Satu Lagi Perusahaan Kayu Lapis di Temanggung Bangkrut, Puluhan yang Lain Kolaps

magelangekspres 14-02-20 02:52 nasional

MAGELANGEKSPRES.COM,TEMANGGUNG Pembatasan pembelian kayu oleh negeri Cina berdampak pada perusahaan kayu lapis di Temanggung. Setidaknya hingga pertengahan bulan Febuari ini ada satu perusahaan kayu yang gulung tikar, dan puluhan lebih pabrik pengolahan kayu mulai kolaps. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Temanggung Agus Sarwono mengungkapkan, puluhan perusahaan pengolah kayu tersebut sebelumnya melakukan ekspor ke negeri tirai bambu. Namun seiring dengan adanya pembatasan jumlah kayu yang masuk ke negeri itu maka berakibat pada puluhan pabrik pengolah kayu. Sebelum ada aturan itu semua lancar dan bagus, tapi sekarang kondisinya sudah kolap dan bangkrut, terangnya. Kondisi ini menurut Agus, terjadi sejak sekitar tiga tahun terakhir. Akibatnya ribuan tenaga kerja dari sektor perkayuan terancam kehilangan pekerjaan. Namun demikian saat ini puluhan perusahaan pengolahan kayu tetap berusaha bertahan dengan berbagai upaya. Hampir semua terdampak. Utamanya perusahaan kayu lapis. Semoga saja kondisinya semakin membaik, ujar Agus. Dijelaskan, kondisi terakhir utamanya yang industri perkayuan dengan adanya keterbatasan kuota kayu lapis yang harus masuk ke Cina terus dibatasi. Sedangkan bahan baku yang diperlukan juga harganya semakin mahal karena barangnya memang sudah menipis. Di sisi lain, di sana (Tiongkok) penjualan juga lambat, sehingga banyak perusahaan terdampak, bahkan menjadi kolaps. Sekarang ada perusahaan yang sudah dijual, yakni satu di wilayah Parakan, sudah tidak produksi dan kondisinya sudah mau dilelang bank, dijual. Intinya bahwa mereka sudah tidak mampu berproduksi lagi, ungkap Agus Apalagi saat menjelang perayaan tahun baru Imlek, di mana dua bulan sebelumnya pengiriman kayu lapis sudah mesti libur, karena di sana memang libur. Dampaknya barang-barang kayu lapis di sini mesti tertahan di gudang pelabuhan. Padahal nyewa di gudang pelabuhan juga mahal. Yang bangkrut baru dengar satu, yang lain masih kolaps, hanya tinggal bertahan saja, nunggu investor dari luar, katanya. Agus menyebutkan, perusahaan di Temanggung yang kolaps jumlahnya lebih dari 10 perusahaan. Rata-rata merupakan perusahaan perkayuan. Tiap perusahaan itu mempunyai karyawan yang jumlahnya ribuan. Dari semua perusahaan kayu di daerah itu, yang masih bertahan hanya TKPI di Kecamatan Pringsurat saja. Hal itu karena TKPI memproduksi kayu portable dan ekspornya bukan hanya ke China, tapi ke beberapa negara lain. Sedangkan untuk kayu lapis selama ini hanya ekspor ke Cina. Ribuan karyawan yang terancam pemutusan hubungan kerja (PHK) sudah nunggu waktu saja. Perusahaan yang bangkrut di Parakan sudah tidak ada tenaga kerjanya, semua sudah terkena PHK, kata Agus. Ia berharap, ke depan iklim perusahaan di Temanggung bisa semakin bagus, sehingga berdampak positif terhadap kondisi ekonomi di Temanggung. Jika sektor industri bisa terus berkembang, dampaknya akan sangat bagus bagi perekonomian Temanggung, katanya. (set)