Kirab Budaya Hidupkan Homestay di Kawasan Borobudur

krjogja 24-05-17 10:56 travel

MAGELANG - Poin-poin penting hasil Rakornas II/2017 di Hotel Bidakara, Jakarta, 18-19 Mei lalu terus menggelinding. Menpar Arief Yahya berharap komitmen semua stakrholders baik, Kemendes PDT, Kemen PUPR, Kemenpar, Kemen BUMN, DPP REI dan semua pihak segera running mengimplementasikan Indonesia Incorporated di Rakornas itu. Tahun 2017 ini, ditargetkan terbangun 20.000 homestay dengan konsep go digital di semua lini. Target 2019 terbangun total 100 homestay di tanah air, sehingga kekurangan amenitas untuk proyeksi 20 juta wisman itu bisa ditangani dengan baik. Masyarakat sensiri terlihat semakin antusias mengkoneksi setiap desa wisata, homestay dan kegiatan budaya. Salah satunya bisa dilihat dalam kirab budaya puncak acara 14 Tahun Ruwat Rawat Borobudur. Sepanjang jalan yang dilalui Kirab Budaya ini dari Halaman TIC (Tourism Information Center) Brojonalan menuju halaman Candi Borobudur enuh dengan warga dan wisatawan. Semua ini menunjukkan Kirab Budaya Ruwat Rawat Borobudur telah menjadi promosi yang luar biasa bagi World Cultural Masterpiece, Candi Budha terbesar ini. "Ke depan, kegiatan budaya semacam ini juga harus terus difokuskan untuk mengembangkan kepariwisataan di sekitar Magelang sehingga masyarakat merasakan manfaat langsung dari kegiatan budaya dalam konteks pariwisata," ujar Staf Ahli Menpar Bidang Multikultural Hari Untoro Drajat yang mewakili Menteri Pariwisata Arief Yahya bersama Gubernur Jateng Ganjar Pranowo melepas peserta Kirab Budaya 14 Tahun Ruwat Rawat Borobudur, Minggu (21/5). Borobudur memiliki tidak kurang dari 126 kelompok kesenian tradisional terbukti dari banyaknya peserta Ruwat Rawat Borobudur yang sudah dilaksanakan dari tanggal 9 Maret - 21 Mei 2017. Puncak acara Minggu (21/5) menunjukkan bagaimana antusiasme masyarakat yang semakin meningkat. Hari lebih lanjut menegaskan, modal budaya yang berupa living culture untuk ke depan akan menjadi acara rutin. "Dan sudah saatnya dikembangkan dalam bentuk yang lebih terintegrasi guyub rukun lintas 20 desa di kecamatan Borobudur. Utamanya dalam mengisi kesenian pada pintu gerbang memasuki kawasan Borobudur yaitu di TIC, Tourism Informaton Center, secara rutin. Bisa dilakukan pada setiap minggu ataupun saat tertentu terkait dengan ekspresi budaya juga saat kedatangan wisatawan," tegas Hari Untoro. Ruwat Rawat Borobudur yang telah berlangsung 14 tahun menunjukkan bahwa masyarakat pelaku kesenian di Borobudur telah melakukan pelestarian budaya. Telah "nguri uri" dengan penuh kesadaran bahwa budaya semakin dilestarikan semakin mendatangkan kesejahteraan. Dengan kehadiran pengunjung dari luar kota, kontak lintas budaya berlangsung. Dan saat inilah mulai berkembang wisatawan bukan saja hadir untuk sekedar melihat namun juga ingin tahu dan ingin mendapatkan pengalaman experience dari kunjungannya sebagai wisatawan. Oleh karena komunitas di Borobudur terus berkembang, kebutuhan akan penginapan atau homestay pun akan berkembang. "Jika kesenian berkembang, atraksi kultural bertambah hidup, akan semakin banyak pengunjung yang datang dan tertarik untuk tinggal di rumah-rumah warga. Wisatawan yang tinggal bersama keluarga di lingkungan sekitar Borobudur akan mendapatkan pengalaman kultural yang lebih," tandas Hari. Kirab diisi penampilan penyaji terbaik Festival Kesenian Rakyat Pasedhuluran 2017 , atraksi seni tradisi Brayat Penangkaran. Mereka datang dari sejumlah kota seperti Bandung, Purworejo, Temanggung, Wonosobo. Bahkan ada yang dari luar Jawa yakni dari Kalimantan Timur, Sumatera Barat, dan Bali. Peserta kirab mengenakan pakaian berbagai tarian tradisional. Berbagai tetabuhan tarian mereka bunyikan sepanjang jalur kirab. Para pelaku kirab budaya, antara lain rombongan kesenian tarian Soreng, Kuda Lumping, Jatilan, Kubro Siswo, Topeng Ireng, Lengger, dan pemain sendratari Kidung Karmawibangga. Mereka juga mengusung gunungan cukup besar berisi aneka hasil pertanian di daerah itu. Puncak kirab dilakukan dengan penyalaan lilin perdamaian dan renungan budaya. Ketua Komunitas Warung Info Jagat Cleguk Borobudur Sucoro menegaskan Ruwat-Rawat Borobudur merupakan wujud komitmen bersama masyarakat untuk ikut serta melestarikan warisan budaya dunia tersebut. Dikatakannya, rangkaian kegiatan Ruwat Rawat Borobudur ini untuk mendukung pengembangan destinasi wisata Candi Borobudur dengan kawasannya yang berbasis tradisi budaya. "Butuh sinergi antara masyarakat, pemerintah, dangv pengelola kepariwisataan Candi Borobudur," ujarnya. (*)