Hujan Berpotensi di Wilayah Ini, Berikut Prakiraan Cuaca Jawa Tengah Hari Ini Sabtu 15 Agustus 2020

tribunnews 15-08-20 10:37 nasional

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Berikut prakiraan cuaca dan peringatan dini di Jawa Tengah hari ini, Sabtu (15/8/2020), dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Menurut Forecaster BMKG Kelas II Ahmad Yani Semarang MS Fuad A, langit pada umumnya diprakirakan cerah berawan. Ada juga potensi hujan ringan yang tersebar tidak merata di wilayah Jateng antara siang, sore hingga awal malam. Hujan ringan hingga sedang bahkan lebat dengan durasi singkat berpotensi terjadi di wilayah pegunungan tengah, sebagian Pantura barat-tengah sisi selatan. Sementara itu, laman resmi prakiraan cuaca memprakirakan bahwa sejumlah wilayah berpotensi mengalami hujan lokal dan hujan ringan pada siang hari. Wilayah itu yakni Banjarnegara, Cilacap, Kajen, Magelang, Purworejo, Temanggung dan Wonosobo. Hujan ringan hingga sedang juga berpotensi terjadi di lebih banyak wilayah pada malam hari. Wilayah itu yakni Banjarnegara, Blora, Boyolali, Cilacap, Demak, Jepara, Karanganyar, Kendal, Kudus, Magelang, Mungkid, Pati, Purbalingga, Purwodadi, Purwokerto, Purworejo, Rembang, Salatiga, Semarang, Sragen, Sukoharjo, Surakarta, Temanggung, Ungaran dan Wonosobo. Suhu udara di seluruh wilayah mulai dari 19 dan mencapai 34 derajat Celcius. Kelembaban udara di seluruh wilayah berkisar antara 55 hingga 95 persen. BMKG juga mengeluarkan peringatan dini adanya potensi hujan dan gelombang tinggi.Potensi hujan sedang (lebat berdurasi singkat) di sebagian Pegunungan Jateng bagian Barat pada sore hari. Potensi tinggi gelombang 1.25 - 2.5 m di wilayah Perairan Utara Jateng, 2.5 - 4.0 m di wilayah Perairan Selatan Jateng, dan 4.0 - 6.0 m di wilayah Samudera Hindia Selatan Jateng, tulis BMKG. Perlu diketahui, wilayah Jawa Tengah sendiri sudah memasuki masa musim kemarau pada Mei 2020 lalu. Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Semarang Iis Widya Harmoko mengatakan bahwa menjelang dan pada puncak musim kemarau, langit pada umumnya cerah atau hampir tidak ada awan pada sepanjang hari. Kondisi tersebut menyebabkan energi matahari tidak banyak mengalami halangan untuk masuk permukaan bumi sehingga suhu pada siang hari menjadi terasa lebih hangat. Beberapa hari belakangan (langit) hampir tidak ada awan, clear.Ketika tidak ada perawanan, energi masuk tanpa menghalangi sehingga udara terasa panas dan kering, ungkapnya ketika dihubungi Tribunjateng.com, Minggu (26/7/2020) lalu. Sedangkan, lanjutnya, pada malam hari energi yang diserap akan dilepaskan kembali langit dan bisa berlangsung lebih maksimal karena langit yang cerah. Dengan begitu udara menjadi terasa lebih dingin dibanding musim sebelumnya.Pelepasan energi matahari yang terserap oleh bumi pada malam hingga dini harinya tidak terhalangi awan, itulah kenapa udara menjadi dingin, imbuhnya. Ia juga menjelaskan mengapa saat mendung atau langit berawan tebal suhu udara justru terasa lebih hangat. Energi matahari saat dilepaskan bumi ada yang terhalangi awan kemudian ada yang memantul kembali ke bawah. Efek saling memantul itu yang bikin udara lebih panas dan gerah. Energi matahari ketika melewati sesuatu sebenarnya ada yang diserap dan ada yang dipantulkan kembali, pungkasnya. Bagi Anda yang akan beraktivitas di wilayah Jateng, harap gunakan peralatan yang sesuai dengan cuaca yang diprakirakan di atas. Seluruh informasi prakiraan cuaca ini berdasarkan data dari sumber resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). (tribunjateng/rez)