Penderita Lupus Itu Tak Lagi Bingung Berobat

radarsemarang 23-06-17 07:40 otomotif

Tak satu pun orang menginginkan sakit. Tapi, sakit bisa datang kapan saja. Sakit juga bisa berimplikasi pada kondisi perekonomian, karena biaya pengobatan yang mahal. Harta bisa ludes karena sakit. Beruntung, melalui Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, pemerintah telah memberikan Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) bagi penduduk negeri ini yang tengah sakit untuk berobat hingga sembuh. SEKILAS, tak ada yang menyangka bahwa Novita Handayani, 45, warga Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, tengah mengidap sakit. Sejak dua tahun lalu, ia rutin berobat ke rumah sakit. Malah, bisa dibilang, perempuan bersahaja itu sudah bolak-balik ke rumah sakit untuk mengecek kondisi penyakitnya. Tapi, seulas senyum terus mengembang dari bibir Novidemikian perempuan itu biasa disapa. Sembari membuat aneka olahan cokelat yang menjadi ladang bisnisnya bersama sang suami, Galih Santoso, Novi mengaku bersyukur ikut dalam kepesertaan BPJS untuk kategori Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) alias kepesertaan mandiri. Apa yang diderita Novi? Ia menderita penyakit Lupus eritematosus sistemik (systemic lupus erytheatosus/SLE) sejak dua tahun lalu. Novi berlatarbelakang keluarga berkecukupan. Sang suami, Galih, berprofesi sebagai seorang konsultan teknologi informasi (TI), manajemen, dan keuangan. Toh, ketika pemeriksaan awal-awal penyakitnya, Novita dan suami dibuat kaget dengan tagihan biaya berobat. Baru cek laboratorium saja, sudah habis Rp 1,5 juta. Belum yang lain-lain, kenang Novi. Padahal, pengobatan penyakit Lupus-nya tak cuma sekali. Agar sembuh, Novi harus intens berobat. Saat itu, Novi menyesal tidak menggunakan kartu BPJS Kesehatan. Padahal, ia peserta mandiri aktif. Novi dan suami rajin membayar iuran BPJS Kesehatan. Waktu itu, yang terbayang dalam pikiran Novi, menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan akan ribet, banyak persyaratan, dan khawatir mendapatkan perlakuan berbeda. Mindset itu terbangun karena cerita miring tentang pelayanan kesehatan yang menganaktirikan peserta JKN-KIS. Nah, baru pada pemeriksaan lanjutan, dokter justru menyarankan Novi agar menggunakan kartu JKN-KIS. Sebab, diagnosa dokter menyatakan bahwa Novita mengidap penyakit Lupus dan harus menjalani pengobatan cukup panjang. Saya percaya, dokter tahu yang terbaik untuk pasiennya. Karena itu, setiap periksa, saya mengikuti prosedur BPJS Kesehatan, ungkapnya. Ia tak bisa membayangkan, tanpa JKN-KIS, penyakit Lupus bisa saja menggulung perekonomian keluarganya. Mungkin saja, ketiga anaknya bisa putus sekolah. Maklum, perempuan kelahiran Semarang, 13 November 1972 itu harus sering keluar masuk rumah sakit. Setiap transfusi darah, menghabiskan hingga 6 kantong. Hampir setiap minggu, saya harus ke RSUP Dr Sardjito dan baru-baru ini ada beberapa penyakit lain yang dipicu Lupus, hingga akhirnya saya menjalani operasi pengangkatan rahim. Saya mencari informasi, biayanya mencapai Rp 30-40 juta. Tapi dengan JKN-KIS, saya tidak mengeluarkan uang sepeser pun, tuturnya. Galih Santoso, suami Novita ini merasakan betul manfaat program BPJS Kesehatan. Adanya JKN-KIS, ia tak lagi memeras otak untuk memikirkan biaya pengobatan istri. Menurut Galih, manfaat yang diterimanya lebih besar, ketimbang iuran yang dibayarkan setiap bulannya untuk 5 anggota keluarga. Dulu, saya berpikir BPJS Kesehatan ini mirip asuransi-asuransi pada umumnya. Jujur saya pernah mengalami hal yang kurang mengenakkan, saat hendak mengklaim, saya dipersulit dan apa yang saya dapatkan tidak sesuai yang iming-iming yang disampaikan sebelumnya. Ternyata, dugaan saya salah. BPJS Kesehatan tidak seperti itu, bebernya. Sebaliknya, BPJS Kesehatan menyelamatnya