Heli Basarnas Jatuh di Temanggung, Sempat Terdengar Ledakan Keras

radarsemarang 03-07-17 06:26 otomotif

TEMANGGUNG Tuwel, 40, dan beberapa warga Desa Canggal Bulu, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, sore itu (2/7), tengah bercengkerama di lapangan desa. Mereka tengah ngobrol santai seputar Lebaran. Bersama sejumlah warga, Tuwel yang mengenakan jaket tebal karena cuaca dingin dan berkabut, tak sengaja melihat helikopter berwarna oranye melintas di atas langit Canggal Bulu. Heli yang belakangan diketahui milik Basarnas itu, terbang rendah dan semakin menjauh. Suaranya semakin lirih, menuju pegunungan Butak, anak gunung Sumbing. Belum sempat melanjutkan obrolannya, Tuwel dan warga Canggal Bulu lainnya, dikejutkan dengan bunyi ledakan. Sangat keras, ucapnya. Tuwel dan warga lain pun menduga, suara ledakan itu berasal dari helikopter yang baru saja melintas di atas Desa Canggal Bulu. Untuk diketahui, Canggal Bulu terletak di ketinggian 1.356 m dari permukaan laut. Berjarak 11 km dari ibu kota Kecamatan Candiroto dan 22 km dari ibu kota Kabupaten Temanggung. Desa Canggal Bulu salah satu dari 14 desa di Kecamatan Candiroto. Desa ini merupakan desa tertinggi di antara desa lainnya dengan total penduduk 1668 jiwa. Mayoritas penduduknya petani dan pekebun. Yang kami lihat, heli awalnya terbang semakin rendah seperti akan turun, katanya kepada wartawan. Karena sore itu cuaca berkabut tebal, warga tidak sepenuhnya bisa melihat. Nah, selang beberapa menit kemudian, terdengar suara mesin heli semakin keras dan terdengar suara ledakan. Tuwel dan warga lainnya berlarian menuju lokasi. Mereka melihat helikopter yang mengangkut 4 rescuer dan 4 awak heli itu, jatuh di lereng Gunung Butak. Tubuh heli tercerai-berai. Berkeping-keping. Warga lantas melaporkan kejadian itu kepada Koramil dan Polsek Ngadirejo, Candiroto. Komandan Kodim 0707/Wonosobo Letkol (Czi) Dwi Hariyono yang melakukan evakuasi langsung di lokasi kejadian tadi malam menuturkan, sekitar pukul 12.30, pihaknya mendapatkan informasi adanya ledakan di Kawah Sileri, Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Nah, ketika Dandim hendak menuju ke lokasi kawah Sileri, ada telepon dari pihak Basarnas yang hendak memantau lokasi kawah Sileri menggunakan helikopter. Karena cuaca Dieng berkabut, kami menyarankan agar helikopter tidak mendarat di Dieng, kata Letkol Dwi kepada Jawa Pos Radar Kedu. Setelah itu, kata Dwi, dari pihak Basarnas berniat tetap menggunakan helikopter. Oleh Dandim, disarankan mendarat di lapangan Kalianget, Wonosobo. Lokasi ini sering digunakan landing helikopter. Namun, hingga pukul 15.00, Dandim tidak mendapatkan informasi lagi tentang rencana Basarnas tersebut. Kami sudah menyiapakan helipad di lapangan Kalianget. Sudah kami kondisikan, namun tidak ada info. Kemudian, saya kemudian meluncur ke Kawah Sileri, ucapnya.