Sinyal Merah Kebakaran Hutan

smcetak 19-08-19 00:11 nasional

SEMARANG - Musim kemarau hingga awal Agustus 2019, sudah lebih dari 40 ha hutan dan lahan di Jawa Tengah terbakar. Hal ini menjadi sinyal merah dan perlu upaya serius untuk mencegah kebakaran hutan yang lebih luas. Kawasan hutan dan lahan yang terbakar di Jateng, terdiri atas 35-40 ha lahan hutan di Kawasan Semeru dan ha hutan di Brebes dan Wonogiri. Meski api sudah padam dan untuk sementara kawasan hutan aman, perlu ditelisik penyebab kebakaran. Salah satu penyebabnya, akibat faktor kesalahan/kecerobohan manusia. Kebakaran di kawasan Semeru misalnya, disebabkan oleh orang membakar sedikit ilalang yang akhirnya merembet ke wilayah hutan. Kawasan hutan yang terbakar, terdiri atas hutan di bawah pengelolaan Perhutani, kebun bibit milik Dinas Kehutanan, dan hutan rakyat. Kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Pemprov Jateng Teguh Dwi Paryono menyatakan, pihaknya telah mengantisipasi bahaya kebakaran. Dia tak ingin kebakaran kawasan hutan dan lahan (Karhutla) di Sindoro- Sumbing tahun lalu terulang. Karena itu, sejumlah langkah antisipasi dijalankan. Yang mesti diantisipasi wilayah sabana karena rerumputan mengering dan rawan terbakar. Kami juga mengimbau pada para pendaki untuk berhati-hati saat menyalakan api. Percikan api sedikit saja bisa membakar seluruh hutan, kata Teguh, Minggu (18/8). Pemetaan Rabu (14/8), lanjut Teguh, pihaknya menggelar apel pemantapan kesiapan antisipasi kebakaran hutan. Setiap kantor cabang dinas juga apel kesiapan dan membentuk posko antisipasi kebakaran hutan. Posko pusat di tingkat provinsi ada di Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Apel kesiapan ini untuk memantapkan lagi antisipasi kebakaran hutan, katanya. Pihaknya juga memetakan titik-titik mana saja yang rawan terjadi kebakaran hutan, seperti di Sindoro-Sumbing serta hutan Blora dan Wonogiri. DLHK Pemprov Jateng juga menerjunkan penyuluh kehutanan dan bekerja sama dengan polisi hutan serta masyarakat peduli api di titik-titik rawan kebakaran. Mereka menjadi ujung tombak antisipasi kebakaran hutan di Jawa Tengah. Sementara itu, Polda Jateng akan mengambil langkah tegas kepada siapa saja yang dengan sengaja membakar hutan di Jateng. Para pelaku akan diproses sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. Jika ditemukan pembakar hutan, akan kami proses secara hukum dan aturan yang berlaku, ungkap Kepala Biro Operasi Polda Jateng Kombes Hariyanto. Untuk itu, lanjut dia, pihaknya meminta masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran/ membuat perapian di kawasan hutan. Kami meminta masyarakat atau petani di lereng gunung atau berdekatan dengan hutan, tidak membersihkan atau pembukaan lahan dengan cara membakar. Kami juga meminta para pendaki untuk tidak membuat perapian di kawasan gunung, ujarnya. Hariyanto mengungkapkan, penindakan tegas hingga ke ranah hukum terkait tindakan tersebut pernah diterapkan pihaknya tahun lalu. Penindakan terkait pembakaran hutan dan lahan di Temanggung. Tahun lalu kami menanggani kasus pembakaran hutan di Gunung Sindoro, Temanggung, ungkapnya. Dalam kasus tersebut, pembakar hutan sudah menjalani hukuman sesuai aturan yang berlaku. Hariyanto menambahkan, pembakaran hutan menjadi permasalahan yang harus terus diperhatikan. Karena itu, pihaknya terus berkoordinasi dengan pihak terkait, seperti Perhutani, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan sejumlah sukarelawan untuk memantau dan mengawasi hutan dan lahan milik pemerintah. Koordinasi dilakukan agar pengawasan dan pemantauan atas Gunung Sindoro dan Sumbing yang masuk Temanggung, Magelang, dan Wonosobo bisa ditingkatkan. Sebelumnya, kebakaran hutan terjadi di Gunung Sumbing, Petak 28 RPH, Desa Banyumudal, Sapuran, Wonosobo, Minggu (11/8) malam. Kebakaran hutan juga terjadi di hutan Desa Kedungsono, Kecamagan Bulu, Kabupaten Sukoharjo, Minggu (11/8) pukul 09.00. Terkait kejadian tersebut, Polda Jateng bergerak cepat menyelidiki penyebab kebakaran. Polda Jateng juga langsung menggelar pembinaan dan penyeluhan kepada masyarakat yang beraktivitas di gunung tersebut. Kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya mencegah kebakaran hutan. Kami mengajak warga peduli dan membantu Polhut untuk menjaga kelestarian hutan, ungkap Kasubdit Binsatpam/ Polsus Ditbinmas Polda Jateng AKBPSri Winarsih. Dengan demikian, hutan lebih terawat dan kebakaran hutan bisa ditekan. Hutan sebagai paru-paru dunia sekaligus pengendalian bencana dan penyimpanan air saat kemarau. Karena itu, hutan harus kita jaga bersama, imbaunya. (H81,K44-41)

Berita Terkait