Hujan Ekstrem Masih Mengancam

smcetak 20-03-19 00:55 nasional

SEMARANG - Hujan ekstrem masih akan terjadi di Jawa Tengah, terutama di beberapa wilayah selatan, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Kondisi tersebut dapat memicu banjir dan tanah longsor. Kepala Stasiun Klimatologi Mlati Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, hujan ekstrem masih berpotensi terjadi beberapa hari ke depan. Namun, badai Savannah sudah menjauh yang mengindikasikan hujan ekstrem mulai berkurang dan melemah. Yang perlu diwaspadai adalah daerah selatan-tengah Jateng, termasuk DIY, khususnya di Imogiri, jelasnya, kemarin. Adapun BMKG Jateng menganalisis, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat juga berpotensi terjadi di eks karesidenan Surakarta, setidaknya sampai Rabu (20/3) ini. Kepala Seksi Data dan Informasi, Stasiun Klimatologi Semarang BMKG Jateng Iis Widya Harmoko menyatakan, hujan berpeluang terjadi pada malam hingga dini hari. Selain di Solo Raya, kondisi tersebut berpotensi terjadi di Magelang, Banjarnegara, Temanggung, Purworejo, Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Pekalongan, Pemalang, Batang, dan Kabupaten Kendal. Adapun ketinggian gelombang di Laut Jawa diprediksi mencapai dua meter, sedangkan di perairan selatan Jawa Tengah bisa sampai tiga meter. Sementara itu, banjir di Purworejo kemarin mulai surut. Meski demikian, warga dan tim penanggulangan bencana tetap waspada lantaran cuaca masih mendung dan kerap turun hujan. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purworejo Sutrisno mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di bantaran Sungai Bogowonto, mewaspadai banjir susulan. Sore ini (kemarin petang-Red) pengungsi sudah kembali ke rumah. Tinggal sekitar 50 orang pengungsi di Bapangsari, Kecamatan Bagelen. Genangan air terpantau paling dalam 20 sentimeter di wilayah terparah dekat pengungsian,katanya. Saat ini titik pengungsian dipusatkan di Desa Bapangsari. Dapur umum juga didirikan di sana. Adapun dapur umum di 10 titik pengungsian lain sudah dibubarkan. Petugas dan sukarelawan tetap disiagakan untuk membantu korban membersihkan lingkungan. Kegiatan ekonomi dan pendidikan belum pulih karena banyak fasilitas umum seperti sekolah yang belum bisa digunakan. Sutrisno menambahkan, sampai kemarin belum ada laporan mengenai korban jiwa atau luka serius. Ada yang sakit dan dirawat inap, tetapi sudah pulang,ujarnya. Kondisi kesehatan korban banjir juga dinilai cukup baik lantaran rentang waktu banjir yang tidak begitu lama. Kendati demikian, Sutrisno menyebutkan masyarakat korban banjir saat ini membutuhkan bantuan pokok seperti bahan makanan dan pakaian. Kami sudah menyalurkan bantuan, terutama bahan makanan pokok dan pakaian. Banjir kemarin datangnya tibatiba sehingga banyak orang yang tidak sempat membawa pakaian atau peralatan masak. Untuk fasilitas kesehatan, imbuh Sutrisno, Pemkab Purworejo telah menyiagakan sejumlah fasilitas beserta tenaga kesehatan dan obat-obatan yang diperlukan. Ada pula bantuan alat kesehatan dari kepolisian. Kapolres Purworejo AKBP Indra Kurniawan Mangunsong saat meninjau lokasi banjir di Bagelen mengatakan, pihaknya mengerahkan puluhan personel yang terdiri dari tenaga kesehatan, tenaga evakuasi, dan polisi wanita untuk membantu kegiatan di dapur umum. Kami mengirim satu ambulans dan tim medis di lokasi banjir berikut obatobatan di penampungan Bapangsari, katanya. Di Imogiri, tim SAR bersama Basarnas DIY dan TNI-Polri terus mencari dua korban tanah longsor. Mereka didukung alat berat dan anjing pelacak. Dua warga yang belum ditemukan adalah Eko Supatmi (45) dan Rufi Kusuma Putri (9) yang diduga masih berada di bawah longsoran bukit. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, penyebab longsor di Dusun Panjimatan, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, adalah kondisi batuan di lereng bukit yang rapuh. Namun, selama tidak ada pemicu, wilayah itu aman-aman saja dari ancaman longsor. Kondisi sebaliknya akan terjadi jika ada pemicu seperti hujan deras yang tak henti-henti atau gempa. Kami minta warga sekitar lereng bukit hati-hati dan waspada, terutama saat musim hujan, ujar mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) itu saat meninjau lokasi longsor. Menurut dia, kunci peringatan dini adalah memberitahukan tiga hari sebelumnya atau beberapa jam sebelum terjadi hujan ekstrem, sehingga warga yang berada di daerah rawan longsor dapat segera diungsikan. Cara demikian bisa meminimalkan korban jiwa. Lebih lanjut dia mengatakan, daerah rawan longsor adalah yang berada di bawah lereng terjal. Untuk mengantisipasi bencana, bukit bisa diperkuat dengan tanaman dan mengatur drainase. Ciri tebing rawan longsor adalah lereng-lereng seperti yang ada di Dusun Panjimatan, Imogiri, Piyungan hingga Pundong. Sebab daerah tersebut merupakan perbukitan yang memanjang dari Piyungan, menyambung sampai Parangtritis, katanya menjelaskan. Perbukitan tersebut sangat rawan, karena kemiringannya cukup curam dan terpotong-potong oleh retakan bebatuan. Apalagi sering digoyang gempa sehingga ikatan partikelnya merenggang. (shp,ftp,sgt-19)