Anggotanya Otaki Pembunuhan Pengusaha Temanggung, Kapolda Jateng: Pecat

tribunnews 22-03-19 15:27 nasional

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sanksi berat telah menanti Brigadir Permadi, anggota Polsek Kranggan, Polres Temanggung yang menjadi otak pembunuhan berencana seorang pengusaha tembakau bernama Tjiong Boen Siong (64). Bersama tiga orang lainnya yakni Nurtafia, Indarto dan A, Brigadir Permadi merencanakan pembunuhan korban yang tak lain adalah suami dari kekasihnya, Nurtafia. Nurtafia dan Indarto pun telah ditangkap sementara satu orang pelaku masih buron berinisial A. Kapolda Jateng, Irjen Pol Condro Kirono, mengatakan, total pelaku empat orang dan tiga sudah ditangkap. "Pelaku empat orang, tiga sudah tertangkap. Satu lagi masih DPO," ujar Condro, Jumat (22/3/2019). Menurut Condro, kasus ini merupakan pembunuhan berencana dan para pelaku akan dihukum berat. "Kasus 340 pembunuhan berencana, itu hukumannya berat," katanya. Jendral bintang dua ini menegaskan anggotanya yang terlibat bahkan menjadi otak pembunuhan ini akan mendapat sanksi tegas. Selain pidana umum, Condro menyebut pemecatan dari Polri pun telah menanti. "Ada anggota kami, selain pidana umum ada juga hukuman kode etik. Pecat," tegas Condro. Sebelumnya, kisah asmara antara Brigadir Permadi dan Nurtafia berujung pada pembunuhan berencana terhadap Tjiong Boen Siong (64) seorang pengusaha tembakau di Temanggung. Nurtafia adalah perempuan berusia 30 tahun, yang merupakan istri korban. Sementara, Brigadir Permadi merupakan pria idaman lain (PIL) atau selingkuhan Nurtafia. Sedangkan Indarto dan A merupakan eksekutor di lapangan. "Latar belakang pembunuhan ini adalah asmara." "N (Nurtafia) dan Permadi adalah otak pembunuhannya." "Mereka telah menjalin hubungan khusus selama dua tahun belakangan ini," ucap Kasat Reskrim Polres Temanggung, AKP Dwi Haryadi. Keduanya mula mula bertemu sekitar dua tahun lalu, saat Permadi ingin berbisnis tembakau. Tak hanya soal bisnis, Nurtafia dan Permadi juga menjalin kisah asmara. Bahkan, keduanya berniat melangsungkan pernikahan. Namun, keberadaan Boen Siong dianggap sebagai penghalang. Keduanya pun bersepakat untuk melenyapkan korban, dengan menyewa pembunuh bayaran, Indarto dan A. "Atas aksinya, Indarto dan A mendapat imbalan Rp 20 juta. Uang itu atas pemberian N, yang diambil dari korban," tandasnya. (Muh Radlis)