena sektor tekstil sedang lesu