Pendukung Jokowi dan Prabowo di Temanggung Saling Rekonsiliasi Pascapemilu Melalui Lomba Mancing

tribunnews 21-04-19 19:46 nasional

TRIBUNJATENG.COM, TEMANGGUNG - Ratusan warga Dusun Kuncen, Desa Badran, Kecamatan Kranggan Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, menggelar mancing bareng, di sepanjang selokan yang membelah perkampungan itu, Sabtu (20/4/2019) malam. Di sisi selokan dengan latar belakang karikatur Jokowi-Prabowo berpelukan, sebuah panggung mini didirikan untuk menghibur warga yang hadir dengan iringan musik akustik dari 'Sedulur Nada', --grup band akustik yang beranggotakan pemuda-pemudi Kuncen--. "Kami menggelar pesta rakyat, mancing bareng, sebagai ajang rekonsiliasi arus bawah pascapemilu. Kami tak ingin, karena kemarin kita berbeda pilihan lalu menimbulkan perpecahan tak berujung," kata ketua penyelenggara 'Mancing Bareng Kuncen Seduluran' Hudha Sungsang Purwito, kepada Tribun Jateng, di sela-sela acara. Mayat Wanita Tanpa Busana Ditemukan Seorang Pemancing di Bendungan, Giginya Ompong Sebelum acara mancing bareng dimulai, warga diajak menyanyikan lagu kebangsaan 'Indonesia Raya'. Serta lagu dari Kotak 'Tanah Airku' menjadi suguhan tembang hiburan perdana dari 'Sedulur Nada' untuk para mancing mania. "Kami lepas puluhan kilogram ikan lele dan bader, untuk dipancing bersama, sebaga wujud rasa guyub-rukun, seduluran sesama warga," tuturnya. Dikatakan, biaya untuk menggelar pesta rakyat ini juga murni swadaya. Menurutnya, di tengah situasi politik nasional yang memanas, warga berinisiatif membuat acara yang dapat kembali mempererat tali persekawanan. "Warga di sini berbeda-beda pilihan dalam Pemilu kemarin. Baik pilihan presiden, maupun legislatif. Namun, warga tak ingin terpengaruh memanasnya situasi politik nasional, kemarin kita sudah menyalurkan hak pilih dengan damai. Sekarang lupakan pilihan masing-mmasing, jangan putus persabahatan dan seduluran, hanya karena beda gambar dalam coblosan," urainya. Ditambahkan, terdapat beberapa ekor lele yang berukuran cukup besar sebagai 'ikon' yang turut dilepas. Bagi warga yang beruntung mendapat 'ikon' tersebut, berhak membawa pulang doorprize, yang disediakan panitia. "Jangan dilihat besar-kecilnya doorprize, tapi ini wujud kebersamaan warga," tegasnya. Warga yang hadir dalam gelaran ini datang dari lintas afiliasi politik, gender, usia, dan sosial. Tua-muda, anak-remaja, lelaki-perempuan, berbaur dengan hangat. Beberapa ibu yang tampak hadir di lokasi dengan menggendong anaknya, juga menenteng joran. Tak mau kalah dengan para para lelaki yang telah menyiapkan kailnya. Terlebih, itu juga merupakan peringatan 'Hari Kartini' yang jatuh tiap tanggal 21 April. "Kami ibu-ibu warga Kuncen juga tak mau kalah, turut berpartisipasi," tutur seorang wara, Eni Subekti. Ia mengaku senang dan bahagia, tak ada lagi polarisasi di tengah warga terkait pilihan politik masing-masing. Menurutnya, saat ini meski calon yang dijagokan kalah atau menang, warga Kuncen bisa menerima dengan lapang dada. "Pesta demokrasi bukan ajang perpecahan, tapi harusnya sebagai pesta demokrasi yang bisa menyatukan di tengah perbedaan, seperti saat ini," ucapnya. Kepala Dusun Kuncen, Haryanto, yang hadir dalam kesempatan itu, turut menyumbangkan suara, dengan tembang 'Tak Berdaya' yang dinyanyikannya. Ia tampak semringah, melihat warga guyub-rukun, tak terlibat pertikaian meski beda pilihan. "Sudah sewajarnya kitaa hadapi pesta demokrasi dengan sikap dewasa, yang jagonya menang jangan jemawa, pun yang calonnya kalah juga harus lapang dada," tuturnya. Pesta rakyat 'Mancing Bareng Kuncen Seduluran' berlangsung hingga hampir larut malam. Sepanjang gelaran, gelak tawa, riuh canda, mencairkan suasana. Sepulang acara, aura bahagia berbinar di wajah warga. Seulas senyum dan sekeranjang ikan mereka bawa pulang. Sebelum gelaran Pemilu, warga setempat juga sempat mengadakan nonton bareng debat Capres-Cawapres. Kala itu, warga yang telah menjagokan masing-masing calon presiden, juga duduk berdampingan. (yan)