Pementasan Wayang Sindir Dunia Pendidikan

radarsemarang 26-05-17 11:10 teknologi

DEMAK Pentas wayang bathok wayang rotan yang digabungkan dengan seni teaterikal mampu menarik perhatian para penonton. Seni kontemporer yang dimainkan sejumlah seniman yang tergabung dalam Komunitas Pojok Kidul asal Desa Teluk, Kecamatan Welahan Jepara ini digelar di Perum Griya Prima, Desa Loireng, Onggorowae, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Rabu malam (24/5) kemarin. Para penonton pun tertawa terbahak-bahak melihat aksi kocak pemeran teater yang diselingi humor tersebut. Koordinator Komunitas Pojok Kidul, Jauharudin mengatakan bahwa pentas seni tersebut lebih banyak mengkritisi dunia pendidikan yang kian carut marut. Dengan penyampaian bahasa yang sederhana, tujuan pementasan dapat mengena dan larut dalam benak sanubari penonton. Kami ketahui bahwa sistem pendidikan di Indonesia ini masih belum ada formula yang tepat. Perubahan kurikulum menjadi salah satu indikasi betapa sistem pendidikan selalu berubah. Out put pendidikan juga belum mampu menunjukkan keberhasilan dari sebuah pendidikan sebagaimana yang dicita-citakan tokoh pendidikan kita, Ki Hajar Dewantoro, jelasnya. Salah satu pemeran teater, Wika mengatakan, teater yang dipentaskan menggambarkan kisah gadis bernama Kartinem. Sosok siswi ini memiliki semangat belajar yang tinggi. Selain itu, dengan pembawaan perilaku yang jujur, ia mampu menguasai segala ilmu pengetahuan yang diserapnya di sekolah. Meski begitu, ia terkejut karena ternyata tidak lulus sekolah. Ini hanya karena sikapnya yang kritis dan jujur, justru dimusuhi pihak sekolah. Teater ini menjadi sarana kritik betapa sistem pendidikan hanya mencetak kepintaran manusia saja. Namun, belum memanusiakan manusia yang pembelajar, katanya. Adapun wayang rotan yang dipadu dengan teater menjadi pelengkap pentas tersebut. Sementara itu, Ketua DKD Kabupaten Demak, Arif Sudaryanto, mengatakan, dengan hadirnya pegiat seni dari luar daerah, diharapkan memantik kreativitas masyarakat Kota Demak yang dalam 4 tahun terakhir mengalami kevakuman. Semoga ini memantik serta menjadi titik awal bagi pegiat seni maupun penikmat seni untuk bekarya dan terus berkarya, ujarnya. Pegiat seni Wayang Bathok, Ramatian Sarjono, mengatakan, dunia pewayangan, khususnya wayang kulit memiliki sejarah panjang yang tidak bisa dipisahkan dari Demak. Namun dalam perjalanannya, kesenian wayang cenderung tidak berkembang. Ini sebagai sentilan terhadap para pegiat seni di Demak, sebab wayang yang oleh Sunan Kalijaga menjadi sebuah media penyiaran, kini tidak terlalu berkembang, tuturnya. Karena itulah dipilihnya wayang bathok untuk mengakomodasi cerita yang lebih modern karena sifatanya fleksibel. Selain itu, agar kalangan muda mudah menerima wayang dari cangkang kelapa. Hanya sebagai media untuk menyampaikan sebuah pesan, jadi beragam bentuk wayang seperti dari bathok, rotan, dan kulit bukan menjadi masalah, kata warga kelahiran Temanggung itu. Salah satu pegiat seni di Kabupaten Demak, Sutikno, mengaku prihatin dengan perkembangan seni di Demak yang masih tertinggal dengan daerah tetangga. Namun demikian, Sutikno berjanji akan ada pentas seni serupa. Kami jadikan ini sebagai pelecut semangat, katanya. Sementara itu, inisiator pagelaran seni rupa, Susilo, mengatakan, selain dimeriahkan dengan pementasan wayang bathok dan wayang rotan, sebelumnya diadakan grenengan budaya, pentas teater hingga cinematografi. Sebanyak 41 lukisan karya seniman Demak ditampilkan, katanya. (hib/mg28/ida)