Cerita Unik dari Kampung-kampung Lockdown Covid-19 di Magelang saat Merayakan Lebaran

magelangekspres 28-05-20 02:11 nasional

MAGELANGEKSPRES.COM,Lebaran 2020 dirayakan dalam suasana berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Suasana lockdown akibat pandemi Covid-19 terlihat di kampung-kampung di wilayah Kota dan Kabupaten Magelang, Temanggung, Wonosobo dan Purworejo. Banyak cerita unik selama masa lockdown yang diberlakukan di kampung-kampung tersebut, mulai dari warga yang ditolak pulang ke rumahnya, terpaksa jalan kaki dan menitipkan motornya di rumah warga tetangga hingga warga lain yang nekad masuk ke kampung lockdown dengan berjalan kaki dan meninggalkan motor di pos penjagaan yang dijaga warga. Dalam suasana pandemi Covid-19, sejumlah warga tetap merayakan Lebaran, meski dalam keterbatasan. Kondisi pandemi menjadikan warga lebih berhati-hati saat merayakan Lebaran. Gema suara takbir dari masjid-masjid dan tanah lapang yang menggelar salat Id, sudah tak terdengar lagi. Masjid-masjid terlihat tutup, di pintu gerbang atau dinding terpampang pengumuman, yang menjelaskan bahwa masjid tersebut tidak menyelenggarakan salat Id sesuai imbauan pemerintah. Tradisi saling bersalaman yang biasa dilakukan umat Muslim seusai salat Id tak terlihat lagi. Suasana jalan-jalan juga terlihat lengang. Praktis suasana Lebaran tahun lalu tak terlihat dalam Lebaran tahun ini. Memang ada sejumlah kampung yang menggelar salat Id di masjid, namun dalam skala terbatas atau hanya untuk warga setempat. Itu pun disertai sejumlah aturan ketat, yang harus dipatuhi, diantaranya, jamaah harus memakai masker, membawa alas atau sajadah serta jarak antara jamaah diatur agar tidak berdekatan. Seusai salat Id, mereka dilarang bersalaman dan bersilaturahim dengan tetangga maupun sanak saudara. Baca Juga Kota Magelang Mulai Siapkan Konsep New Normal Peningkatan jumlah pasien positif Covid-19 jelang Lebaran, khususnya di wilayah Kabupaten Magelang, Temanggung, Wonosobo dan Purworejo menjadikan warga lebih berhati-hati dan waspada. Sejumlah kampung yang selama ini terbebas dari Covid-19 pun memilih memproteksi diri, melakukan lockdown dengan membatasi akses warga kontak dengan warga lain. Aksi lockdown yang ditandai dengan penutupam akses jalan atau gang di kampung-kampung sebenarnya sudah dilakukan sejak Maret saat virus Corona mulai menyebar di berbagai wilayah di Indonesia, namun jelang Lebaran, lockdown semakin diperketat. Sejumlah kampung melakukan lockdown secara bervariasi, ada yang selama 3 hari, 5 hari, bahkan ada yang sampai 7 hari. Lockdown sudah dimulai sejak H-1 Lebaran. Selama masa lockdown, warga dari dalam tidak boleh keluar dan warga luar tidak boleh masuk. Setiap kampung hanya menggunakan satu akses jalan utama yang dijaga oleh warga secara bergilira. Kebijakan tersebut untuk menghindari kontak langsung dengan warga lain yang bisa berpotensi terpapar Covid-19. Setiap kampung mempunyai aturan sendiri-sendiri saat masa lockdown, seperti di kampung Jlodran, Desa Jambewangi, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang. Semua akses jalan menuju kampung tersebut ditutup, kecuali jalan utama yang dibuka dan dijaga warga. Meski ada yang jaga tapi warga tidak bisa keluar masuk secara bebas. Selama pemberlakuan lokcdown, warga setempat memang tak diizinkan meninggalkan kampung, demikian pula warga luar pun tak boleh masuk kampung tersebut. Warga yang melanggar aturan harus siap menanggung konsekuensi. Seperti, ada warga yang nekad keluar melalui akses jalan desa tetangga, saat akan pulang ditolak, tidak boleh masuk. Namun, berkat kebaikan warga Tegalsari, dia bisa pulang dengan berjalan kaki lewat jalan setapak dan menitipkan motornya di rumah warga setempat. Selama lockdown, akses jalan yang melewati kebun warga itu dimanfaatkan warga Jlodran keluar karena ada keperluan. Lain halnya dengan lockdown yang dilakukan di Kampung Tegalsari, Desa Jambewangi, Kecamatan Secang, yang tidak memberlakukan aturan secara ketat. Ada tiga akses jalan masuk, namun yang ditutup total hanya satu, dua jalan yang lain, yang berada di selatan dan utara diberlakukan buka tutup bagi warga setempat yang ingin keluar masuk. Bagi warga dari luar tidak diizinkan berkunjung ke kampung tersebut. Larangan menerma tamu dari luar sudah dipasang di portal bambu penutup jalan. Meski sudah dilarang, masih ada warga dari luar daerah yang nekad masuk dengan memanfaatkan akses jalan yang bisa dibuka dan ditutup oleh warga yang ingin keluar masuk. Longgarnya akses masuk ke Kampung Tegalsari dimanfaatkan oleh warga lain yang ingin mengunjungi saudaranya di kampung tersebut maupun kampung tetangga. Bahkan, ada warga yang rela meninggalkan motornya di pinggir jalan dan nekad masuk berjalan kaki dengan mbrobos atau menggeser portal bambu yang bisa dibuka tutup. Sejumlah kampung yang berbatasan dengan Desa Krincing, Kecamatan Secang, khususnya yang berdekatan dengan pondok pesantren, memilih menutup diri dan menolak warga luar, terutama dari Krincing berkunjung. Tindakan warga tersebut bukan tanpa alasan. Sebab, Desa Krincing masuk zona merah setelah puluhan warga setempat, terutama dari pondok pesantren dinyatakan positif Covid-19. Seperti yang dilakukan di Kampung Kerten, yang memilih melakukan lockdown dan baru membuka diri selama 4 hari, setelah warga Krincing menjalani rapid test. Di Kerten, lokcdown 4 hari, setelah warga Ngloji, Bangsren dan Gunung Lawak, semuanya masuk Desa Krincing, melakukan rapid test, baru desa kami berani membuka diri karena dirasa sudah aman, terang Ahmad, warga Kerten. Demikian juga di Kampung Dumpoh, Kelurahan Potrobangsan, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang dan Kampung Klontong, Desa Jambewangi, Secang, juga memberlakukan lockdown ketat. Semua akses jalan menuju kampung tersebut ditutup, kecuali jalan utama yang dijaga oleh warga. Itu pun hanya akses bagi warga setempat yang mengendarai motor maupun pejalam kaki, bagi tamu dari luar dilarang masuk selama masa lockdown. Aksi lockdown yang dilakukan di kampung-kampung tersebut sebagai salah satu upaya masyarakat membantu pemerintah memerangi narkoba. Sekaligus untuk menjaga diri agar kampung-kampung tersebut bebas Covid-19, tak ada warganya yang terpapar virus yang telah merenggut jutaan nyawa manusia di dunia. Aksi warga tersebut patut diapresiasi sebagai langkah positif. Semoga dukungan warga dalam tindakan nyata tersebut bisa berbuah manis, setidaknya mampu menekan atau bahkan menurunkan grafik penyebaran virus Corona di daerah. (joko suroso)