Wagub Jateng Sebut PGOT, Masalah Sosial  yang Tak Kunjung Selesai

magelangekspres 14-01-20 01:47 nasional

MAGELANGEKSPRES.COM,TEMANGGUNG Banyaknya Pengemis, gelandangan, orang gila dan orang terlantar (PGOT) menimbulkan permasalahan sosial yang tak kunjung selesai. Pasalnya mereka selalu berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya. Selain jumlahnya yang banyak, mereka juga berpindah-pindah, sehingga sulit didata dan ditangani. Keberadaan mereka kerap menimbulkan masalah sosial, seperti ada yang hamil, kata Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin, usai meninjau dan meresmikan shelter atau rumah perlindungan sosial (RPS) di Kantor Dinas Sosial Temanggung, Senin (13/1). Dikatakan, shelter di Kabupaten Temanggung ini merupakan bantuan dari provinsi yang dibangun tahun 2019 senilai Rp1,3 miliar. Dan saat ini shelter sudah mulai beroperasi dengan petugas yang siap menangani permasalahan sosial di Temanggung. Kecenderungan anak jalanan itu pindah-pindah. Saat ini yang paling banyak di Kabupaten Rembang. Kita juga pernah kerjasama dengan shelter milik pemerintah yang ada di Magelang untuk menangani ini, cetus Yasin. Baca juga Hujan Deras, Tembok Ponpes Anwarrut Tauhid Temanggung Jebol Diterjang Banjir Kesulitanya, menurut Yasin, anak jalanan kalau sudah diambil, ditempatkan di shelter, mereka kerap lari. Hal itu permasalahan utama dalam penanganan anak jalanan, ujar Yasin. Dijelaskan, mereka menjadi anak jalanan acap kali bukan hanya karena faktor ekonomi. Sepengetahuannya, di antara anak jalanan itu ternyata juga ada yang merupakan anak direktur yang berpenghasilan tinggi. Mereka ini kita tata, bagaimana memberikan edukasi pada pasangan pra nikah, memberikan edukasi, supaya tidak broken home, kita beri bimbingan-bimbingan, katanya. Di Rembang, lanjut Yasin, biasanya anak-anak jalanan menempati pos di hutan-hutan. Jumlah mereka amat banyak, tidak bisa didata, dan selalu berpindah-pindah. Mereka tidak hanya berasal dari Jawa Tengah saja. Adapula yang berasal dari Jawa Barat, mereka biasa lari ke daerah Purwokerto arah Brebes. Selama ini mereka bukan mengganggu keamanan, tapi mengganggu lingkungan, kita melihatnya nggak enak. Banyak juga yang hamil, kata Yasin. Sejauh ini Pemerintah Provinsi Jateng telah menyediakan 11 shelter di 11 kabupaten / kota untuk menampung mereka yang memiliki permasalahan sosial seperti anak jalanan, korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Dari belasan shelter itu, kondisinya rata-rata cukup baik. Namun yang paling layak hanya dua shelter, yakni di Temanggung dan Salatiga. Kita menangani siapapun termasuk korban KDRT. Untuk menangani anak jalanan, kita data, ditanya keluarganya mana, lalu dikembalikan. Karena mayoritas mereka broken home, tidak nyaman di rumah, katanya. Ia berharap, dengan semakin banyaknya dibangun shelter maka permasalahan sosial di Jawa Tengah bisa semakin ditekan. Harapan kami semua kabupaten kota di Jateng ini bisa segera menyusul, harapnya. (set)