ASN Pemkot Semarang Harus Bijak Bermedsos, Jika Melanggar Bisa Diberhentikan

tribunnews 15-10-19 17:38 nasional

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Maraknya kasus ujaran kebencian yang diutarakan di media sosial akhir-akhir ini menjadi perhatian penuh Badan Kepegawaian, Pendidikan, dan Pelatihan (BKPP) Kota Semarang. Pasalnya, seiring dengan kemajuan teknologi dan informasi yang berkembang, kasus ini dapat menimpa siapa saja, termasuk Aparatur Sipil Negara (ASN). Kepala BKPP Kota Semarang, Litani Satyawati mengimbau ASN di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang untuk bijak dalam bermedia sosial. Jika ASN menyebar ujaran kebencian, BKPP pun akan memberikan sanksi tegas mulai dari sanksi teguran hingga pemberhentian Meski BKPP tidak memiliki pengawas khusus media sosial, gerak-gerik ASN dalam bermedia sosial akan terus terpantau. "Harus bijak bermedsos karena semua orang bisa melihat apa yang dishare. Kalau tidak bijak, jarimu akan menjadi harimaumu sendiri," tegas Litani, Selasa (15/10/2019). Sosialisasi Bus Dilarang Melintas di Kawasan Wisata Karanganyar Dilakukan Hingga Akhir Tahun Ngamar dengan Istri Orang, Kanit Laka Sat Lantas Polres Temanggung Digrebek Sang Istri Ruang Terbuka Hijau Kota Tegal Sesuai KTT Bumi, Dedy Yon : Minimal 30 Persen dari Luas Kota Revitalisasi Alun- Alun Kota Tegal Ditarget Selesai 2020, Ada Air Mancur dan Taman Bunga Warna-warni Dikatakannya, mengutarakan pendapat memang dijamin undang-undang, namun ada payung hukum yang harus dipatuhui oleh ASN Pemkot Semarang, diantaranya ASN harus memegang teguh Ideologi Pancasila dan setia pada UUD 1945. ASN juga harus setia kepada Pemerintahan yang sah, yakni pemerintahan yang dipilih rakyat dan dilantik secara hukum. "Ini harus dipatuhi. Kalau tidak mau patuh jangan jadi ASN," tegasnya. Menurutnya, Pemkot Semarang terus membekali para ASN terkait hal itu. Sebelum para ASN Pemkot Semarang terjun sebagai pelayan masyarakat, pihaknya sudah memberi pembinaan mental. Pembinaan juga dilakukan secara rutin, termasuk di dalamnya selalu mengingatkan terkait ideologi. "Kami punya bidang diklat. Diklat kami berikan mulai dari seseorang diterima CPNS. Dalam diklat kami sampaikan berbagai hal utamanya tentang UU nomor 5/2014 tentang ASN," sebutnya. Litani menandaskan, jika ASN melakukan ujaran kebencian baik di muka umum, secara lisan, tulisan, termasuk di media sosial, artinya mereka tidak setia dan taat terhadap aturan sebagai seorang ASN. Pihaknya pun tak segan untuk melakukan pemanggilan hingga pemberian sanksi jika terbukti melakukan ujaran kebencian. "Termasuk jika menyukai atau mere-tweet ujaran-ujaran kebencian, juga bisa mendapatkan sanksi," imbunya. Berkaitan dengan sanksi, Kabid Kesejahteraan dan Disiplin BKPP Kota Semarang, Arfiana Kusumawardani menjelaskan, ada beberapa kategori sanksi, mulai dari kategori ringan hingga berat. Hukuman ringan meliputi teguran lisan, tertulis dan membuat pernyataan secara tertulis tidak mengulangi hal yang sama. Kemudian, hukuman sedang bisa berupa penundaan kenaikan gaji berkala selama satu tahun, penundaan kenaikan pangkat selama satu tahun, penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama satu tahun. Sedangkan hukuman berat meliputi penurunan pangkat, penurunan jabatan setingkat lebih rendah, bahkan pembebasan jabatan dan pemberhentian. "Hukuman tentu tergantung faktanya sepertu apa. Kami tidak serta merta menghukum, ada prosesnya mulai dari pemanggilan, klarifikasi, hingga pengambilan keputusan hukuman," katanya. Menurutnya, jenis hukuman terhadap ujaran kebencian dilihat dari hasil pemeriksaan. Jika dampaknya hanya dalam lingkup lingkungan kerja, maka akan diberi hukuman ringan. Jika dampaknya menyentuh hingga seluruh lingkungan Pemkot, maka hukuman bisa berupa hukuman sedang. "Kalau ujaran kebencian berdampak pada negara, bisa diberi hukuman berat," imbuhnya. Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Mualim juga meminta baik ASN maupun non ASN di lingkungan Pemkot Semarang untuk dapat menahan diri tidak berkomentar terkait hal-hal yang tidak tahu kebenarannya. "Jangan sampai membuat gaduh lingkungan Pemkot. Saya harap semua bisa menahan diri tidak terpancing hal-hal yang tidak diketahui kebenarannya," katanya. Dia juga meminta sesama rekan kerja untuk saling mengingatkan tidak membuat ujaran kebencian di media sosial. (eyf)