Putihkan Bawang dengan Kimia

radarsemarang 17-06-17 08:20 teknologi

TEMANGGUNG- Satgas Mafia Pangan Polres Temanggung menggerebek rumah Sutikno di lereng Gunung Sindoro, Desa Gejagan Kecamatan Ngadirejo, Jumat (16/6). Sutikno ditangkap karena menjual bawang putih yang telah lebih diputihkan warnanya menggunakan bahan kimia. Kapolres Temanggung AKBP Maesa Soegriwo mengatakan, pengungkapan kasus bermula dari penelusuran Satgas Mafia Pangan Polres Temanggung dalam beberapa waktu terakhir. Hasil penyelidikan mengarah pada Sutikno. Kami temukan barang bukti, tersangka tengah memproses bawang putih dengan cairan kimia di rumahnya saat digerebek, katanya. Dari penyelidikan diketahui,tersangka mendatangkan bawang putih bersiung tunggal atau bawang lanang dari Surabaya. Bawang putih ini adalah hasil impor dari Tiongkok dan masih berwarna kusam. Bila dijual ke pasar, harganya sekitar Rp 35 ribu per kilogram. Tersangka kemudian memutihkan bawang tersebut agar harga jualnya lebih mahal, dua hingga tiga kali lipat. Adapun cara memutihkan menggunakan cairan kimia, yakni dicuci dengan cairan kaporit yang dicampur hidrogen peroksida berkadar 50 persen. Agar tidak bau, proses akhir dibilas cairan pencuci piring dan dijemur. Warna kulit bawang menjadi putih dan menarik konsumen. Cara ini selain merugikan konsumen juga petani bawang putih lokal, terang Maesa. Dari tangan tersangka, petugas mengamanakan beberapa barang bukti. Di antaranya ratusan kilogram bawang putih siap edar dan bawang putih impor yang baru didatangkan, zat kimia berupa kaporit, hidrogen peroksida berkadar 50 persen, cairan pencuci piring dan mesin pengaduk rakitan yang dipergunakan untuk mencampur bahan. Bawang putih hasil olahan dengan zat kimia berbahaya yang kita sita ini selanjutnya kita diteliti ke di laboratorium. Atas perbuatannya ini, tersangka dijerat dengan pasal 126 pasal Undang-undang 18 tahun 2012 tentang Pangan dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara. Kasatreskrim Polres Temanggung AKP Dwi Haryadi menambahkan, industri pemutih bawang dengan zat kimia itu sudah beroperasi dalam satu tahun terakhir. Biasanya bawang dijual ke Pasar Bringharjo Jogjakarta. Sejauh ini polisi belum menemukan adanya bawang putih berbahan kimia di pasar tradisional Temanggung. Namun pihaknya, masih terus mencarinya. Motif tersangka pelaku untuk mendapatkan keuntungan lebih besar, katanya. Selama ini, bawang putih impor dibeli tersangka dengan harga Rp 20 ribu per kilogram dan laku dijual Rp 30 ribu per kilogram. Namun setelah diproses dengan zat kimia tersebut, harga dapat berlipat menjadi Rp 90 ribu perkilogram. Bawang putih lanang banyak diburu warga karena dapat untuk obat dan harganya juga mahal, katanya. Kepada petugas, Sutikno mengaku nekat melakukan ini agar mendapatkan keuntungan berlipat. Ia mengetahui kalau perbuatannya itu melanggar hukum. Tiap bulan, saya dua kali mendapat pasokan bawang putih bersiung tunggal dengan sekali pasokan sekitar 100 kilogram. Setelah diproses dikirim ke Pasar Bringharjo Jogjakarta dengan keuntungan sekitar Rp 1,5 juta sekali memasok, akunya. (san/ton)