FOKUS : Bencana Hidrometeorologi

tribunnews 24-12-19 05:54 olahraga

Oleh Abduh Imanulhaq Wartawan Tribun Jateng MEMASUKI musim hujan, sejumlah bencana hidrometeorologi terjadi di Jawa Tengah. Belakangan ini yang mencolok adalah puting beliung atau hujan angin. Kita tahu, bencana hidrometerologi adalah bencana yang dipengaruhi oleh faktor cuaca. Selain puting beliung, ada pula antara lain banjir, rob, gelombang tinggi, dan tanah longsor. Di Kabupaten Demak, seorang warga meninggal setelah puting beliung menerjang Kecamatan Sayung. Ratusan rumah di Desa Sriwulan itu juga rusak. Puting beliung juga melanda beberapa daerah lain. Ada korban meninggal di Kabupaten Klaten dan Boyolali setelah angin kencang menerpa, satu di antaranya anak-anak yang tertimpa pohon tumbang. Kita jelas berharap bencana ini tak menelan korban lagi. Sehingga tak ada anak-anak yang menjadi yatim-piatu atau orangtua yang kehilangan putra-putrinya. Dari sudut ini, kita bisa menilai betapa pentingnya manajemen pencegahan dan penanggulangan bencana yang paripurna. Dimulai dari pengelolaan risiko, tanggap darurat hingga pemulihan. Terlebih kita tahu, Indonesia memang tak banyak bisa mengelak dari berbagai risiko bencana alam. Posisi geografis negeri kita terletak di ujung pergerakan tiga lempeng dunia, yaitu Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. Tak kurang dari lembaga milik PBB yang fokus pada pengurangan risiko bencana, UN-ISDR, menyatakan Indonesia sebagai negara paling rawan terhadap bencana di dunia. Kita menempati peringkat tertinggi untuk ancaman bahaya tsunami, tanah longsor, dan gunung berapi. Kemudian peringkat tiga untuk ancaman gempa. Selanjutnya posisi keenam untuk banjir. Mengingat predikat tersebut, wajib kiranya kita memiliki manajemen bencana yang mumpuni. Di sisi lain, kemajuan ilmu pengetahuan membuat kita bisa memasang peranti canggih yang bisa mengurangi dampak bencana. Memang sensor dan detektor yang ada tak bisa mencegah musibah. Setidaknya, data-data elektronis itu memberi gambaran mengenai kesiapan yang harus dilakukan dalam mengantisipasi dampaknya. Di Jawa Tengah, ada beberapa daerah yang paling rentan terjadi bencana hidrometeorologi. Kita bisa melihatnya dari sejumlah sumber resmi, di antaranya Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah dari Pusat Vulkanologi. Ada Batang, Temanggung, dan Wonosobo yang sebagian daerahnya tergambar masuk Zona Kerentanan Gerakan Tanah Tinggi. Beberapa daerah lain juga terancam bahaya tanah longsor. Kita berharap data ini makin meningkatkan kewaspadaan warga dan pemerintah daerah. Terlebih Jateng mendapat predikat Supermarket Bencana akibat banyaknya risiko bencana di provinsi ini. Kita acungkan jempol kepada pemerintah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah di provinsi dan kota/kabupaten yang terus bersiaga mengantisipasinya. Program Desa Tangguh Bencana, pemasangan Sistem Peringatan Dini, simulasi dan pelatihan bagi masyarakat adalah ikhtiar untuk meminimalkan atau bahkan menihilkan jumlah korban. Tak boleh dilupakan, kearifan lokal berupa ilmu titen juga amat bermanfaat. Warga bisa menggunakannya berdasarkan pengamatan sehari-hari demi menghindari korban jatuh saat bencana terjadi. (*)