Warga Binaan Perempuan Membuat Rokok, Tidak Dijual Keluar

magelangekspres 24-03-20 03:30 nasional

MAGELANGEKSPRES.COM,Memanfaatkan waktu luang selama menjalani masa tahanan, warga binaan di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II Temanggung membuat rokok yang berbahan dasar tembakau lokal. Rokok hasil karya warga binaan ini tidak diperjualbelikan di luar, namun khusus untuk dikonsumsi oleh warga binaan. SETYO WUWUH, Temanggung Tidak satupun manusia di dunia ini yang berkeinginan untuk merasakan dinginnya tinggal di balik jeruji penjara. Namun karena harus mempertanggungjawabkan perbuatan dan tindakan yang pernah dilakoni, dengan terpaksa warga binaan rutan harus menetap dan tinggal di tahanan sesuai dengan hukuman yang divoniskan oleh hakim. Sejumlah kegiatan positif pun digagas oleh Rutan Kelas II B Temanggung, selain untuk mengisi luang waktu para warga binaan juga menambah keterampilan. Salah satu kegiatannya yakni melinting rokok secara manual. Rokok hasil produksi mereka akan dijual di koperasi milik rutan dengan harga yang sangat terjangkau. Tidak kita jual ke luar rutan, rokok-rokok ini khusus diperjualbelikan untuk warga binaan kami saja, tidak lebih, kata Kepala Rutan Kelas II B Temanggung, Tri Wahyu Santosa, kemarin. Menurutnya, dengan membuat atau melinting tembakau menjadi rokok ini, setidaknya akan membantu warga binaan. Terutama bagi warga binaan yang langsung terjun membuat dan warga binaan yang sudah terlanjur menjadi perokok. Harganya sangat murah dan terjangkau, tidak seperti rokok-rokok bermerek yang dijual di luar sana, tuturnya. Untuk sementara ini baru warga binaan perempuan yang menjalankan kegiatan ini, dan baru ada tiga yang sudah sangat mahir. Selama sehari yakni mulai dari sekitar pukul 09.00 sampai dengan pukul 15.00 WIB, satu orang warga binaan paling tidak bisa memproduksi 100 batang rokok. Cukup lumayan, peralatan yang digunakan masih manual dengan menggunakan tangan, bahan baku sendiri dengan tembakau lokal Temanggung dan hanya ditambah dengan cengkeh saja. Temanggung kan penghasil tembakau jadi kami manfaatkan bahan baku lokal, tuturnya. Sementara itu Nur Tafia salah satu warga binaan menuturkan, dengan adanya kegiatan ini sangat membantu dirinya selama menjalani masa tahanan. Sebab jika tidak ada kegiatan seperti ini waktu berjalan sangat lama sekali. Jadi ada kegiatan dan kerjaan, tidak bosan dan menambah ilmu, tuturnya. Bersama dua rekan warga binaan lainnya, dalam sehari paling tidak bisa memproduksi 300 batang rokok. Setelah selesai dibuat kemudian dikemas dengan menggunakan plastik dan disetorkan ke koperasi. Kami hanya membuat saja, yang menjual koperasi rutan, setiap hari produksi terus. Berarti kan warga binaan laki-laki banyak yang suka dengan rokok ini, tuturnya. (*)