Telusur: Perusahaan Sulit Cari SDM Skill Khusus karena Teknologi Terkini belum Diajarkan di Kampus

tribunnews 08-10-19 05:47 nasional

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Di Jawa Tengah terdapat tingkat pengangguran terbuka didominasi oleh lulusan Diploma mencapai 8,41%, disusul lulusan SMK sebesar 7,94%. Secara absolut pengangguran bertambah sekitar 10 ribu orang. Padahal masih banyak lowongan di perusahaan yang belum terisi. Terutama lowongan kerja dengan skill khusus atau kebutuhan SDM di level manajerial. Sejumlah perusahaan besar di Jawa Tengah mengalami hal itu. Padahal posisi manager di perusahaan-perusahaan tersebut akan diberikan gaji besar, bisa 10 kali lipat dibanding UMK Jawa Tengah tahun 2019. Lantas, kenapa lowongan dengan skill tertentu dan iming-iming gaji besar itu tidak terpenuhi oleh SDM Jawa Tengah? Tribun Jateng menemui pimpinan atau pemilik perusahaan-perusahaan yang mengalami hal tersebut. Sebut saja, PT Cengkeh Zanzibar yang sebagian usahanya berlokasi di Kendal, Kota Semarang dan Kabupaten Semarang. Perusahaan perkebunan yang bergerak di bidang buah-buahan dan cengkeh ini kesulitan mendapatkan SDM dengan keahlian khusus. Direktur Umum SDM PT Cengkeh Zanzibar, Rifi Nurlistyaningrum, menjelaskan segala upaya sudah dilakukan untuk menemukan SDM yang dibutuhkan oleh perusahaan. Bahkan pihaknya sudah melakukan roadshow di beberapa universitas yang memiliki lulusan sarjana pertanian. "Mengajak kerjasama universitas yang memiliki fakultas pertanian atau perkebunan sudah kami lakukan. Membuat pelatihan khusus jangka pendek juga sudah kami lakukan untuk mendapatkan SDM yang tepat. Tapi tetap saja tidak berhasil. Karena rata-rata mereka hanya mendapatkan ilmu pertanian secara umum, bukan yang spesifik," terangnya. Sulitnya mencari SDM yang ahli di pertanian maupun perkebunan diakui Rifi juga karena faktor gengsi mereka. Para sarjana pertanian cenderung memilih bekerja di sektor industri maupun perkantoran karena dianggap lebih bergengsi. "Anggapan mereka bekerja sebagai ahli pertanian disamakan dengan petani. Padahal tidak. Akhirnya kami putuskan untuk membawa konsultan komoditi dari Thailand yang ahli di tanaman lengkeng," beber Rifi. Untuk sementara, mendatangkan ahli dari luar negeri menjadi satu-satunya solusi yang dilakukan PT Cengkeh Zanzibar. Namun dalam waktu dekat, perusahaan perkebunan ini juga akan membuat suatu yayasan pemberdayaan SDM yang ahli di berbagai komoditi. "Namanya Yayasan Ilmu Tani. Sistemnya seperti sekolah. Mengajarkan mereka yang memiliki minat di bidang perkebunan atau pertanian untuk menjadi lebih ahli. Lokasi yayasan ada di Kabupaten Temanggung," katanya. Kesulitan rekrut SDM dengan skill khusus juga dialami PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk unit Grobogan. Industri yang bergerak di bidang produksi pakan ternak ini sulit mencari diploma jurusan peternakan. Head of HRD & GA PT Japfa Comfeed Indonesia, Irwan Sudaryanto, mengatakan selama ini pihaknya sudah bekerjasama dengan seluruh universitas di Jawa Tengah. Namun, mereka lebih banyak lulusan sarjana. "Yang kami butuhkan justru lulusan D3 Peternakan. Kalau S1 ketinggian dan jika SMK kurang. Jadi hambatannya di situ. Namun prinsipnya kami dari jurusan manapun tetap bisa, asal mau ditempatkan di mana saja," terangnya. Untuk menemukan SDM dengan skill khusus, perusahaan ini menyediakan fasilitas pelatihan selama enam bulan. Pelatihan ini yang akan menentukan posisi karyawan di perusahaan tersebut. "Selama enam bulan mereka kami dampingi untuk melakukan beberapa tugas pekerjaan. Setelah akhir masa training, kami akan mengevaluasi kinerja mereka untuk posisi tertentu. Jadi karyawan baru tidak serta merta mendapatkan tugas pekerjaan sepenuhnya," jelas dia. Untuk menemukan karyawan yang