nyawa istrinya. Padahal, saat mendaftar sebagai peserta mandiri, sangat mudah. Ia tak menyangka, Pemerintah Indonesia meluncurkan kebijakan untuk menjamin kesehatan nasional. Kalau di luaran banyak yang ngomong pakai JKN-KIS masih dibedakan, masih bayar tambahan ini dan itu, jujur saya tidak mengalami. Kita bisa merasakan manfaatnya kalau kita mengikuti prosedurnya. Toh, dari seribu sisi baik JKN-KIS, ia masih melihat kekurangan BPJS Kesehatan. Ia menyoroti pelibatan peserta (pasien) dan keluarga pasien dalam mengurus surat eligibilitas peserta (ESP) di BPJS Center yang berada di rumah sakit (RS). Dari hal yang dialami, Galih berkomitmen ikut menyukseskan program JKN-KIS. Ia mengajak teman-teman dan saudaranya untuk segera mendaftar menjadi peserta. Sakit tidak sakit, harus segera mendaftar. Kita harus punya pelindung, jika sewaktu-waktu kita jatuh sakit. Menurut Galih, adanya JKN-KIS mampu mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Istrinya punya semangat tinggi untuk mengisi hari dengan kegiatan positif. Saat ini, bersama sang istri, ia merintis sebagai pengusaha makanan serba cokelat. Istri saya sudah nggak kepikiran kalau sakit, besok akan berobat ke mana dan harus bagaimana. Sekarang ini yang dipikirkan adalah membesarkan usaha kami, ucapnya tersenyum. Galih mengaku bersyukur, istrinya tetap produktif, meski dalam kondisi sakit. Uang hasil usaha bisa digunakan sebagai biaya pendidikan, juga menabung. Terpisah, Kepala BPJS Kesehatan Kantor Cabang Magelang, Surmiyati mengatakan, masyarakat yang terdaftar menjadi peserta JKN-KIS di kantor BPJS Kesehatan Cabang Magelang mencapai 1.384.400. Jika dirinci per wilayah kerja, sebanyak 805.030 peserta berasal dari Kabupaten Magelang, 93.202 dari Kota Magelang dan 486.168 dari Kabupaten Temanggung. Dikatakan, jumlah peserta PBI APBN hingga per Mei 2017 mencapai 902.067. Sedangkan Jamkesda/PBI APBD sebanyak 72.623, pekerja penerima upah (PPU) 215.970, terakhir dari kategori bukan pekerja (BP) sebanyak 64.961. Surmiyati menyadari, sebagian masyarakat masih ada yang pikir-pikir jika mendaftar jadi peserta. Penyebabnya, masih ada pemahaman-pemahaman keliru tentang BPJS Kesehatan. Ia menjelaskan, perlindungan kesehatan nasional di Indonesia menggunakan sistem asuransi sosial alias bukan dari pajak. Prinsip asuransi ini, semua peserta wajib membayar iuran. Pun, pelayanannya bersifat sama. Yang membedakan hanya paket nonmedis. Seperti di kelas I, ruangannya ada fasilitas televisi, kulkas, mungkin juga alat pendingin ruangan. Tapi kalau obat, dokter, dan pelayanannya tetap sama dengan kelas-kelas yang lain. Secara umum, manfaat yang diperoleh peserta JKN-KIS adalah mendapatkan jaminan kesehatan. Seluruh pelayanan diberikan secara komperhensif. Mulai dari promotif preventif, kuratif dan rehabilitatif. Mulai dari pelayanan kesehatan tingkat dasar, sampai tingkat lanjutan. Keberadaan program JKN-KIS dimanfaatkan secara baik oleh masyarakat. BPJS Kesehatan Cabang Magelang mencatat, rata-rata jumlah kasus/kunjungan rawat jalan tingkat lanjutan sebanyak 59.175/bulan. Sedangkan jumlah kasus/kunjungan rawat inap tingkat lanjutan sebanyak 7.216. Direktur RSUD Tidar Magelang, dr Sri Harso mengungkapnya, sekitar 90 persen pasien berobat merupakan peserta JKN-KIS. Selama ini, klaim biaya pengobatan pasien lancar. Pun, di Rumah Sakit Aisyiyah Muntilan (RSAM), Kabupaten Magelang, juga melayani pasien pemegang JKN-KIS. Kini, BPJS Kesehatan KC Magelang telah bekerjasama dengan 145 fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP). Terdiri atas 58 Puskesmas, 19 Klinik Pratama, 53 Dokter Praktik Perorangan, dan 15 Dokter Gigi Praktik Perorangan. Selain itu, bermitra dengan 14 Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKTRL) yang mencakup 14 rumah sakit, 17 apotek dan 9 optik. (puput/isk)