UM Magelang Gelar Seminar Nasional Filantropi Mendukung SDGs

magelangekspres 15-02-20 04:00 nasional

MAGELANGEKSPRES.COM,MAGELANG SELATAN Belakangan, pengelolaan lembaga zakat oleh swasta di Indonesia berkembang signifikan. Hadirnya lembaga zakat di Indonesia, diharapkan mampu membantu pemerintah Indonesia dalam mencapai tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) bagi pengembangan ekonomi masyarakat. Bermula dari itu Lingkar Studi Ekonomi Islam Prodi Hukum Ekonomi Syariah (HES), Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema Peran Lembaga Filantropi Islam dalam Mendukung SDGs di Indonesia Jumat (14/02) di Aula Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes). Seminar ini diadakan untuk mengetahui peran lembaga filantropi Islam dalam mendukung SDGs di Indonesia, baik dalam sudut pandang pemerintah, swasta, maupun akademik. Rektor UM Magelang Dr Suliswiyadi MAg mengatakan adanya seminar yang menghadirkan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Dompet Dhuafa tersebut diharapkan masyarakat dapat diberdayakan sehingga bisa mengangkat derajat perekonomianya. Baca Juga 900 Perusahaan di Temanggung Nunggak Iuran BPJamsostek Turut hadir, Dr H Rozihan SH MAg yang merupakan Ketua Baznas Provinsi Jawa Tengah. Rozihan membahas mengenai 4 pilar SDGs di antaranya, Pilar Pembangunan Nasional, Pilar Pembangunan Ekonomi, Pilar Pembangunan Lingkungan, dan Pilar Pembangunan Hukum dan Tata Kelola. Zakat itu dipungut atau dihimpun, jadi harus jemput bola bukan dibiarkan. Jadi kalau dihimpun akan menjadi banyak dan lebih mudah dalam penyaluranya, kata Rozihan. Pemateri kedua, yakni Bambang Edi Prasetyo, Ketua Dompet Dhuafa menjelaskan bahwa posisi Dompet Dhuafa itu sama dengan Baznas atau Lembaga Amil Zakat lainya. Tujuannya sebagai penyalur antara muzzaki dengan mustahiq. Menurut Bambang, kategori mustahiq dibagi menjadi 3 yaitu Miskin Haqiqi (kebutuhan hidupnya mengandalkan dari pemberian orang), Miskin Berpotensi (tingkat perekonomianya rendah namun bisa diberdayakan), dan yang terakhir Berpotensi Miskin (tingkat perekonomian sudah menengah ke atas namun bisa berpotensi jatuh miskin hingga kekurangan). Sementara itu materi ketiga, Dr Nurodin Usman LC MA menyampaikan mengenai konsep wakaf produktif yang tingkat kebermanfaatnya akan lebih mengena dalam waktu jangka panjang. Hal ini berbeda dengan wakaf konsumtif, karena bisa dirasakan manfaatnya lebih banyak dan dalam waktu yang lama. Banyak dari orang Indonesia yang mewakafkan sesuatu tanpa menimbang apakah wakaf tersebut produktif atau konsumtif, katanya. (wid)