unggul, biasanya Irwan akan menyesuaikan antara karakter karyawan dan perusahaan. Terutama yang selaras dengan visi misi perusahaan. "Maka kami akan memberikan pertanyaan apa yang kamu bisa. Prestasi apa yang dimiliki selain nilai akademik. Itu penting bagi kami, karena menjadi nilai tambah ketika perusahaan membutuhkan," tambah Irwan. Kemampuan yang dimaksud Irwan tak harus berhubungan dengan pekerjaan. Sebagai contoh kemampuan olahraga tertentu, musik, event organizer, atau lainnya. "Dengan kemampuan itu, pasti suatu saat akan berguna bagi perusahaan. Mungkin bisa saja membentuk tim olahraga atau misal kami ada acara, mungkin bisa mengajak karyawan yang sudah berpengalaman di EO," ujarnya. Dirinya mengakui, jika beberapa ilmu yang diajarkan di tiap universitas terkadang tidak sejalan dengan kebutuhan perusahaan. Maka, bagaimanapun perusahaan tetap wajib melakukan pelatihan.PT Indofood CBT Sukses Makmur, Tbk juga ada lowongan yang belum terisi, terutama untuk SDM punya keahlian khusus. Arie Sastra Wirawan sebagai HR Manager PT Indofood CBT Sukses Makmur, Tbk mengatakan lowongan untuk level managerial tidak mudah diisi. "Hampir sama juga dengan yang kami rasakan," kata Arie Satra saat ditemui di ruang kerjanya, Jalan Raya Tugu Rejo KM10,2, Tugurejo, Kota Semarang. Kesulitan mengisi lowongan level manager karena sering tidak cocok antara kualitas pekerja lulusan dunia pendidikan dengan kebutuhan industri. "Berdasar pengalaman, lowongan itu tidak terisi karena cepatnya perkembangan dunia industri tidak dibarengi perubahan kurikulum pendidikan," ujarnya. Contohnya, saat ini perkembangan teknologi industri telah menciptakan mesin-mesin canggih. Namun di dunia pendidikan belum diajarkan. Mereka masih mengajarkan mesin-mesin dengan konsep lama yang sebenarnya sudah ditinggalkan pelaku industri. "Gapnya ada di karakter, dunia pendidikan tertinggal dibanding dunia industri. Pembinaan karakter dan potensi seseorang masih kami rasakan kurang," ujarnya. Kondisi tersebut membuat pelaku industri kesulitan mencari SDM yang dianggap sesuai untuk mengisi pekerjaan di perusahaan. Akhirnya banyak perusahaan yang berlomba-lomba mendirikan sekolah sendiri. Tujuannya agar mendapatkan SDM yang sesuai harapan. Arie Sastra Wirawan menambahkan, bahwa Indofood belum mengarah kepada membuat sekolah atau pendidikan sendiri untuk menyiapkan SDM level manajerial. Namun pihaknya memiliki strategi lain yaitu memberikan beasiswa kepada mahasiswa berprestasi. "Di tingkat nasional ada beasiswa Indofood Sukses Makmur. Biasanya diambil untuk mengisi posisi kunci. Modelnya menyasar kampus terkenal di Indonesia nanti mereka setelah seleksi akan mendapatkan pembekalan pendidikan dengan jangka waktu tertentu," jelasnya. Di tingkat lokal, atau perusahaan tempatnya bekerja Arie mengaku ada program MT. Secara teknis prosesnya hampir sama yaitu, menyasar kampus-kampus negeri di Jawa Tengah untuk kemudian diberikan pembekalan pendidikan. "Seleksi di kampus, pengetahuan tentang pendidikan atau kemampuan akademik diabaikan karena sudah masuk menjadi syarat administasi. Seleksi ini lebih untuk menggali potensi seseorang, dicari karakter dan kemampuan managerial," ujarnya. Melalui cara itulah pihaknya mencari pekerja untuk nantinya mengisi posisi kunci di level managerial. Tes tersebut untuk mengetahui kemampuan leadership, atitute, inteligensi. Terkait ketersediaan calon pekerja Arie merasa di Jawa Tengah ini sangat banyak dengan jumlah perguruan tinggi yang juga tersebar dimana-mana. Setelah lolos dan dinyatakan diterima di Indofood yang bersangkutan harus mengikuti proses pendidikan selama satu tahun saat bekerja. Selama jangka waktu tersebut mereka belum diberikan wewenang penuh di posisi kunci, namun ia dipersiapkan untuk nantinya menduduki kursi managerial. (tim)